Eksklusif, Nicolas Kesuma: Baja adalah Industri Masa Depan   
Menurut Nicolas Kesuma industri baja adalah masa depan, karena baja akan selalu dibutuhkan. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)

Bagikan:

Nyaris semua sektor industri di era sekarang tak lepas dari kebutuhan pada baja. Karena itu kata Nicolas Kesuma, Ketua Umum Asosiasi Roll Former Indonesia (ARFI) ke depan industri baja adalah salah satu sektor yang akan bertahan dan ini akan jadi masa depan. Semua membutuhkan baja dalam ukurannya masing-masing.

***

Baja adalah induk dari semua industri (mother of industry).  Karena semua bidang industri seperti otomotif, industri perobot rumah tangga, elektonika, menggunakan baja sebagai bahan baku. Properti juga menggunakan baja,  seiring dengan berkurangnya penggunaan kayu, asbes dan bahan bangunanan lainnya untuk kebutuhan gedung, perumahan, perkantoran, pergudangan dan sebagainya.

Menurut data yang di-release oleh Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) seperti yang dilansir oleh Bisnis Indonesia, kebutuhan baja di Indonesia tahun 2022 tumbuh 7–8 persen menjadi 16,3 juta ton. Sementara untuk baja ringan menurut Nicolas Kesuma produksi yang bisa mereka lakukan setahun 1 juta ton setiap tahun. Selama masa pandemi produksi menurut 30 sampai 50 persen.

“Ke depan kebutuhan akan baja ini amat besar, barang kita seperti atap metal, rangka baja ringan dan lainnya amat dibutuhkan. Apalagi di masa yang akan datang penggunaan kayu, asbes akan semakin berkurang. Jadi baja itu adalah masa depan. Produk dari bahan baja akan semakin banyak digunakan,” katanya.

Dibandingkan dengan bahan lainnya masih kata Nicolas Kesuma, baja memang lebih sering digunakan karena kuat, harga yang bersaing dengan bersifat recycleable alias bisa didaur ulang. Di sektor roll former atau baja ringan juga demikian. Makin banyak kebutuhan sektor industri, property yang membutuhkan baja ringan. Tak berlebihan kalau dia memperdikisi baja adalah industri masa depan.

Namun industri baja dalam negeri juga menghadapi tantangan dengan masuknya baja impor dari China dan India. Pandemi COVID-19 yang melanda juga menjadi problem sendiri. Apa lagi problem yang dihadapi para produsen baja ringan, yang tergabung dalam ARFI? Inilah perbincangannya dengan Iqbal Irsyad, Edy Suherli, Savic Rabos dan Rifai dari VOI dengan Nicolas Kesuma yang menyambanginya beberapa waktu yang lalu di kantor ARFI, Sunter Jakarta Utara. Inilah petikan selengkapnya.

Tantangan yang dihadapi produsen baja ringan dalam negeri adalah masuknya produk sejenis dari India dan China. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)
Tantangan yang dihadapi produsen baja ringan dalam negeri adalah masuknya produk sejenis dari India dan China. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)

 

Selama masa pandemi COVID-19 yang sudah dua tahun lebih ini, seperti apa pengaruhnya  pada anggota ARFI?

Selama dua tahun menjadi memang ada pro dan kontra. Ada teman-teman anggota ARFI yang usahanya bertumbuh dan ada juga yang sebaliknya. Seperti diketahui tahun 2020 pemerintah membangun fasilitas kesehatan untuk menanggulangi COVID-19 cukup banyak, di RS COVID-19 di Pulau Galang Batam, RS Adam Malik Medan, di Jakarta RS Pertamina Simpruk, dan beberapa fasilitas observasi lainnya di wilayah di Indonesia. Untuk segmen ini amat bertumbuh. Beberapa bagian yang digunakan untuk membangun RS itu berasal dari industri roll former, ada sandwich panel, rangka atap baja ringan, genteng metal, dan lain-lain.

Namun di lain pihak pandemi ini memukul sektor industri yang lain. Ada yang akan melakukan ekspansi jadi tertunda. Pengusaha, pemerintah bahkan dunia bingung menghadapi pandemi ini. Di awal pandemi tahun 2020 kita belum mudah mendapatkan vaksin seperti belakangan ini. Jadi sisi ini terus terang menurun. Developer perumahan juga masih ragu untuk mengembangkan usahanya, mereka masih menunggu kapan pandemi ini akan berakhir.

Bagaimana mensiasati keadaan seperti ini?

Kita harus tetap ikuti peraturan pemerintah yang sudah dikeluarkan yaitu mengacu pada protokol kesehatan baik itu di pabrik maupun di lokasi proyek. Jadi kampanyenya bagaimana menjalankan prokes yang benar. Selanjutnya yang dilakukan vaksinasi bersama.

Langkah pertama yang kita informasikan kepada seluruh anggota agar bisa melakukan vaksinasi bersama. Kita bekerjasama dengan berbagai pihak salah satunya KADIN untuk vaksinasi. Kepada seluruh karyawan kita serukan untuk ikut vaksinasi lengkap. Dengan proskes dan vaksinasi lengkap perusahaan diperbolehkan beroperasi. Dengan adanya produksi bisa sedikit mengurangi beban yang ada, soalnya seluruh dunia terdampak pandemi.

Penurunannya produksi berapa persen untuk di ARFI?

Angkanya cukup  variatif, penurunannya berkisar 30 sampai 50 persen.  Ini memang angka yang lumayan besar. Apalagi untuk teman-teman yang melayani sektor retail seperti toko bangunan, selama pandemi toko bangunan sedikit sekali yang buka. Kalau pun buka jumlah pembelinya berkurang jauh. Soalnya renovasi rumah itu masih bisa ditunda, tidak seperti kebutuhan untuk makanan dan kesehatan. Sekarang saja sudah mulai melandai, kondisinya kian membaik. Semoga keadaan ini makin kondusif sehingga bisa kembali seperti semula.

Kita ambil dari kapasitas produksi rata-rata 1 juta ton. Dari kapasitas normal itu berkurang 50 persen, jadi sekitar 500 ribuan ton. Kita sangat berharap setelah keadaan melandai dan kian kondusif, kondisi ekonomi akan rebound. Semoga kita bisa berpartisipasi, karena semua komponen membutuhkan barang-barang yang kita produksi.

Selama masa pandemi kata Nicolas Kesuma produksi anggota ARFI menurun 30 sampai 50 persen. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)
Selama masa pandemi kata Nicolas Kesuma produksi anggota ARFI menurun 30 sampai 50 persen. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)

 

Di awal 2022 ini seperti apa kondisinya?

Untuk kuarter pertama di Januari, Februari, Maret dan April mulai terjadi kenaikan. Kepercayaan dunia usaha sudah ada untuk kembali bergerak, rencana ekspansi yang dulu tertunda, pelan-pelan akan direalisasikan. Ini pertanda baik untuk bangkitnya ekonomi kita. Semoga kondisinya akan terus membaik.

Keadaan ini saya lihat terjadi setelah vaksinasi berjalan dengan baik. Saya kira pemerintah sudah melakukan yang terbaik dan masyarakat menerima program vaksinasi ini. Dari sini para pelaku bisnis makin yakin untuk melakukan ekspansi bisnisnya. Itu yang bisa mendongkrak volume produksi kita.

Untuk roll former ini bahan bakunya dari dalam negeri atau impor?

Untuk bahan baku yang digunakan 50:50, artinya sebagian sudah bisa dipenuhi dari dalam negeri, dan sisanya masih impor. Teman-teman ARFI akan memprioritaskan pemenuhan kebutuhannya dari dalam negeri, yang tak bisa baru impor.

Jadi peluangnya amat besar untuk sektor baja ini dan juga baja ringan?

Ke depan kebutuhan akan baja ini amat besar, barang yang kita produksi, seperti atap metal, baja ringan dan lainnya amat dibutuhkan. Ke depan penggunaan kayu, asbes akan semakin berkurang. Jadi baja itu adalah masa depan. Produk dari bahan baja akan semakin banyak digunakan. Semua sektor menggunakan baja dalam ukuran dan porsinya masing-masing. Baja juga termasuk yang bisa didaur ulang (recylelable). Baja ringan ke depan akan banyak digunakan, ini adalah salah satu produk yang akan baik di masa yang akan datang. Prediksi saya industri baja dan juga baja ringan ini akan menjadi industri yang dominan untuk masa yang akan datang.

Bagaimana dengan impor bahan baja dari India dan China selama ini, apakah tidak mengancam industri baja lokal?

India dan China memang mengekspor produk baja mereka ke Indonesia. Namun pemerintah melakukan dua barrier untuk melindungi produsen baja dalam negeri. Yaitu dengan pengenaan bea masuk anti-dumping yang bertujuan menetralkan harga barang impor ini dengan baja lokal. Selain itu ada juga barrier SNI, yang dikenakan pemerintah pusat kepada barang-barang yang diimpor. Jadi disamakan standarnya untuk melindungi barang-barang lokal.

Soal harga memang harus diakui produk baja dari China dan India itu lebih murah. Tapi dengan adanya perang Rusia vs Ukraina sekarang harga kembali bergejolak. Jadi harga impor dan produk lokal akan nyaris sama.

Apa lagi kiat yang dilakukan untuk menghadapi baja dari luar yang masuk ke Indonesia?

Kita membuat produk yang customize, bukan mass product. Ini bisa melindungi produsen baja dalam negeri secara tidak langsung. Contohnya baja ringan yang kita jual di pasar itu rata-rata 6 meter, padahal kalau impor tidak bisa sepanjang itu, kontainer itu hanya bisa 5,9 meter panjangnya. Kalau kita masukkan di container kubikasinya jadi tinggi jadi tidak efektif dalam pengiriman. Begitu juga untuk produk atap metal, tidak semua bisa dipenuhi oleh barang yang ukurannya mass product. Pemerintah juga tidak sembarangan membuka keran impor, selama bisa dipenuhi dari dalam negeri akan menggunakan produk dalam negeri.

Sehubungan dengan pemindahan ibu kota negara (IKN), apa yang bisa dilakukan ARFI untuk IKN Nusantara?

Alhamdulillah dan puji Tuhan Bapak Presiden sudah berkemah di titik nol dan melakukan ritual bersama 34 kepala daerah. Semoga ini akan menjadi langkah awal yang baik. Dari kami ARFI sebagai produsen baja ringan siap membantu kebutuhan di sana. Kami siap mendukung program pemerintah di IKN Nusantara.

  

Alam Bawah Laut Bikin Nicolas Kesuma Terpesona

Nicolas Kesuma terpesona dengan keindahan alam bawah laut. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)
Nicolas Kesuma terpesona dengan keindahan alam bawah laut. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)

 

Keindahan alam di bawah laut membuat Nicolas Kesuma terpukau. Sebelum menyelam ia sudah terpesona dengan pemandangan alam yang terpapar di permukaan bumi. Namun setelah menyelam ia amat terpukau dengan keindahan alam bawah laut. Ternyata keindahannya tak kalah menawan dengan objek wisata di permukaan. Inilah yang membuat ia makin ketagihan ingin menjelajahi spot diving (menyelam) lain di seantero bumi pertiwi.

Nicolas memang suka sekali travelling, wilayah Indonesia yang kaya akan keindahan alam menjadi tujuan baginya.  “Saya memang suka travelling, wilayah fokus saya masih di Indonesia terutama Bali dan sekitarnya. Setelah banyak menyelam saya jadi ke spot-spot diving (menyelam) yang tersebar di berbagai wilayah hingga sampai ke Raja Ampat,” kata Dirut PT Alsun Suksesindo ini.

Ia amat mendukung program pemerintah menggalakkan wisata di pelosok Nusantara. “Kekayaan wisata di Indonesia itu amat banyak dan jenisnya beragam,  itu adalah harta karun Indonesia. Kita harus kita menjaganya bersama. Wisata alam Indonesia itu sangat natural. Jadi saya dukung program Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk memajukan wisata di Indonesia. Ayo kita jelajahi kekayaan alam dan wisata nusantara,” katanya.

Soal dirinya yang mencintai alam bawah laut menurut Nicolas memang terjadi dalam proses panjang. “Kita ini 24 jam di darat, saat bisa menyelam di bawah laut itu adalah kesempatan yang tak boleh dilewatkan. Dan setelah kita menyelam  memang sangat extra ordinary, sangat luar biasa pemandangannya. Warna-warna dan jenis flora dan fauna di dasar laut itu amat beragam. Ikan-ikan dan fauna laut lainnya yang berenang di sela-sela tumbuhan dan karang, adalah pemandangan yang amat menakjubkan. Dan kalau sudah menyelam sekali, dijamin ketagihan ingin lagi dan lagi. Apalagi kalau sudah sampai ke daerah Raja Ampat yang spot-spot diving-nya seperti surga,” ungkapnya.

target selanjutnya yang akan didatangi Nicolas Kesuma  adalah spot diving di perairan Banda Neira. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)
Target selanjutnya yang akan didatangi Nicolas Kesuma adalah spot diving di perairan Banda Neira. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)

 

Selama pandemi COVID-19 aktivitas diving Nicolas sempat terhenti. Kini dia mulai menyelam lagi. Selain Raja Ampat daerah mana lagi yang akan dikunjungi? “Kalau saya mungkin saya ingin sekali ke daerah Banda Neira. Di lautan Banda itu kabarnya spot diving-nya tidak kalah indah dengan Raja Ampat. Penasaran banget ingin menjelajah di sana. Saya tinggal mencari waktu yang pas untuk menuju ke sana. Apalagi sekarang penerbangan sudah tak seketat sebelumnya,” katanya.

Menurut Nico sebelum menyelam harus dengan persiapan yang prima. Mulai dari lisensi diving dan kesiapan fisik. Dan kalau sudah di bawah laut harus disiplin. Saat waktunya sudah selesai harus naik, tak boleh abai apa pun alasannya. “Di bawa laut itu memang membuat kita terlena dengan kindahan alamnya, namun saat sudah selesai waktunya kita harus naik,” katanya.

Selain menyelam, Nicolas juga bermain golf dan menggemari olahraga menembak.  “Saya memang suka dengan aktivitas outdoor. Bisa langsung terpapar sinar matahari. Buat saya itu lebih menarik dan bisa bikin refresh. Melepas kepenatan setelah sepekan berkutat dengan kesibukan di kantor dan organisasi,” katanya.

 

Komunikasi

Meski disibukkan dengan beragam kegiatan Nicolas Kesuma harus menyisihkan waktu untuk keluarga, anak dan istri. “Di era sekarang ini pertemuan fisik itu amat kurang, tetapi itu tetap penting dan harus dilakukan. Namun saat keadaan tidak memungkinkan, kita harus mengoptimalkan alat komunikasi. Sekarang kan alat komunikasi makin canggih. Perangkat telekomunikasi yang kita miliki bisa digunakan untuk komunikasi. Lewat telepon genggam kita bisa tetap terhubung dengan anak dan istri,” katanya.

Menurut Nicolas Kesuma komunikasi adalah kunci menjaga keharmonisan hubungan dengan anggota keluarga. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)
Menurut Nicolas Kesuma komunikasi adalah kunci menjaga keharmonisan hubungan dengan anggota keluarga. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)

 

Bagi Nicolas tidak ada alasan untuk tidak berkomunikasi. Soalnya komunikasi adalah kunci dari hubungan dalam keluarga. “Saling menyapa dengan anggota keluarga itu mudah, tapi itu akan bermakna kalau dilakukan dengan sepenuh hati,” katanya.

Untuk akhir pekan, sedapat mungkin kata Nicolas dia mengajak serta keluarga dalam aktivitas travelling yang dilakukan. “Sabtu dan Minggu itu adalah waktu untuk keluarga. Saya akan mencurahkan perhatian maksimalkan untuk anak dan istri. Kalau memungkinkan saat jalan-jalan mereka saya ajak,” lanjutnya.

Lewat komunikasi yang intens kita bisa tahu anak-anak kita berhubungan dengan siapa, di mana tempat dia beraktivitas dan seterusnya. Ia amat prihatin saat ini banyak anak-anak yang kurang perhatian orang tua dan akhirnya mencari perhatian pada orang yang tidak tepat. “Salah gaul itu akibatnya fatal, mereka bisa terjerumus pada hal-hal yang tak terpuji,” katanya.

Dia berpesan kepada anak-anak muda Indonesia untuk berhati-hati agar tidak terjerumus pada  narkoba. “Narkoba itu harus dijauhi. Sekali terjerat sulit untuk lepas. Jangan pernah  coba-coba untuk narkoba, apa pun alasannya,” tegasnya.

Anak muda, kata harus benar-benar memanfaatkan waktu untuk kegiatan yang produktif dan bermanfaat. “Selain sekolah, ikutlah kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai dengan minat. Anak mudah harus berani mencoba, jangan takut gagal. Gagal itu hal biasa dalam setiap upaya. Jadi tetap mencoba dan tetap semangat,” tandas Nicolas Kesuma.

 

“Ke depan penggunaan kayu, asbes akan semakin berkurang. Jadi baja adalah masa depan. Produk dari bahan baja akan semakin banyak digunakan. Semua sektor menggunakan baja dalam ukuran dan porsinya masing-masing. Baja juga termasuk materi yang bisa didaur ulang (recylelable).”

 

Nicolas Kesuma