JAKARTA - Masyarakat perlu lebih waspada terhadap gejala tuberkulosis (TB), terutama batuk yang tidak kunjung sembuh. Penyakit ini kerap dianggap sepele, padahal dapat menular dengan cepat jika tidak segera ditangani. Deteksi dini menjadi kunci utama untuk mencegah penyebaran yang lebih luas, sehingga penting bagi setiap orang mengenali tanda-tandanya sejak awal. Dokter spesialis penyakit dalam di RSUD Zainal Umar Sidiki Gorontalo Utara, dr. Ferdiyanto Dayi SpPD FINASIM, mengimbau warga agar segera memeriksakan dahak apabila mengalami batuk lebih dari dua minggu. Menurutnya, secara umum angka kasus Tuberkulosis di Indonesia masih tergolong tinggi. Indonesia bahkan menempati peringkat kedua di dunia dengan beban kasus TB terbanyak, dengan jumlah mendekati satu juta kasus dan estimasi sekitar 387 kasus per 100.000 penduduk. Jika mengacu pada jumlah penduduk Gorontalo Utara yang mencapai lebih dari 131 ribu jiwa, maka diperkirakan terdapat sekitar 500-an kasus TB di wilayah tersebut. Namun hingga tahun 2025, kasus yang berhasil ditemukan baru sekitar 470 penderita. “Masih ada cukup banyak yang belum ditemukan. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat untuk segera mengecek dahak jika batuk lebih dari dua minggu sangat penting. Jangan takut atau malu untuk memeriksakan diri,” ujar Ferdiyanto.
Ia menjelaskan, berbagai upaya telah dilakukan oleh dinas kesehatan setempat bersama puskesmas, termasuk pelacakan kontak erat pasien untuk menemukan kasus yang belum terdeteksi. Selain itu, pihaknya terus mengedukasi masyarakat untuk menghilangkan stigma terhadap penyakit TB. Dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar dinilai sangat penting agar pasien mau menjalani pengobatan secara rutin. Masyarakat juga diajak untuk mendorong anggota keluarga atau orang terdekat yang mengalami batuk berkepanjangan agar segera melakukan pemeriksaan dahak di fasilitas kesehatan. Ferdiyanto menambahkan, saat ini telah tersedia terapi pencegahan TB yang dapat diberikan kepada anggota keluarga pasien yang terkonfirmasi positif. Ia memastikan bahwa penanganan TB di wilayah tersebut sudah berjalan cukup baik. Setiap kasus yang ditemukan langsung ditindaklanjuti dengan pelacakan kontak serumah serta edukasi terkait pemeriksaan dan penanganan. Ferdiyanto juga meluruskan berbagai anggapan keliru di masyarakat, seperti TB yang dikaitkan dengan kebiasaan minum es atau mandi malam. “Itu adalah mitos,” tegasnya. Ia menjelaskan bahwa TB merupakan penyakit infeksi bakteri yang menular melalui droplet atau percikan kecil saat penderita batuk atau bersin, yang kemudian terhirup oleh orang lain di sekitarnya. “Satu pasien TBC dapat menularkan infeksi ke 10 hingga 15 orang. Namun tidak semua yang terpapar akan sakit, tergantung daya tahan tubuh masing-masing,” jelasnya. Dalam satu keluarga yang terdapat pasien TB, penderita wajib menjalani pengobatan secara rutin, sementara anggota keluarga lainnya dapat memperoleh terapi pencegahan. Ia menegaskan bahwa seluruh pengobatan dan fasilitas penunjang, termasuk alat pemeriksaan berbasis PCR untuk deteksi cepat TB, tersedia secara gratis melalui fasilitas kesehatan seperti RSUD Zainal Umar Sidiki. “Penyakit TB bisa sembuh asalkan pasien disiplin berobat. Dukungan keluarga juga sangat penting agar pasien tidak merasa sendiri dalam menjalani pengobatan,” tambahnya. Ferdiyanto pun mengajak seluruh pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat, untuk bekerja sama dalam menekan angka kasus TB. Menurutnya, dengan fasilitas dan obat yang telah tersedia, upaya pemberantasan TB dapat dilakukan secara optimal.BACA JUGA:
15 Mei 2026, 22:35