Eksklusif Ketum IABI Harkunti Pertiwi Rahayu Semua Bangunan di Indonesia Mestinya Tahan Bencana
Kata Ketua Umum Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Ir. Harkunti Pertiwi Rahayu, Ph.D., semua pihak harus sadar kalau Indonesia memiliki potensi bencana yang beragam. (Foto: Bali Dwipa 1AN Photography, DI: Raga VOI)

Bagikan:

Gempa Cianjur  dengan korban yang begitu besar membuat banyak orang terhenyak. Bagi Ketua Umum Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Ir. Harkunti Pertiwi Rahayu, Ph.D., pemerintah dari tingkat pusat sampai tingkat kabupaten / kota harus melakukan evaluasi. Rencana tata ruang wilayah harus berorientasi pada ketahahan bencana seperti gempa. 

***

Menurut Harkunti, gempa Cianjur dengan magnitudo 5,6  masih cukup moderat. Bandingkan dengan gempa Aceh 2004 dengan magnitudo 9,3 dan gempa Bengkulu 2007 dengan magnitudo 8,4. Namun dampak yang ditimbulkan gempa Cianjur begitu dahsyat. Data terakhir yang dihimpun Minggu 27 November dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) jumlah korban tewas 321 orang sedangkan rumah yang rusak lebih dari 20.000 ribu. Belum lagi kerugian materil yang hingga saat ini belum bisa dikalkulasi.

Dalam pengamatan Harkunti Pertiwi Rahayu yang juga dosen di ITB, setidaknya ada dua hal yang membuat gempa Cianjur ini menelan banyak korban. “Pertama  lokasi Cianjur itu di atas endapan vulkanis akibat letusan gunung vulkanis. Kedua pembangunan di daerah ini tidak mempertimbangan rencana tata ruang wilayah yang berorientasi pada keamanan terhadap bencana seperti gempa,” katanya.

Terlepas dari pemerintah yang sudah berkomitmen untuk membangun rumah warga yang rusak akibat gempa. Ia sebagai ilmuwan dan pakar meminta semua pihak untuk belajar dari musibah yang sudah terjadi.  “Mestinya semua bangunan yang dibangun di daerah yang rawan bencana --seperti gempa-- harus dibangun sesuai dengan SNI (Standar Nasional Indonesia) bangunan tahan gempa yang dikeluarkan oleh BSN (Badan Standardisasi Nasional),” ujarnya.

Yang paling penting aturan yang ada ini benar-benar harus diaplikasikan, bukan hanya tertulis di atas kertas saja. “Instansi terkait saat mengeluarkan izin mendirikan bangunan harus memperhatikan hal-hal ini.  SNI yang dikeluarkan Kementerian PU (Pekerjaan Umum) dan BSN harus diadopsi sampai ke tingkat Kabupaten dan Kota sebagai Peraturan Daerah (Perda),” tandasnya kepada Edy Suherli dari VOI yang melakukan wawancara melalui telewicara beberapa waktu lalu. Ia sedang memberikan workshop soal tsunami untuk wilayah Asia - Pasifik di Bali. Inilah petikan selengkapnya.

Ir. Harkunti Pertiwi Rahayu, Ph.D., sebagai Ketua Umum Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) menegaskan gempa itu tidak membunuh. (Foto: Bali Dwipa 1AN Photography, DI: Raga VOI)

Ir. Harkunti Pertiwi Rahayu, Ph.D., sebagai Ketua Umum Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) menegaskan gempa itu tidak membunuh. (Foto: Bali Dwipa 1AN Photography, DI: Raga VOI)

 

Gempa Cianjur dengan magnitudo 5,6 namun dampaknya begitu dahsyat, jumlah korban jiwa dan bangunan / rumah penduduk yang rusak begitu besar, seperti apa analisis Anda?

Bencana gempa bumi yang terjadi di Cianjur sebenarnya dengan dengan skala yang cukup moderat dan kedalaman yang cukup dangkal; 10 km ini menjadi pertanyaan banyak orang,  kok bisa dampaknya sedemikian dahsyat. Lebih dari 268 korban jiwa meninggal (data BNPB Minggu 27/11 321 tewas), lebih dari 20.000 rumah dan bangunan yang rusak.

Ada dua hal yang membuat dampak gempa Cianjur ini demikian dahsyat. Pertama  lokasi Cianjur itu di atas endapan vulkanis akibat letusan gunung vulkanis. Bicara soal tanah endapan shaking-nya menjadi lebih kuat sampai di permukaan. Bangunan-bangunan yang dibangun tanpa  memperhitungkan kekuatan gempa akan runtuh. Begitu juga dengan infrastruktur lainnya seperti perguruan tinggi, rumah sakit yang harusnya menjadi tempat yang aman juga lumpuh. Ada juga masjid, gedung Lembaga Pemasyarakatan dan lain-lain yang juga terdampak. Jadi suasananya porak-poranda akibat gempa ini.

Kedua, yaitu kondisi kegempaan ini tampaknya tidak diperhitungkan dalam rencana tata ruang wilayah. Yang diakomodir justru banjir, tsunami dan tanah longsor. Padahal posisi Cianjur itu tidak jauh dari patahan Cimandiri. Ini yang menarik, tanpa diperhitungkan dalam tata ruang, bagaimana penegakan hukum bahwa bangunan yang dibangun harus memperhatikan aturan yang mengindahkan keselamatan. Kalau hal itu saja tidak dipatuhi, ya akibatnya seperti sekarang ini. Ini yang saya amati mengapa gempa Cianjur ini kerusakannya amat parah.

Jadi bangunan yang ada tidak mengindahkan keamanan terhadap gempa?

Ya,itulah yang terjadi. Ingat gempa itu tidak akan membunuh, yang membunuh itu adalah bangunan yang ada di atas permukaan tanah. Orang bisa tertimpa atau terhimpit bangunan, itu yang membuat mereka meninggal dunia.

Mestinya semua bangunan yang dibangun di daerah yang rawan bencana, seperti gempa harus dibangun sesuai dengan SNI (Standar Nasional Indonesia) bangunan tahan gempa yang dikeluarkan oleh BSN (Badan Standardisasi Nasional). Instansi terkait saat mengeluarkan izin mendirikan bangunan harus memperhatikan hal-hal ini.  SNI yang dikeluarkan Kementerian PU (Pekerjaan Umum) dan BSN harus diadopsi sampai ke tingkat Kabupaten dan Kota sebagai Peraturan Daerah (Perda).

Setelah gempa utama ada gempa susulan, berapa lama biasanya gempa susulan terjadi? 

Pertanyaan berapa lama gempa susulan terjadi sama sulitnya dengan memprediksi gempa akan terjadi di sebuah daerah. Tapi pengertian kita bersama bisa dijelaskan bahwa gempa susulan itu akan berhenti kalau energi yang dikeluarkan sudah mencapai keseimbangan. Jadi kalau ditanya kapan gempa susulan akan berhenti akan sulit menjawabnya. Kita bisa belajar dari gempa sebelumnya, misalnya gempa Aceh 2004 silam yang menyebabkan tsunami. Itu gempa susulannya berbulan-bulan setelah gempa utama. Saat gempa di Palu, berminggu-minggu setelah gempa utama, gempa susulan masih terjadi. Untuk di Cianjur belum ada datanya soal gempa susulan, kita hanya bisa belajar dari sejarah yang sudah terjadi. Yang jelas gempa susulan tidak akan sama dengan gempa utama, besarannya biasanya mengecil dan mengecil hingga akhirnya stabil. Tapi meski turun skalanya harus tetap diwaspadai karena tanah masih tidak stabil.

Gempa susulan itu tak bisa diprediksi, bagaimana seharusnya kita mensikapi hal ini?

Pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan semua pihak harus mengantisipasi gempa susulan. Artinya gempa susulan bisa mengakibatkan bencana lain seperti longsor, longsor yang menimbun daerah aliran sungai bisa menyebabkan banjir ketika di hulu terjadi hujan deras.  Gempa susulan bisa membuat bangunan yang saat gempa utama setengah rusak bisa bertambah rusak. Jadi itu yang harus diwaspadai.

Ketum IABI Ir. Harkunti Pertiwi Rahayu, Ph.D.,  menegaskan gempa bumi sulit diprediksi begitu juga gempa susulan. (Foto: Bali Dwipa 1AN Photography, DI: Raga VOI)

Ketum IABI Ir. Harkunti Pertiwi Rahayu, Ph.D.,  menegaskan gempa bumi sulit diprediksi begitu juga gempa susulan. (Foto: Bali Dwipa 1AN Photography, DI: Raga VOI)

 

Pasca gempa di Yogyakarta pemerintah membangun bangunan seperti kubah yang digunakan oleh orang eksimo, bagaimana Anda melihatnya?

Memang bentuk dome itu bisa  menghilangkan gaya-gaya horizontal yang ada pada bangunan biasa. Tapi  untuk kita negara tropis kayaknya nggak pas ya, untuk di daerah  kutub Utara yang dingin memang pas,  bentuknya seperti itu akan bagus untuk mengantisipasi dinginnya alam. Yang di Jogja kawasan itu orang menyebutnya perumahan Teletubbies. Kalau untuk menginap sehari dua hari mungkin bisa tapi untuk tinggal lama agak repot. Kita biasanya tinggal di rumah dengan ventilasi yang banyak dan cendrung terbuka.

Sebenarnya banyak bangunan leluhur kita yang memiliki kearifan lokal, ini bisa digunakan dan relatif aman terhadap gempa. Dari Aceh sampai Lampung rumah mereka menggunakan atap seng atau sirap yang lebih ringan, bukan genteng yang lebih berat. Mereka punya falsafah: sekali beratapkan tanah cukup saat  di dalam kubur, setelah meninggal. Artinya mereka tak mau beratapkan genteng yang terbuat dari tanah. Ini ada nasihat tersirat kalau kita hubungkan dengan keadaan alam kita yang rawan bencana, bahwa membangun bangunan jangan dengan yang berat-berat.

Saat gempa di Bengkulu tahun 2007 dengan skala 8,4 rumah panggung tradisional masyarakat asli tetap berdiri, sedangkan rumah tembok malah rubuh, bagaimana Anda menilainya?

Ya begitulah kenyataannya. Rumah beton mustinya lebih kuat, kalau dibangun sesuai dengan kaidah yang mengacu kepada kaidah ketahanan terhadap gempa. Jadi bangunan harus bisa mengantisipasi gempa skala tertentu. Banyak yang membangun asal-asalan dan tanpa perencanaan, ini yang mengerikan sekali.

Indonesia itu seperti supermarket bencana; gempa, tsunami, gunung meletus, banjir, longsor, kekeringan, dan lain-lain, bagaimana masyarakat untuk bersikap ketika berdomisili di daerah seperti ini?

Kalau saya melihatnya dari sisi positif,  bukan sebagai supermarket bencana, tapi laboratorium bencana. Nggak ada di dunia ini negara yang bencananya selengkap kita kecuali Jepang. Kita punya segala macam bencana. Tsunami pun ada berbagai macam, ada yang karena aktivitas vulkanis, longsor, dll. Dari sisi bencana geologi dan hidrometeorologi kita itu kaya sekali. Dari sisi positif ini semua adalah laboratorium bencana. Ini adalah kesempatan bagi pendidik, peneliti, perekayasa, ayo manfaatkan laboratorium ini. Jangan sampai orang asing datang dan memanfaatkan ini semua. Hari ini saya sedang ada workshop Wilayah Asia Pasifik masalah tsunami. Mereka belajar siap menghadapi tsunami. Banyak sekali orang asing yang datang ingin belajar, mereka tertarik  sekali.  Fenomena dari satu bencana ke bencana lain itu masing-masing punya keunikan dan itu tak akan ada habisnya. Kita bisa belajar dan menerapkannya di daerah atau negara masing-masing.

Regulasi yang diterapkan pemerintah dengan kondisi Indonesia yang rawan bencana ini seperti apa, sudah mendukung atau belum?

Di level nasional sudah ada UU dan Peraturan Pemerintah, dan peraturan BNPB saya kira itu semua sudah cukup untuk guide line. Tapi di daerah ada otonomi daerah, di daerah inilah yang sering kali tidak mengindahkan aspek kebencanaan dalam pembangunan. Kalau rencana tata ruang wilayah-nya tidak mempertimbangkan aspek kebencanaan; gempa, longsor, banjir, tsunami, dll.  Pembangunananya tidak berorientasi pada upaya mengurangi dampak bencana. Idealnya perencanaan itu berorientasi pada risiko kebencanaan, sehingga semua program mengacu pada pengurangan risiko bencana. Bicara soal pengurangan risiko bencana mulai dari pencegahan. Kalau bencana itu terjadi dampaknya tidak terlalu besar.

Lalu mitigasi baik struktural (kaidah bangunan yang tahan gempa) maupun non struktural (tata ruang). Tapi yang paling penting adalah manusianya. Kalau manusianya tidak responsif terhadap keadaan, mau regulasi sebagus apa pun tidak akan berguna. Masyarakat tidak tidak responsif, masyarakat tidak sadar bencana dan tidak punya budaya sadar pada bencana, akan berbahaya.

Apa yang dimaksud dengan budaya sadar bencana sudah tahu tinggal di kawasan rawan gempa, bangunan sudah dibuat sesuai dengan standar keamanan gempa. Namun aksesoris bangunan dipasang sembarangan. Kalau kita belajar di Jepang, yang diuji itu bukan kekuatan bangunan saja, tapi tata letak aksesoris yang ada di dalam rumah juga. Saat ada gempa rubuhnya lemari, meja dll., ke arah mana jatuhnya, dan seperti apa keamananya terhadap penghuni. Kesadaran masyarakat terhadap bencana harus dibangun.

Seperti apa kesadaran masyarakat Indonesia pada potensi bencana?

Tergantung daerah, untuk daerah yang belum mengalami bencana tapi potensinya cukup tinggi, kesadaran mereka cukup tinggi. Banyak daerah yang sudah pasang rambu soal tsunami. Tetapi di daerah yang lain masih belum ada kesadaran seperti itu.

Bencana tak hanya terjadi karena siklus alam, namun juga ulah tangan manusia, seperti pandangan Anda soal ini?

Bicara bencana memang ada dua sisi, yang memang terjadi karena alam. Dan kedua karena ulah manusia. Orang kadang sesuka hati membuka lahan tanpa  memerhatikan keberlanjutan dengan melakukan penghijauan kembali. Bagaimana keserakahan manusia diperlihatkan dengan dalih pertumbuhan ekonomi namun melupakan kelestarian alam. Lalu soal orang yang dengan berbagai alasan tinggal di bantaran sungai (DAS), kalau sudah banjir semua jadi repot. Saya berharap peran media bisa menyampaikan kepada semua pihak agar mau menjaga kelestarian alam, kalau membuka lahan harus dengan prinsip keberlanjutan dan kelestarian alam.

Apa saja visi dan misi IABI  dalam menjalankan organisasi?

Sebagai organisasi yang beranggotakan para pakar dari berbagai disiplin ilmu,  IABI punya visi membangun dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kebencanaan untuk mengurangi risiko bencana. Sedangkan misinya  turut serta dan berperan aktif dalam pembangunan nasional yang berhubungan dengan kebencanaan. Kemudian  memperjuangkan kepentingan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kebencanaan untuk kepentingan umat manusia. Dan juga menjalin kerjasama dengan pemangku kepentingan baik nasional maupun internasional yang bergerak di bidang kebencanaan. Jadi kami berkolaborasi dengan semua pihak termasuk pemerintah dalam upaya mengantisipasi bencana.

Kami juga bertugas  sebagai pejuang kemanusiaan, artinya kami juga memberi respons saat terjadi bencana, tetapi kita juga berpikir bagaimana mengatasi bencana yang terjadi di depannya agar tidak menjadi lebih buruk. Tenaga ahli kita tidak hanya menemukan dan inovasinya bisa juga menjadi kebijakan. Misalnya teknologi kebencanaan yang dimanfaatkan oleh seluruh komponen dan pemangku kepentingan. Dan sebagai  relawan bencana, artinya rela menyumbangkan ilmu dan pengetahuan demi bangsa dan negara.

 

Harkunti Pertiwi Rahayu, Belajar Kebencanaan hingga ke Negeri Sakura

Ir. Harkunti Pertiwi Rahayu, Ph.D., tergerak untuk mendalami ilmu kebencanaan setelah mengalami pengalaman pribadi. (Foto: Bali Dwipa 1AN Photography, DI: Raga VOI)

Ir. Harkunti Pertiwi Rahayu, Ph.D., tergerak untuk mendalami ilmu kebencanaan setelah mengalami pengalaman pribadi. (Foto: Bali Dwipa 1AN Photography, DI: Raga VOI)

Berawal dari pengalaman pribadi yang begitu membekas, membuat Ir. Harkunti Pertiwi Rahayu, Ph.D., yang juga sebagai Ketua Umum Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) kemudian  tertantang untuk mendalami ilmu kebencanaan. Ia menyelesaikan studi soal kebencanaan hingga ke negeri Sakura. Kini nyaris semua waktunya didedikasikan untuk persoalan kebencanaan.

Ada satu kejadian di tahun 1998 yang benar-benar memicu Harkunti untuk menekuni dunia kebencanaan. “Sebetulnya yang menjadi pemicu itu pada tahun  1998,  saat itu suami saya sedang sekolah ke luar negeri. Saya tinggal di rumah bersama anak yang masih usia 18 bulan dan seorang ART. Saat itu terjadi longsor di komplek perumahan dosen tempat saya tinggal, cukup dahsyat meski rumah saya tidak terdampak. Tetapi jalan menuju rumah kami putus, di situlah saya sempat marah kok bisa terjadi longsor yang tidak diperhitungkan dalam perencanaan pembangunan,” kenang alumni ITB (1986).

Itulah yang menjadi inspirasinya. Bahwa saat akan membangun suatu rumah atau kawasan atau bangunan perlu mempertimbangkan potensi bencana yang akan terjadi agar tidak merugikan banyak orang.

Ia kemudian makin tertarik dengan persoalan kebencanaan. Sampai studi lanjutnya pun di Kochi University Of Technology, Jepang  juga dalam bidang yang sama.

Namun sebelum berangkat ke Jepang Harkunti sudah terlibat dalam sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan kebencanaan. Mulai dari mitigasi bencana sampai membantu korban bencana tsunami di Aceh yang menewaskan ratusan ribu jiwa.

“Saya membuat guide line sekolah yang aman terhadap bencana. Termasuk bagaimana membangun kesiap-siagaan di sekolah saat menghadapi bencana gempa tsunami. Saya menyiapkan tsunami drill pada kota Denpasar. Bagaimana menyiapkan infrastruktur pemerintah, masyarakat, dunia usaha bagaimana perespon kalau ada peringatan dini tsunami,” kata Harkunti yang melakukan pelatihan yang sama untuk kota Cilegon.

 

Gempa dan Tsunami Tokohu

Ir. Harkunti Pertiwi Rahayu, Ph.D., kaget saat kereta Shinkansen yang ditumpanginya berhenti mendadak, ternyata ada gempa Tokoku 2011 yang dahsyat. (Foto: Bali Dwipa 1AN Photography, DI: Raga VOI)

Ir. Harkunti Pertiwi Rahayu, Ph.D., kaget saat kereta Shinkansen yang ditumpanginya berhenti mendadak, ternyata ada gempa Tokoku 2011 yang dahsyat. (Foto: Bali Dwipa 1AN Photography, DI: Raga VOI)

 

Ada satu pengalaman yang tak terlupakan saat ia sedang berada di Jepang untuk menyelesaikan studinya di tahun 2011. “Ketika itu saya dalam perjalanan dengan kereta Shinkansen dari Kochi menuju Tokyo. Keluarga saya jemput di Tokyo, selanjutnya kami akan liburan ke Hokaido,” kata Harkunti Pertiwi Rahayu.

Kira-kira 30 menit sebelum tiba di Tokyo, Shinkansen yang di tumpanginya tiba-tiba berhenti. “Saya kaget bukan main kereta dengan kecepatan tinggi berhenti di antara dua stasiun. Ternyata ada gempa bumi dahsyat yang dikenal dengan gempa Tohoku (magnitudo 8,9) yang diikuti dengan tsunami,” katanya.

Ia melanjutkan, anaknya yang sedang menunggu di Tokyo juga terdampak, makanannya terlempar. “Dia sempat menelpon saya dan meminta arahan. Saya cuma beri instruksi ikuti anak-anak yang berseragam sekolah. Setelah itu sambungan telepon terputus,” katanya.

Ia baru menyadari kalau selama ini dengan apa yang dilakukan dengan tsunami drill dan pelatihan soal kebencanaan lainnya, ia tersadar keluarganya terlupakan. “Dari pelajaran yang saya alami ini kita harus memulai dari keluarga sendiri dulu, baru ke orang lain. Jadi membangun keluarga yang tangguh bencana.  Lalu membangun lingkungan tangguh bencana dan selanjutnya kota tangguh bencana,” ujar Harkunti yang juga sebagai Ketua Working Group Indian Ocean Tsunami Warning Mitigation System.

 

Dukungan Keluarga

Kini nyaris semua hidup Ir. Harkunti Pertiwi Rahayu, Ph.D., didedikasikan untuk literasi dan latihan kebencanaan. (Foto: Bali Dwipa 1AN Photography, DI: Raga VOI)

Kini nyaris semua hidup Ir. Harkunti Pertiwi Rahayu, Ph.D., didedikasikan untuk literasi dan latihan kebencanaan. (Foto: Bali Dwipa 1AN Photography, DI: Raga VOI)

 

Harkunti bersyukur apa yang dilakukannya dalam menimba ilmu kebencanaan dan mengaplikasikannya pada masyarakat mendapat dukungan penuh dari keluarganya. “Keluarga saya memberikan dukungan penuh atas apa yang saya lakukan. Karena pengetahuan dan latihan mengadapi situasi bencana itu amat dibutuhkan sekali,” kata Harkunti yang sering mengajak anaknya saat memberikan pelatihan soal kebencanaan.

Sekarang anak semata wayang Harkunti sudah berkeluarga, giliran cucunya yang selalu teringat pada neneknya saat melihat ada berita tentang bencana. “Kalau melihat berita tentang bencana di televisi  dia langsung memanggil neneknya. Lalu bilang ayo apa yang harus dilakukan,” katanya menirukan pertanyaan cucunya.

Suka menjadi seorang pakar kebencanaan bagi Harkunti saat apa yang ia teliti bisa membantu membuat kebijakan di suatu kota atau daerah. “Jadi hasil penelitian saya itu bisa berdampak jangka panjang karena dia menjadi produk kebijakan. Itu rasanya senang sekali,” katanya.

Dan dukanya saat terjadi bencana seperti di gempa Cianjur, dia terlambat memberi tahu masyarakat tentang apa yang harus dilakukan. “Untuk kejadian gempa Cianjur kami terlambat. Kalau di Palu kami sudah melakukan pelatihan, namun terlambat dieksekusi menjadi kebijakan. Itu juga membuat saya sedih,” akunya.

Kepada semua generasi muda ia memotivasi untuk menekuni dan memanfaatkan potensi kebencanaan. “Saya berharap kepada generasi muda untuk melakukan inovasi dan kreatif dalam membangun Indonesia yang tangguh bencana. Bisa lewat sekolah atau otodidak. Yang senang IT bisa membuat aplikasi transformasi digital. Yang suka bisnis bagaimana membuat makanan yang tahan lama, saat bencana bisa dibagikan kepada para pengungsi. Bagi yang suka arsitek, bagaimana membangun konsep rumah murah tahan bencana dan seterusnya. Jadi banyak sekali peluang yang bisa dibikin dari sini,” kata Harkunti Pertiwi Rahayu menyudahi perbincangan.

 

 

"Ingat! gempa itu tidak akan membunuh, yang membunuh itu adalah bangunan yang ada di atas permukaan tanah. Orang bisa tertimpa atau terhimpit bangunan, itu yang membuat mereka meninggal dunia,"

Harkunti Pertiwi Rahayu

Terkait