Eksklusif, Laksana Tri Handoko Jamin Periset BRIN Independen Meski Dewan Pengarahnya Megawati Soekarnoputri   
Laksana Tri Handoko. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Bagikan:

Aktivitas riset harusnya terbebas dari pengaruh politik atau insan politik. Namun pada kenyataanya BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) justru Ketua Dewan Pengarahnya adalah Megawati Soekarnoputri yang juga sebagai Ketua Umum partai politik (PDI Perjuangan). Kepala BRIN Dr. Laksana Tri Handoko, M.Sc., menjamin jika periset di lingkungan BRIN tetap independen dalam berkerja. Posisi Ketua Dewan Pengarah, kata dia hanya ex-officio.

***

Setidaknya ada dua hal yang membuat BRIN menjadi topik pemberitaan berbagai media baik cetak maupun elektronik belakangan. Pertama soal likuidasi Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman yang kini dibawa naungan BRIN. Dan kedua soal independensi lembaga ini yang masih dipertanyakan karena Ketua Dewan Pengarahnya adalah seorang ketua umum partai politik besar di Indonesia. Kedua hal ini dijawab dengan lugas dan tuntas oleh Laksana Tri Handoko yang dulu sempat menjadi Kepala Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI).

Soal independensi BRIN dan juga para periset yang bernaung di bawahnya, menurut Handoko, ia menjamin hal itu.  “Ketua Dewan Pengarah kita yang kebetulan dijabat oleh  Ibu Megawati Soekarnoputri adalah jabatan ex-officio Ketua Dewan Pengarah BPIP (Badan Pembina Idiologi Pancasila). Bunyi regulasinya begitu,  untuk memastikan riset dan inovasi yang diselenggarakan di Indonesia tetap berlandaskan idiologi Pancasila,” katanya.  “Dalam urusan riset kami tetap independen,” tandasnya.

Sedangkan heboh soal LBM Eijkman yang dilikuidasi, menurutnya yang dilakukan justru pelembagaan lebih kuat dan memberikan jaminan bagi peneliti yang ada di sana. “BRIN mengintegrasikan begitu banyak unit riset, Eijkman menjadi salah satunya. Kita tidak menghapuskan, justru melembagakannya menjadi Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman. Sehingga ada kepastian hukum atas status para periset di dalamnya,” katanya.

Lewat pelembagaan ini, lanjut Handoko, peneliti bisa meningkatkan karier dan mendapatkan yang lebih baik. “Selama ini mereka diberlakukan sebagai tenaga administrasi dari sisi status dan hak finansialnya. Dengan pelembagaan ini mereka bisa menjadi pejabat fungsional peneliti, sehingga bisa mendapatkan hak-hak yang formal. Kami menawarkan studi lanjut untuk para periset di sana dan peningkatan kualifikasi. Tapi kita tidak bisa memaksa kalau ada yang punya pilihal lain,” tukasnya kepada Edy Suherli, Savic Rabos dan Rifai yang menemuinya di Kantor BRIN, bilangan Thamrin, Jakarta Pusat belum berselang. Ia juga berbicara soal progres riset vaksin merah putih dan bagaimana meningkatkan iklim dan ekosistem riset di Indonesia yang masih belum ideal. Inilah petikan selengkapnya.

Laksana Tri Handoko. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Laksana Tri Handoko. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Bagaimana iklim riset di Indonesia menurut pengamatan Anda belakangan ini?

Secara umum iklim dan ekosistem riset serta inovasi di Indonesia itu belum ideal. Itu karena  periset kita masih dihadapkan dengan berbagai keterbatasan. Baik keterbatasan  SDM; teman-teman yang punya kepakaran yang sama, keterbatasan infrastruktur riset; sarana dan prasarana dan keterbatasan anggaran.

Untuk riset di BRIN apakah ada fokus pada bidang tertentu, misalnya   IT (Information Teknology) dan AI (Artifisial Inteligen), biologi, Fisika dan lain sebagainya?

Dengan adanya BRIN kita bisa masuk ke semua  bidang riset. Tetapi yang menjadi kunci adalah BRIN bisa memperbaiki ekosistem riset dan inovasi yang tadinya belum ideal. Kita fokusnya untuk memperbaiki  SDM dan infrastruktur. Atau kalau belum ada bagaimana supaya infrastruktur itu ada, dan bisa diakses oleh banyak orang, karena kita tidak mungkin memberi infrasturktur ke setiap orang. Tentu ada juga skema-skema pendanaan yang lebih memfasilitasi dan memudahkan.

IT saat ini menjadi 'raja’, banyak orang terkaya yang punya latar belakang IT, sebut saja  Bill Gates, Mark Zuckerberg, Sergey Brin dan lain sebagainya, bagaimana dengan Indonesia?

Kalau kita lihat Gojek yang dimotori Mas Nadiem Makarim saya kira itu suatu terobosan yang luar biasa. Dan apa yang dilakukannya itu sesuatu yang punya punya nilai kebaruan, inovasi, yang tidak hanya untuk lingkup Indonesia, sekarang juga ditiru di banyak negara. Apalagi di tengah pandemi sekarang ini.

Kita memperbaiki sistem riset dan inovasi itu tidak sekedar untuk menciptakan orang-orang seperti itu. Yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana membuat sebanyak mungkin orang bisa masuk ke ranah riset. Menurut saya riset itu bukan eksklusif ilmuwan, setiap orang sejatinya bisa jadi periset. Sebenarnya semakin banyak orang yang masuk menjadi periset,  kita bisa berharap semakin banyak inovasi yang muncul. Jadi kita tidak boleh gagal fokus, kalau kita fokus ke produk nanti jadinya instan, dan kalau instan akan  jangka pendek strateginya. Kita harus memperbaiki ekosistem riset dan inovasi kita.

Bicara soal pendanaan riset yang masih terbatas, seperti apa mensiasati hal ini?

Dana riset kita sebenarnya tidak minim ya, kalau ditotal besar jumlahnya. Tetapi karena diecer ke banyak tempat, jadi dana yang tersebar kecil-kecil. Dan riset itu yang utama bukan pendanaan, yang paling utama itu SDM dan infrastruktur. Kalau SDM dan infrastrukturnya baik kita bisa menarik pendanaan dari luar. Jadi fokus kita bukan di anggaran, meski anggaran juga perlu. Tetapi anggaran bukan segalanya. Bisa bekerjasama dan berkolaborasi dengan mitra kerja, dengan industri yang akan mendukung riset.

Laksana Tri Handoko. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Laksana Tri Handoko. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Selama ini kerjasama dengan pihak mana yang sudah terealisasi?

Salah satu contoh itu yang baru mendapatkan izin edar reguler dari alat deteksi untuk SARS-CoV-2 yang basic-nya bukan PCR, tetapi artilam. Jadi biayanya bisa lebih murah. Ini kita bekerjasama dengan industri. Untuk proyek ini bahan semuanya dari pihak industri, kita menyediakan SDM dan infrastrukur risetnya. Jadi begitu ada SDM dan infrastruktur kita bisa melakukan apa saja.

Dalam suasana pandemi COVID-19 ini ada penelitian soal vaksin merah-putih dan juga vaksin Nusantara yang dikembangkan Prof Terawan Agus Putranto, bagaimana dengan riset ini?

Untuk vaksin merah-putih memang menjadi tanggungjawab BRIN. Sejak awal 2020, waktu itu masih di bawa  Kemenristekdikti dan sekarang menjadi BRIN. Dan ada tujuh tim yang bekerja untuk itu dengan berbagai platform yang berbeda. Kami tetap memberikan dukungan untuk penuntasan riset ini.

Untuk vaksin Nusantara berbeda, dia tidak bawah tanggungjawab kami. Dia masuk di rumah sakit, karena itu adalah riset yang berbasis pelayanan.  Jadi itu di luar tanggungjawab kami di BRIN.

Vaksin merah-putih kapan bisa siap?

Kalau kami berharap secepatnya dan teman-teman periset kita juga berharap demikian. Tetapi yang perlu saya sampaikan membuat vaksin itu tidak mudah. Dan yang kedua juga selama ini belum pernah ada tim periset Indonesia yang pernah dan punya pengalaman membuat vaksin. Itu publik perlu diketahui. Sehingga  target itu jauh lebih penting dan untuk negara kita itu adalah bagaimana kita menciptakan kapasitas dan kemampuan untuk riset. Selama ini kita tidak punya pengalaman dalam bidang ini.

Apakah vaksin merah-putih akan selalu berhasil atau tidak? Kita harus mengikuti semua prosesnya, karena riset itu begitu. Kita tidak bisa menjanjikan. Vaksin yang lain pun sama.  Vaksin yang sekarang sudah beredar di masyarakat pun nanti bisa diketahui misalnya khasiatnya kurang baik dibandingkan dengan vaksin yang lain. Soalnya semua yang ada sekarang masih mendapat izin edar darurat (dari BPOM). Sehingga kehadiran vaksin merah-putih apakah dia datang belakangan itu tidak menjadi masalah.

Jadi kita  harus siap dan menyiapkan vaksin, bukan hanya vaksin COVID-19 ini saja. Ke depan kita membutuhkan vaksin yang beragam, kita butuh vaksin hepatitis dan sebagainya. Soalnya selama ini kita masih pakai lisensi dari luar negeri. Itu yang menjadi fokus kita dan menjadi pembelajaran bagi kami di manajemen BRIN dan juga para periset. Kita harus punya kapasitas dan kompetensi itu.

Untuk vaksin merah-putih ini prosesnya sudah sampai mana, uji klinisnya sudah tahap berapa?

Yang paling maju itu (dari ketujuh tim yang ada) adalah tim Unair yang platform-nya inactivated virus, sudah akan masuk pada uji klinis fase satu. Jadi kita tunggu saja persetujuan dari BPOM. Jadi tidak bisa memburu-buru agar cepat selesai. Semua harus dilakukan sesuai dengan proses dan tahapan yang seharusnya. Selain itu kita juga harus memastikan keamanan dan khasiat atau efikasi vaksin itu. Pekerjaan ini tidak bisa ditarget-target. Semua pengen cepat tapi kalau belum bisa ya harus dikerjakan. Diulang dan diulang lagi, itulah riset, tidak bisa instan.

Apa saja kendala riset vaksin merah putih ini?

Kendala terbesar kita belum punya tim yang berpengalaman, itu nomor satu. Yang kedua kita memang terkendala dengan infrastruktur. Infrastruktur yang kita miliki selama ini untuk produksi vaksin, yang ada di industri kita seperti di Bio Farma dan yang lainnya. Untuk peralatan produksi skala terbatas, untuk uji pra-klinik, uji klinik belum ada, belum lagi alat-alat  untuk optimalisasi, untuk pemurnian kita belum ada. Itu yang sekarang sedang kami upayakan percepatannya.

Jadi kita memang masih harus bersabar menanti vaksin merah-putih ini?

Oh ya, kami tidak bisa mengumumkan kalau kita akan siap bulan berapa sementara prosesnya masih berlangsung. Kalau saya melakukan itu nanti periset saya akan terdorong untuk manipulatif, dan itu sangat berbahaya. Mereka harus melakukan semuanya sesuai dengan tahapan dan prosedur yang benar. Tugas saya memfasilitasi periset untuk bisa menyelesaikan tugasnya menghasilkan vaksin dengan efikasi yang memadai. Fokusnya ke sana bukan kapan jadinya. Banyak negara maju, mereka belum juga berhasil punya vaksin, seperti  Jepang, Jerman, Perancis dan lain-lain. Meski itu bukan pembenaran untuk berlambat-lambat. Kiat berupaya keras di tengah keterbatasan yang ada.

Baru-baru ini Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman dilikuidasi, selanjutnya dikemanakan para peneliti di sana dan apa peran mereka selanjutnya?

BRIN mengintegrasikan begitu banyak unit riset, Eijkman menjadi salah satunya. Kita tidak menghapuskan, justru kami melembagakan menjadi Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman. Sehingga ada kepastian hukum atas status para periset di dalamnya. Selama ini tidak bisa, mereka diberlakukan sebagai tenaga administrasi dari sisi status dan hak finansialnya. Dengan pelembagaan ini mereka bisa menjadi pejabat fungsional peneliti yang formal, sehingga bisa mendapatkan hak-hak yang formal. Kami menawarkan studi lanjut untuk para periset di sana dan peningkatan kualifikasi. Tapi kita tidak bisa memaksa kalau ada yang punya pilihal lain.

Dewan Pengarah BRIN ini adalah Megawati Soekarnoputri yang kita tahu dia adalah Ketua PDIP, bagaimana Anda menjelaskan kalau BRIN akan tetap independen?

Ketua Dewan Pengarah kita yang kebetulan dijabat oleh  Ibu Megawati Soekarnoputri adalah jabatan ex-officio Ketua Dewan Pengarah BPIP (Badan Pembina Idiologi Pancasila). Bunyi regulasinya begitu,  untuk memastikan riset dan inovasi yang di selenggarakan di Indonesia tetap berlandaskan idiologi Pancasila. Di undang-undangnya begitu terjemahannya. Jadi bukan Ibu Megawatinya, karena dia ex-officio. Kalau nanti ganti ya diganti juga, sebenarnya tidak ada problem.

Orang berpikir akan ada intervensi pada periset, itu tidak mungkin. Integritas periset itu kan ada di periset itu sendiri. Buktinya ada banyak periset BRIN yang juga melakukan kritik dan menulis di media massa. Bayangkan mereka mengkritik BRIN, padahal dia ada dalam institusi yang sama. Itu artinya apa, tidak ada intervensi pada mereka.

Jadi BRIN tetap independen meskipun Dewan Pengarahnya Megawati Soekarnoputri?

Ya pasti itu. Kalau BRIN ini kan lembaga pemerintah, di atasnya ada presiden. Semuanya di bawah naungan presiden.

Apa lagi yang akan dilakukan BRIN?

Setelah kita mengkonsolidasikan sumber daya yang ada, kita sekarang menjadi mampu melakukan banyak hal yang sebelumnya tak bisa dilakukan. Kami sudah membuka berbagai skema pendanaan dan fasilitas perkembangan SDM yang dulu belum pernah ada karena tak mampu dilakukan. Contoh bisa berbagi  infrastuktur riset untuk semua pihak. Dulu boro-boro memfasilitasi orang lain, untuk diri sendiri saja kurang. Ada hibah pembiayaan untuk uji klinis.

Jadi periset dari luar bisa mengajukan proposal ke BRIN?

Sekarang sistemnya terbuka dan kompetisi. Semua bisa mengajukan proposal penelitian, bukan hanya periset BRIN saja. Periset BRIN harus berkompetisi untuk mendapatkan pendanaan yang ada. Kita ingin membuat iklim dan ekosistem riset yang lebih baik dari sebelumnya.

Idealnya bibit periset itu dari SMA atau mahasiswa?

Mulainya dari mahasiswa S1. Kalau SMA masih terlalu dini. Kita adalah koordinator dan eksekutor untuk program talenta nasional untuk riset. Dari jenjang S1, S2, dan S3. Kita juga mendistribusikan periset ke kampus. Dan ada juga program untuk para diaspora yang ingin kembali ke tanah air. Terbuka kesempatan untuk mereka seluas-luasnya. Dengan catatan harus memiliki kualifikasi dan standar BRIN. Kami menyediakan fasilitas untuk mereka agar punya ‘mainan’ di sini. Tahun lalu kita membuka 325 posisi untuk persiet. Dan tahun ini kita membuka untuk 500 periset.

Jadi pastikan riset dan inovasi di Indonesia itu sangat menjanjikan, karena  Indonesia itu punya local competitivness yang  luar biasa. Kita harus memanfaatkan SDM kita. Kami dari BRIN mengundang talenta unggul Indonesia untuk bergabung menjadi periset atau menjadi entrepreneur yang berbasis riset. 

 

Laksana Tri Handoko, Fisikawan yang Gemar Bertukang dan Berkebun

Laksana Tri Handoko. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Laksana Tri Handoko. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk keluar dari rutinitas harian yang membosankan. Bagi seorang fisikawan seperti Dr. Laksana Tri Handoko, M.Sc., bertukang dan berkebun adalah dua aktivitas yang bisa membuatnya sejenak keluar dari rutinitas. Kalau sudah bertukang atau berkebun, dia bisa lupa urusan lainnya. Dia benar-benar fokus sampai perkakas yang dia buat selesai, atau tanaman yang ditanamnya tumbuh dengan baik.

Meski kini dia mengaku kurang olahraga-nya tapi dengan hobi bertukang dan berkebun ini membuat badannya juga bergerak seperti berolahraga. “Saya memang bukan olahragawan, tapi suka olahraga, sekarang waktu untuk olahraga sudah banyak berkurang. Tapi saya memang punya hobi yang lumayan menguras keringat dengan bertukang dan berkebun,” katanya.

Kegiatan ini, diakui Handoko, begitu dia biasa disapa, sukses membuat dia larut dengan kesibukan yang biasanya dilakukan di akhir pekan atau waktu libur. Selain itu kegiatan ini yang yang menguras tenaga dan keringat. Jadi bisa menjadi pengganti olahraga juga. “Soalnya kalau sudah mengerjakan suatu, seluruh tubuh bisa berkeringat. Ya bisa seperti olahraga, bahkan menurut saya lebih,” kata pria kelahiran Malang, 7 Mei 1968 ini.

Bagaimana ceritanya kok suka dengan pertukangan dan berkebun? “Sejak kecil di rumah sudah biasa dengan kegiatan itu. Jadi instalasi listrik, instalasi air dan pertukangan saya bisa lakukan sendiri. Bikin perabot rumah tangga seperti meja, kursi, almari dan lain-lain yang ada di rumah semua saya kerjakan,” kata Handoko yang autodidak belajar pertukangan.

Semangat untuk belajar mandiri itu lanjutnya, di era sekarang justru terfasilitasi dengan adanya berbagai macam tutorial dan teknik pertukangan baru yang banyak dibuat para konten kreator. “Sekarang enak sekali, ada teknik atau tutorial dalam membuat sesuatu yang bisa ditemukan di channel Youtube. Kita tinggal meniru dan mengaplikasikannya saja di rumah. Jadi sekarang jauh lebih menarik,” lanjutnya.

Asal tahu saja semua perabotan rumah yang didiaminya kini di bilangan Depok, Jawa Barat, semua dia yang bikin. Mulai dari kursi, meja, almari, rak sepatu dan sebagainya. “Semua perabotan yang ada di rumah saya bikin sendiri. Dari dulu semua saya kerjakan sendiri. Kalau pun perlu tukang biasanya untuk mengaplikasikan dan merealaisasikan saja. Untuk ide, teknik pembuatan dari saya semua,” jelasnya.

Khusus untuk instalasi listrik dan air, dia sering memasang semua sendiri. “Instalasi listrik dan air saya pasang sendiri, rumah saya dibikin dengan konsep smart home,” ungkapnya. “Untuk mewujudkan ide itu susah mencari tukangnya. Tetapi saya masih butuh bantuan kernet (pembantu tukang, red) untuk merealisasikan ide itu,” lanjutnya.

Ada alasan mengapa dia tidak mencari tukang dan hanya memerlukan bantuan dari kernet untuk memasang instalasi listrik dan air di rumahnya. Buat Handoko apa yang dilakukannya itu menyenangkan dan memuaskan dahaga bathinnya. “Masa sesuatu yang menyenangkan menyuruh orang lain mengerjakannya hehehe,” katanya diiringi tawa yang berderai.

Saat ditanya apalagi yang akan dia kerjakan untuk instalasi listrik, air dan perkakas di rumah? “Kalau sekarang ini saya agak susah membagi waktunya. Bisanya weekend, nah sekarang weekend pun kadang banyak rapat yang dilakukan secara virtual. Yang masih bisa saya kerjakan pekerjaan kecil-kecil yang tak banyak memakan waktu. Durasi pekerjaannya sekitar 4 jam selesai, itu masih bisa saya lakukan,” katannya.

 

Tanaman

Laksana Tri Handoko. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Laksana Tri Handoko. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Diakui Handoko, dia memang orang rumahan. Selepas aktivitas di kantor untuk urusan birokasi karena dia kini menjabat sebagai kepala sebuah institusi penelitian berskala nasional (BRIN), ia akan pulang ke rumah kalau tak ada kesibukan yang mendesak. Tampaknya kebiasaan ini sama seperti saat ia meniti karier sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Di LIPI ia meniti karier dari peneliti biasa hingga menjadi kepala bagian dan akhirnya menjadi orang nomor satu di LIPI. Tahun 2002 ia menjabat sebagai Kepala Grup Fisika Teori dan Komputasi Pusat Penelitian Fisika LIPI. Kemudian berlanjut sebagai Kepala Pusat Penelitian Informatika LIPI (2012-2014). Sebelum menjadi Kepala LIPI (2018-2021) ia sempat menjadi Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI (2014-2018).  

Selepas dari kesibukan di kantor, dia akan melanjutkan  aktivitas di rumah dengan mengerjakan pekerjaan pertukangan, mengerjakan instalasi listrik dan air. Selain itu dia juga suka berkebun di halaman rumah. “Tapi untuk tanaman saya tidak suka yang besar dan rindang. Saya memilih tanaman yang kecil-kecil yang bisa di tanam di pot atau di halaman yang tidak memakan banyak tempat,” katanya.

Dan pemilihan jenis tanaman pun Handoko tak mau yang lama-lama menghasilkan. Tanaman cabe, tomat, seledri, dan sejenisnya menjadi pilihannya. Selain praktis namun juga bisa langsung dinikmati. “Saya engga suka menanam yang penuh, yang kecil-kecil saja. Tetapi bukan bunga-bungaan ya, namun yang langsung bisa dimakan, seperti cabe, tomat, seledri dan sejenisnya,” paparnya.

Handoko akan lupa saat menekuni kegiatan pertukangan dan perkebunan ini. “Saya kalau sudah melakukan kegiatan pertukangan dan perkebunan bisa lupa dengan kegiatan di kantor yang melelahkan. Kalau tentangga sebelah rumah saya tahu kalau saya suka dengan pertukangan dan perkebunan,” katanya.

 

Negeri Sakura

Laksana Tri Handoko. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Laksana Tri Handoko. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Setelah menamatkan sekolah menengah atas di dalam negeri, Handoko sempat menimba ilmu di Institut Teknogi Bandung, beberapa bulan. Ia kemudian berangkat ke Jepang atas beasiswa dari pemerintah Indonesia di bawah program OFP IV dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi RI pada era B.J. Habibie.

Ia melanjutkan studi di jenjang S1 jurusan Fisika di Kumamoto University, Jepang. Setelah itu ia melanjutkan studi di jenjang S2 di  jurusan Fisika Partikel Elementer Teoritik, Hiroshima University, Jepang. Tak berselang lama setelah menuntaskan studinya, dia melanjutkan ke jenjang S3 di Fisika Partikel Elementer Teoritik Hiroshima University, Jepang.

Sebagai seorang peneliti, ada banyak karya ilmiah yang sudah ia publikasikan di berbagai jurnal baik dalam maupun luar negeri. Ia juga sudah memiliki beberapa karya paten yang juga sudah daftarkan. Setidaknya ada tiga paten yang dimiliki Handoko, yaitu; sistem koneksi ke multi grid dengan klaster terbuka, sistem robot jaringan modular, dan pengendali elektronik otomatis ketinggian air dalam bak penampung.

Selain itu berbagai penghargaan bergengsi tingkat nasional dan internasional juga sudah ia dapatkan. Di antaranya PII Adhidarma Profesi Award, Penemuan Baru yang Bermanfaat bagi Negara, The 400 most Highly Cited Papers of All Time in High Energy Physics dan Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa 2009 (Ilmu Pengetahuan). Ia juga meraih penghargaan Asia Pacific ICT Award (dalam bidang; e-Gov & Services, Research & Development dan Education & Training). Handoko juga meraih penghargaan Habibie Award untuk Bidang Ilmu Dasar. Dan masih banyak lagi pencapaian yang sudah diraihnya.

Untuk mencapai prestasi itu, membutuhkan ketekunan dan dedikasi yang tinggi. Ia menyarankan kepada generasi muda untuk tidak cepat puas diri. “Sekarang ini banyak kegiataan yang positif. Kita bisa melakukan kegiatan yang bisa membuat lupa pada aktivitas yang tak bermanfaat. Kalau sudah menemukan itu, ya ditekuni,” katanya.

Hobi juga bisa menjadi andalan jika diseriusi. “Sekarang banyak anak muda yang menjadi konten kreator, membuat podcast yang bisa menginspirasi banyak orang. Lakukan saja dengan sungguh-sungguh, suatu saat nanti Anda akan memetik hasil dari yang dikerjakan itu. Dari hobi bisa menjadi menghasilan,” kata Laksana Tri Handoko sembari menambahkan perlu sekali kreativitas dan berani mencoba hal baru.

 

“Yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana membuat sebanyak mungkin orang bisa masuk ke ranah riset. Menurut saya riset itu bukan eksklusif ilmuwan, setiap orang sejatinya bisa jadi periset. Sebenarnya semakin banyak orang yang masuk menjadi periset,  kita bisa berharap semakin banyak inovasi yang muncul,”

Laksana Tri Handoko