JAKARTA - Pasien kanker tidak hanya membutuhkan pengobatan tetapi juga asupan nutrisi yang cukup untuk menjaga kondisi tubuh tetap optimal. Pola makan yang tepat menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan terapi kanker.
Dalam hal ini, kebutuhan gizi pasien kanker umumnya lebih tinggi dibanding orang sehat karena tubuh harus menghadapi peradangan, efek samping pengobatan, serta risiko penurunan berat badan dan massa otot.
Dokter Spesialis Gizi Klinis dr Fiastuti Witjaksono, Sp.GK (K) menyebut terapi nutrisi yang tepat tidak hanya membantu menjaga kondisi tubuh pasien, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup hingga angka harapan hidup pasien kanker.
Ia menjelaskan, kebutuhan nutrisi yang tepat perlu diintervensi baik saat pertama kali didiagnosis maupun selama menjalani pengobatan. Berbaga penelitian juga menunjukkan intervensi nutrisi dapat memberikan manfaat yang signifikan.
"Manfaat pemenuhan nutrisi yang tepat itu mulai dari reducing mortality, memperbaiki survival, nutritional status, physical functional, sampai tolerance pengobatan," ujar dr Fiastuti dalam sesi simposium bertajuk 'Supportive Care in Cancer' dalam Siloam Oncology Summit 2026 di Hotel Shangri-La Jakarta, baru-baru ini.
Menurut dr Fiastuti, pasien kanker memerlukan pendekatan nutrisi yang lebih spesifik, mencakup kebutuhan energi, protein, lemak, vitamin, serta nutrisi tambahan seperti omega-3 dan whey protein.
Dalam salah satu meta-analisis yang dipaparkan, pasien kanker yang mendapatkan intervensi nutrisi menunjukkan peningkatan berat badan, kualitas hidup yang lebih baik, serta angka survival yang lebih tinggi dibandingkan pasien yang tidak memperoleh dukungan nutrisi secara optimal.
BACA JUGA:

Karena itu, penanganan nutrisi sebaiknya menjadi bagian dari terapi kanker sejak awal dan berjalan beriringan dengan pengobatan utama, bukan baru dilakukan ketika kondisi pasien sudah memburuk.
Lebih lanjut, dr Fiastuti menjelaskan bahwa pasien kanker sangat rentan mengalami penurunan berat badan dan kehilangan massa otot atau kondisi yang dikenal sebagai kaheksia. Kondisi ini dapat dipicu oleh peradangan akibat kanker, efek samping terapi seperti kemoterapi, hingga berkurangnya nafsu makan karena mual maupun gangguan psikologis.
"Orang normal hanya membutuhkan protein sekitar 0,8 sampai 1,2 gram per kilogram berat badan per hari. Tetapi berbeda dengan pasien kanker membutuhkan sekitar 1,2 sampai 1,5 gram, bahkan bisa sampai 2 gram per kilogram berat badan per hari," jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya konsumsi protein hewani selama pasien menjalani terapi kanker. Protein hewani dianggap memiliki profil asam amino yang lebih lengkap sehingga lebih efektif dalam membantu mempertahankan dan membangun massa otot.
"Selama terapi, pasien dianjurkan sekitar 65 persen proteinnya berasal dari protein hewani," katanya.
Selain protein, kebutuhan karbohidrat dan lemak juga harus tetap terpenuhi untuk memastikan tubuh memiliki energi yang cukup dalam menjalani proses pengobatan.
Menurut dr Fiastuti, asupan nutrisi yang sesuai dapat membantu meningkatkan kualitas hidup pasien, memperbaiki toleransi terhadap terapi, hingga mendukung angka kelangsungan hidup yang lebih baik.