JAKARTA - Perubahan emosi saat menstruasi sering kali dianggap sekadar “mood swing”, padahal kondisi ini memiliki penjelasan ilmiah yang berkaitan dengan proses biologis dalam tubuh perempuan.
Fluktuasi hormon selama siklus menstruasi dapat memengaruhi cara kerja otak, sehingga wajar jika perempuan mengalami perubahan perasaan, sensitivitas, hingga respons sosial yang berbeda pada periode tertentu.
Psikiater Elvine Gunawan, Sp.KJ, menjelaskan bahwa perubahan emosi saat menstruasi tidak hanya berkaitan dengan suasana hati semata, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika hormon dan neurotransmiter di otak.
Ia menyebut bahwa perubahan kadar hormon estrogen dan progesteron sepanjang siklus menstruasi berdampak langsung pada serotonin dan dopamin, yakni zat kimia otak yang berperan dalam mengatur emosi dan motivasi.
“Ketika memasuki awal menstruasi, kadar estrogen cenderung menurun. Itu berdampak pada serotonin dan dopamin, sehingga perempuan bisa merasa lebih sensitif atau emosional,” ujarnya dalam sebuah diskusi memperingati Hari Kartini di Jakarta.
Menurutnya, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pada fase awal menstruasi, perempuan cenderung lebih peka terhadap ekspresi wajah maupun respons sosial orang lain. Hal ini membuat situasi yang sebenarnya netral bisa terasa lebih tajam atau bahkan negatif.
BACA JUGA:
Kondisi tersebut kerap menimbulkan stigma di masyarakat, seperti anggapan bahwa perempuan menjadi lebih mudah marah atau terlalu sensitif saat menstruasi. Padahal, perubahan ini merupakan proses biologis yang normal.
Elvine menambahkan bahwa setelah fase menstruasi berakhir dan kadar estrogen kembali meningkat, keseimbangan neurotransmiter juga akan membaik. Hal ini membantu kondisi emosional menjadi lebih stabil.
Ia menekankan pentingnya pemahaman dari lingkungan terdekat, termasuk pasangan dan keluarga, terhadap proses ini. Komunikasi yang terbuka dinilai dapat mencegah kesalahpahaman yang sering terjadi.
“Empati tidak cukup dalam bentuk kata-kata. Perlu tindakan nyata dan pemahaman bahwa ini adalah proses biologis yang dialami setiap perempuan,” katanya.
Selain itu, edukasi mengenai menstruasi juga perlu ditanamkan sejak dini di lingkungan keluarga guna menghapus stigma yang masih berkembang dan membangun dukungan yang lebih sehat.
Diskusi tersebut menegaskan bahwa perubahan emosi selama menstruasi bukanlah kelemahan, melainkan bagian alami dari mekanisme tubuh yang perlu dipahami bersama.