JAKARTA - Ruam popok menjadi salah satu masalah kulit pada bayi yang kerap membuat orang tua khawatir. Kondisi ini biasanya ditandai dengan kemerahan, iritasi, hingga rasa tidak nyaman pada area yang tertutup popok.
Meski umum terjadi, ruam popok tetap perlu diperhatikan karena dapat mengganggu kenyamanan bayi dalam beraktivitas sehari-hari.
Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai diaper dermatitis, yang umumnya dipicu oleh kombinasi kelembapan, kontak berkepanjangan dengan urine dan feses, serta gesekan pada kulit bayi yang masih sensitif.
Menurut Sulistyowati, Head of Marketing MAKUKU Indonesia, penanganan ruam popok tidak cukup hanya mengandalkan kebersihan semata.
"Ruam popok tidak hanya dipengaruhi oleh faktor kebersihan, tetapi juga kondisi kulit bayi yang masih dalam tahap perkembangan serta lingkungan di area popok yang cenderung lembab dan tertutup. Karena itu, diperlukan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari kebiasaan perawatan hingga pemilihan produk yang tepat," ungkap Sulistyowati dalam keterangan persnya kepada VOI, Kamis, 23 April.
Pada masa awal kehidupan terutama dalam 1.000 hari pertama, kulit bayi masih berada dalam tahap pematangan. Lapisan pelindung kulit belum bekerja secara optimal, sehingga lebih rentan terhadap iritasi akibat faktor eksternal seperti suhu, kelembapan, dan gesekan.
Area popok pun menjadi bagian tubuh yang paling berisiko karena minim sirkulasi udara dan sering berada dalam kondisi lembap. Kelembapan seperti ini dapat memicu perubahan pH kulit dan meningkatkan kemungkinan terjadinya iritasi, terutama jika kulit terlalu lama terpapar urine atau feses.
BACA JUGA:
Karena itu, menjaga kebersihan dan kekeringan area popok menjadi langkah dasar yang penting. Orang tua disarankan untuk rutin mengganti popok, idealnya setiap 2–4 jam, serta memastikan kulit bayi telah dibersihkan dan dikeringkan sebelum menggunakan popok baru.
Memberikan waktu bagi kulit untuk “bernapas” tanpa popok juga dapat membantu mengurangi risiko ruam.
Seiring meningkatnya perhatian terhadap kesehatan kulit bayi, berbagai inovasi pada produk popok pun terus berkembang. Salah satunya adalah penggunaan teknologi penyerap seperti Super Absorbent Polymer (SAP), yang dirancang untuk mengunci cairan lebih cepat sehingga mengurangi kontak langsung dengan kulit.
Selain daya serap, faktor keamanan dan kecocokan dengan kulit sensitif juga menjadi pertimbangan penting. Sejumlah produk telah melalui pengujian dermatologis untuk memastikan tingkat toleransi kulit yang baik, termasuk uji iritasi yang menunjukkan tidak adanya reaksi signifikan pada kulit.
Upaya ini menjadi bagian dari pendekatan yang lebih luas dalam mendukung kesehatan kulit bayi, tidak hanya melalui produk, tetapi juga edukasi kepada orang tua mengenai perawatan yang tepat.
"Melalui kombinasi inovasi produk, pengujian dermatologis, serta edukasi yang berkelanjutan, kami ingin membantu orang tua merasa lebih tenang dalam merawat Si Kecil, terutama dalam menjaga kesehatan kulitnya sehari-hari,” tutup Sulistyowati.