Bagikan:

JAKARTA - Melasma termasuk salah satu gangguan pigmentasi kulit yang paling sering dijumpai, terutama pada area wajah. Kondisi ini ditandai dengan munculnya bercak kecoklatan hingga keabu-abuan yang cenderung menetap dan sulit dihilangkan.

Meski tidak menimbulkan rasa sakit atau membahayakan kesehatan, melasma kerap berdampak besar pada kepercayaan diri karena muncul di area yang mudah terlihat.

Pada banyak kasus, melasma berkembang secara perlahan. Awalnya hanya tampak samar, lalu semakin jelas seiring waktu. Bercak tersebut bisa bertahan dalam jangka panjang meskipun berbagai produk perawatan kulit telah dicoba. Situasi ini sering membuat penderitanya merasa frustrasi dan bertanya-tanya tentang penyebab sebenarnya dari perubahan kulit yang dialami.

Mengutip laman ANTARA, melasma terjadi akibat produksi melanin yang berlebihan. Melanin adalah pigmen alami yang memberi warna pada kulit, rambut, dan mata. Ketika produksinya meningkat secara tidak terkendali, pigmen ini akan menumpuk di lapisan kulit, baik di epidermis, dermis, maupun kombinasi keduanya.

Akibatnya, muncul bercak berwarna coklat atau keabu-abuan yang biasanya simetris dan paling sering terlihat di pipi, dahi, hidung, atas bibir, serta dagu.

Meski sering dianggap mengganggu, melasma bukanlah penyakit menular atau berbahaya. Tantangan utamanya adalah sifatnya yang mudah kambuh. Bercak pigmentasi dapat kembali muncul ketika faktor pemicu masih ada, sehingga melasma kerap menjadi kondisi kronis yang memerlukan pengelolaan jangka panjang.

Berbagai faktor diketahui berperan dalam munculnya melasma. Paparan sinar matahari berulang menjadi pemicu utama karena radiasi ultraviolet merangsang produksi melanin. Selain itu, perubahan hormon seperti yang terjadi pada kehamilan atau penggunaan kontrasepsi hormonal juga memiliki pengaruh besar. Faktor genetik, iritasi kulit akibat prosedur tertentu, serta penggunaan obat-obatan tertentu turut meningkatkan risiko terjadinya melasma.

Secara geografis, melasma tidak tersebar merata di seluruh dunia. Sejumlah publikasi ilmiah mencatat bahwa prevalensi melasma di Asia Tenggara tergolong tinggi, bahkan dapat mencapai sekitar 40 persen.

Tingginya angka ini berkaitan dengan dominasi tipe kulit Fitzpatrick III hingga V serta paparan sinar matahari tropis yang berlangsung sepanjang tahun. Kombinasi faktor biologis dan lingkungan tersebut menjadikan kawasan ini lebih rentan terhadap gangguan pigmentasi.

Dokter kulit di Pekanbaru yang berpengalaman menangani kasus hiperpigmentasi, dr. Tanya Febrina, menjelaskan sensitivitas kulit terhadap pigmentasi sangat dipengaruhi oleh faktor hormonal dan keturunan.

Menurutnya, hormon estrogen dan progesteron dapat memicu peningkatan produksi melanin, sehingga melasma lebih sering muncul pada perempuan hamil maupun pengguna kontrasepsi hormonal. Risiko juga lebih tinggi pada individu yang memiliki riwayat melasma dalam keluarga, khususnya mereka dengan warna kulit sawo matang hingga gelap.

Dalam hal ini, melasma mencerminkan respons kompleks tubuh terhadap faktor internal dan eksternal. Dengan mengenali penyebabnya secara lebih menyeluruh, seseorang dapat mengambil langkah yang lebih tepat dalam merawat kulit dan mengelola kondisi ini secara realistis dan berkelanjutan.