Bagikan:

JAKARTA - Jus jeruk merupakan salah satu minuman yang mengandung banyak nutrisi untuk kesehatan tubuh, termasuk untuk jantung. Hal ini diungkap melalui penelitian terbaru dalam jurnal Molecular Nutrition & Food Research.

Dikutip dari Medical News Today, pada Kamis, 22 Januari 2026, dalam penelitian tersebut diungkap bahwa konsumsi jus jeruk memengaruhi berbagai gen yang terlibat dalam fungsi fisiologis terkait kesehatan jantung.

“Kami menggunakan pendekatan transkriptomik untuk mengevaluasi efek jus jeruk pada seluruh sistem metabolisme, sehingga kami dapat melihat bagaimana berbagai jalur biologis dimodulasi secara bersamaan,” kata penulis utama studi, Layanne Nascimento Fraga, PhD.

Para peneliti mengidentifikasi 1.705 gen yang mengalami perubahan setelah konsumsi jus jeruk. Sebanyak 98 persen di antaranya mengalami penurunan aktivitas.

Jus jeruk dinilai mampu menurunkan aktivitas gen yang berkaitan dengan penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi. Diketahui penyakit tersebut dapat meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, hingga gagal jantung.

Tak hanya itu, gen yang berperan dalam peradangan juga mengalami penurunan aktivitas. Peradangan sendiri bisa merusak pembuluh darah dan mempercepat pembentukan plak yang membuat pembuluh darah sempit.

Pada waktu yang bersamaan, jus jeruk justru meningkatkan aktivitas gen yang berfungsi mengatur metabolisme lemak, sehingga tubuh dapat memproses dan menyimpannya dengan lebih efisien.

Ahli gizi kardiologi, Michelle Routhenstein, MS, RD, CDCES, CDN, mengatakan bahwa manfaat jus jeruk untuk kesehatan jantung terjadi karena adanya peningkatan kadar hesperetin dalam plasma setelah mengonsumsinya.

“Hal ini terjadi karena jus jeruk, terutama jika dikonsumsi setelah makan, meningkatkan kadar hesperetin dalam plasma, yaitu flavonoid yang dapat memperbaiki fungsi endotel dan reaktivitas mikrovaskular,” tutur Routhenstein.

Namun, meskipun temuan penelitian ini terbilang menjanjikan, para ahli mengingatkan bahwa konsumsi jus jeruk tetap perlu dilakukan secara bijak. Konsumsi yang berlebihan malah dapat meningkatkan asupan gula.

Hal tersebut berisiko memicu lonjakan insulin, kenaikan berat badan, hingga penumpukan lemak visceral, terutama untuk perempuan perimenopause dan menopause.