JAKARTA - Menggunakan penyumbat telinga atau earplugs saat menonton konser sering dianggap sepele. Padahal, kebiasaan ini memiliki peran penting, tidak hanya untuk menjaga pendengaran, tetapi juga melindungi kesehatan otak dari risiko penurunan fungsi kognitif, termasuk demensia.
Ahli bedah saraf asal Amerika Serikat, Rupa Juthani, menjelaskan bahwa paparan suara dengan volume tinggi, bahkan dalam waktu singkat, dapat merusak saraf halus di telinga. Ia menyebutkan bahwa suara di atas ambang tertentu sudah mulai memberikan tekanan berbahaya pada sistem pendengaran.
"Ketika suara melebihi sekitar 85 desibel, hal itu mulai memberi tekanan mekanis pada sel rambut di koklea. Respons pertama berupa penurunan pendengaran sementara, muncul tinnitus, dan biasanya pulih dalam 16–48 jam, namun paparan singkat seperti ini juga bisa menyebabkan gangguan pendengaran permanen,” ujarnya, seperti dikutip dari Hindustan Times.
Ia menambahkan, kondisi telinga berdenging atau pendengaran yang terasa teredam setelah konser bukan sekadar efek sementara, melainkan tanda awal adanya cedera pada saraf pendengaran.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa dampak yang tampak ringan sekalipun bisa berujung pada kerusakan permanen. Studi oleh Kujawa dan Liberman (2009) mengungkapkan bahwa paparan suara keras yang tampaknya pulih tetap dapat menyebabkan gangguan fungsi saraf pendengaran secara cepat.
"Dengan paparan berulang, gangguan sementara tersebut akan menjadi permanen. Sel rambut mati dan yang lebih mengkhawatirkan, tidak dapat tumbuh kembali,” jelas Juthani.
BACA JUGA:
Lebih jauh, ia menekankan bahwa gangguan pendengaran merupakan salah satu faktor risiko terbesar yang dapat dimodifikasi untuk demensia, terutama sejak usia paruh baya. Berdasarkan analisis skala besar, risiko demensia meningkat seiring penurunan kemampuan pendengaran. “Meta-analisis terhadap 1,5 juta orang menemukan bahwa risiko demensia meningkat sekitar 16 persen untuk setiap penurunan pendengaran sebesar 10 desibel,” katanya.
Menurut Juthani, tingkat kebisingan dalam konser umumnya berada di kisaran 100 hingga 110 desibel, yang cukup tinggi untuk mempercepat kerusakan saraf pendengaran. Oleh karena itu, penggunaan earplugs menjadi langkah sederhana namun penting untuk mengurangi risiko tersebut.
Ia juga menambahkan bahwa banyak musisi profesional menggunakan penyumbat telinga khusus yang tetap menjaga kualitas suara sekaligus melindungi pendengaran. “Melindungi pendengaran berarti melindungi otak,” ujarnya.
Dengan menggunakan earplugs, paparan suara dapat ditekan ke tingkat yang lebih aman, sehingga tidak hanya menjaga fungsi pendengaran, tetapi juga kesehatan otak secara keseluruhan. Juthani pun mengingatkan, jika mulai merasakan tanda-tanda gangguan pendengaran, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis THT untuk penanganan lebih lanjut.