JAKARTA - Sebuah penelitian terbaru mengungkap temuan yang cukup mengejutkan. Tes darah sederhana ternyata mampu memprediksi risiko kerusakan otak hingga 25 tahun sebelum seseorang benar-benar didiagnosis mengalami gangguan kognitif atau demensia.
Dilansir dari New York Post pada Sabtu, 22 November 2025, kerusakan otak yang berkaitan dengan demensia biasanya berkembang perlahan-lahan selama puluhan tahun. Penyakit ini memengaruhi kemampuan berpikir, mengingat, berkomunikasi, sehingga memecahkan masalah.
Maka dari itu, deteksi dini sangat penting agar seseorang bisa mengambil langkah pencegahan, merencanakan masa depan, dan menjaga kualitas hidup.
Studi tersebut dipublikasikan dalam European Heart Journal dan berfokus pada pemeriksaan kadar troponin jantung, protein yang dilepaskan ketika otot jantung mengalami kerusakan. Menariknya, kadar protein ini ternyata berkaitan erat dengan kesehatan otak di masa depan.
Dalam penelitian tersebut, hampir 6.000 orang dewasa paruh baya di Inggris menjalani tes troponin setelah mengalami kerusakan ringan pada otot jantung. Para peneliti kemudian memantau fungsi kognitif mereka selama sekitar dua dekade.
Hasilnya cukup jelas. Peserta dengan kadar troponin tinggi (lebih dari 5,2 nanogram per liter) menunjukkan penurunan fungsi otak yang lebih cepat saat memasuki usia lanjut.
Mereka yang memiliki kadar troponin lebih tinggi juga tercatat memiliki volume grey matter (materi abu-abu) yang lebih sedikit. Bagian otak inilah yang berperan penting dalam memproses informasi, belajar, dan mengingat. Risiko penyusutan otak meningkat hingga 18% pada peserta dengan kadar troponin yang tinggi.
BACA JUGA:
Jika melihat peserta yang akhirnya terdiagnosis demensia, kadar troponin mereka tercatat sudah tinggi sejak tujuh tahun sebelum gejala terdeteksi. Temuan ini membuka peluang kerusakan otak sebenarnya bisa dikenali jauh sebelum seseorang merasakan tanda-tandanya.
Saat ini, perkembangan teknologi seperti tes darah, MRI fungsional, dan berbagai tes kognitif sudah memungkinkan prediksi risiko demensia hingga 10 tahun sebelum gejala muncul. Namun, tes troponin memberi harapan bahwa deteksi dapat dilakukan bahkan lebih awal lagi, hingga seperempat abad sebelumnya.
Meski demikian, tidak ada cara pasti untuk mencegah kerusakan otak atau demensia. Namun mengurangi faktor risiko seperti merokok, tekanan darah tinggi, obesitas, dan gangguan pendengaran dapat membantu menurunkan kemungkinan berkembangnya penyakit ini.
Penelitian ini bukan hanya temuan medis, tetapi juga pengingat penting menjaga kesehatan jantung dan otak saling berkaitan. Tes darah yang biasanya digunakan untuk mendeteksi serangan jantung kini berpotensi menjadi alat penting dalam memprediksi kesehatan otak di masa depan.