Bagikan:

JAKARTA - Spons dapur yang selama ini digunakan untuk membersihkan piring, gelas, dan peralatan makan ternyata menyimpan jumlah bakteri yang sangat besar.

Sebuah studi menemukan spons dapur bekas dapat mengandung bakteri dalam jumlah yang setara dengan sampel feses manusia, sehingga memicu kekhawatiran mengenai kebersihan alat rumah tangga yang digunakan setiap hari.

Penelitian yang dilakukan pada 2017 oleh Markus Egert, seorang mikrobiolog di Universitas Furtwangen, Jerman, mengungkap spons dapur merupakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan mikroorganisme. Kondisinya yang hangat, lembap, dan penuh sisa makanan menjadikannya tempat berkembang biak yang sempurna bagi berbagai jenis bakteri.

Dalam studinya, Egert menganalisis mikrobioma spons dapur bekas dan menemukan sebanyak 362 spesies mikroba. Di beberapa bagian spons, kepadatan bakteri hingga mencapai 54 miliar individu per sentimeter persegi.

"Jumlah ini sangat besar, mirip dengan jumlah bakteri yang ditemukan dalam sampel tinja manusia," ucap Egert, dikutip dari laman BBC pada Sabtu, 16 Mei 2026.

Menurut Egert, struktur spons yang dipenuhi lubang dan rongga kecil memungkinkan berbagai komunitas mikroba hidup dan berkembang secara bersamaan. Setiap rongga menciptakan lingkungan mikro tersendiri yang mendukung pertumbuhan bakteri dengan kebutuhan berbeda.

Temuan ini diperkuat oleh studi tahun 2022 yang dilakukan Lingchong You, ahli biologi sintetis dari Duke University, bersama timnya. Mereka menemukan bahwa spons dengan ukuran pori yang beragam justru mendorong pertumbuhan mikroba lebih tinggi.

"Mereka menemukan bahwa variasi ukuran pori pada spons dapur sangat penting dalam mendorong pertumbuhan bakteri," beber Egert.

Meski jumlah bakterinya sangat besar, para peneliti menekankan bahwa tidak semua bakteri tersebut berbahaya bagi manusia. Dalam penelitian Egert, tidak ditemukan hubungan langsung antara bakteri di spons dengan keracunan makanan atau penyakit serius.

Namun, lima dari sepuluh spesies bakteri yang paling umum ditemukan memiliki hubungan dekat dengan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi pada orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah.

"Kami hanya menemukan bakteri yang berpotensi patogen. Hal ini bisa berbahaya bagi orang dengan sistem imun lemah, lansia, atau anak-anak. Biasanya, bagi orang sehat, bakteri di dalam spons dapur tidak berbahaya," pungkas Egert.

Penelitian lain pada 2017 oleh Jennifer Quinlan, profesor keamanan pangan di Prairie View A&M University, Amerika Serikat, menemukan bahwa hanya sekitar 1–2 persen spons dapur dari 100 rumah yang diteliti mengandung bakteri penyebab keracunan makanan pada manusia, dan jumlahnya pun relatif kecil.

Meski begitu, risiko tetap ada, terutama jika spons digunakan untuk membersihkan cairan dari daging mentah atau ayam mentah yang mungkin mengandung patogen seperti Salmonella.

"Sebagian besar bakteri pada spons tidak menyebabkan penyakit, hanya membuatnya berbau. Namun, ada kemungkinan bakteri patogen muncul jika spons digunakan membersihkan cairan daging mentah atau ayam mentah," tutur Egert.

Studi lain dari ilmuwan Nofima, Norwegia, Solveig Langsrud, juga menunjukkan bahwa bakteri seperti Salmonella dapat berkembang dengan baik di spons, tetapi tidak bertahan hidup pada sikat pencuci piring karena alat tersebut lebih cepat mengering.

Atas dasar itu, sejumlah ahli menyarankan untuk lebih sering mengganti spons dapur dan menjaga kebersihannya. Spons sebaiknya dikeringkan setelah digunakan, tidak disimpan dalam kondisi basah di wastafel, serta diganti secara berkala, idealnya setiap minggu.

Egert secara terbuka merekomendasikan penggunaan sikat pencuci piring sebagai alternatif.

"Saya tidak akan menggunakan spons cuci piring. Sikat jauh lebih baik karena mengandung lebih sedikit bakteri, lebih mudah kering, dan lebih mudah dibersihkan." ucapnya.