JAKARTA - Dengue termasuk penyakit infeksi yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegyptidan masih menjadi masalah kesehatan utama di berbagai negara tropis dan subtropis.
Penyakit ini dapat menyerang semua kelompok usia dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius hingga kematian apabila tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Tingginya laju penularan dengue dipengaruhi oleh faktor lingkungan, perubahan iklim, serta perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 3,9 miliar penduduk dunia berada dalam risiko terinfeksi dengue, dengan jumlah kasus tahunan mencapai kurang lebih 390 juta. Kondisi ini menjadikan dengue sebagai salah satu ancaman kesehatan masyarakat paling signifikan secara global.
Di kawasan Asia Tenggara, lonjakan kasus dengue semakin dipengaruhi oleh urbanisasi yang tidak terkendali, kepadatan penduduk, perubahan iklim, serta tingginya mobilitas antarnegara.
Menanggapi tantangan tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama Koalisi Bersama (KOBAR) Lawan Dengue dan mitra regional menyelenggarakan Forum Regional Asia Tenggara pertama untuk Pencegahan dan Pengendalian Dengue.
Forum ini menjadi wadah kerja sama lintas negara guna memperkuat upaya kolektif dalam menghadapi ancaman demam berdarah dengue (DBD).
Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Prima Yosephine, menyampaikan bahwa forum tersebut bertujuan mempererat sinergi antarnegara ASEAN dalam upaya pengendalian dengue secara terpadu dan berkelanjutan.
“Kolaborasi antarnegara, khususnya di kawasan ASEAN, sangat penting untuk memperkuat langkah-langkah penanggulangan dengue secara bersama,” ujarnya di Jakarta, Senin, 9 Januari 2026
Menurut dr. Prima, forum ini menghasilkan berbagai rekomendasi serta praktik terbaik yang dibagikan oleh masing-masing negara peserta. Negara-negara anggota ASEAN didorong untuk memaparkan strategi pengendalian dengue yang telah diterapkan, sekaligus mengusulkan kebijakan dan program yang berpotensi diadopsi di tingkat regional.
Berbagai usulan tersebut akan menjadi bahan pembahasan dalam pertemuan lanjutan dengan harapan terciptanya gerakan bersama negara-negara ASEAN dalam menanggulangi dengue di kawasan.
“Tujuannya agar negara-negara ASEAN dapat bergerak serempak dalam pengendalian dengue,” jelasnya.
Di sisi lain, ASEAN telah menetapkan target jangka panjang berupa pencapaian nol kematian akibat dengue pada tahun 2030. Untuk mendukung target tersebut, Indonesia secara konsisten mendorong penerapan tiga pendekatan utama, yakni pengendalian lingkungan melalui pengelolaan tempat perindukan nyamuk dengan penerapan 3M Plus.
BACA JUGA:
Pendekatan kedua adalah pengendalian faktor penular, khususnya melalui pengendalian vektor nyamuk. Sementara pendekatan ketiga berfokus pada manusia, termasuk upaya pencegahan melalui vaksinasi.
“Ketiga pendekatan ini harus berjalan secara terintegrasi agar pengendalian DBD dapat dilakukan secara lebih menyeluruh,” tegas dr. Prima.
Ketua KOBAR, Suir Syam, menambahkan bahwa tantangan terbesar dalam pengendalian dengue adalah membangun keterlibatan aktif antara masyarakat dan pemerintah daerah. Ia menyoroti bahwa Indonesia masih mencatat angka kesakitan dan kematian akibat dengue yang relatif tinggi di kawasan ASEAN.
“Pemerintah pusat tidak dapat bekerja sendiri. Upaya pencegahan dengue harus dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat dan pemerintah daerah di wilayah masing-masing,” katanya.
Dukungan terhadap upaya pengendalian dengue juga datang dari sektor swasta. General Manager Takeda Indonesia, Andreas Gutknecht, menyatakan komitmen perusahaannya dalam mendukung pengendalian dengue di Asia Tenggara.
Ia menyebutkan bahwa meskipun kawasan ASEAN mencatat angka kematian dengue yang tinggi, wilayah ini juga memiliki pengalaman awal dan kemajuan signifikan dalam inovasi, termasuk pengembangan vaksin dan program pencegahan.
“Melalui kepemimpinan KOBAR dan Kementerian Kesehatan, forum ini menjadi sarana bagi negara-negara ASEAN untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan mengoordinasikan upaya agar kemajuan dalam melawan dengue dapat dicapai secara lebih efektif di masa mendatang,” pungkasnya.