JAKARTA – Resolusi Tahun Baru kerap menjadi tradisi setiap pergantian tahun. Mulai dari hidup lebih sehat, menabung, hingga mengejar impian yang tertunda, banyak orang menaruh harapan besar pada awal tahun sebagai momen perubahan.
Namun, survei Forbes Health/OnePoll pada Oktober 2023 menunjukkan bahwa 61,7% responden merasa tertekan untuk membuat resolusi Tahun Baru, sementara 66,5% berencana membuat tiga resolusi atau lebih.
Optimisme pun menguat, meski kenyataannya lebih dari 90% resolusi ditinggalkan dalam beberapa bulan pertama.
Psikolog klinis berlisensi Terri Bly dari Ellie Mental Health, Minnesota menyebut Tahun Baru sebagai momen refleksi yang mendorong orang meninjau kembali hidup mereka. Ritual resolusi pun menjadi pemicu komitmen untuk berubah.
Pandangan ini sejalan dengan Jennifer Kowalski, konselor profesional berlisensi dari Thriveworks, Connecticut.
"Tahun baru mewakili awal yang baru, dan manusia membutuhkan penanda untuk menyegarkan diri. Ketika sesuatu berakhir, itu berarti ada awal yang baru," ujar Kowalski, dikutip dari laman Verywell Mind.
Meski begitu, kegagalan resolusi terus berulang. Menurut Bly, manusia cenderung tetap optimistis meski berkali-kali gagal, dengan harapan bahwa tahun ini akan berbeda. Salah satu penyebab utama kegagalan adalah target yang terlalu besar dan ekstrem.
"Kesalahan kita adalah menganggap resolusi harus berupa perubahan besar dan dramatis karena terdengar menarik. Padahal, sebagai manusia kita tidak dirancang untuk perubahan besar secara tiba-tiba," jelas Terri Bly.
Kowalski menambahkan perubahan besar sering kali tidak disertai langkah kecil yang realistis.
"Orang sering menetapkan resolusi yang besar dan mungkin bisa dicapai, tetapi sebenarnya ada puluhan langkah kecil yang harus dilewati lebih dulu. Karena tidak dibuat bertahap, resolusi itu akhirnya terasa mustahil," bebernya.
Selain itu, banyak resolusi dibuat karena dorongan seharusnya, bukan keinginan pribadi.
"Jika kita membenci aktivitasnya dan tidak tahu apa imbalannya bagi diri sendiri, kita tidak akan menjalaninya," kata Bly.
Faktor lain adalah kesiapan mental. Menurut Bly, mereka yang berhasil menjalankan resolusi biasanya sudah berada pada tahap siap bertindak, bukan sekadar mengikuti momentum Tahun Baru.
Untuk menciptakan perubahan yang bertahan lama, Kowalski menekankan pentingnya konsistensi dibanding perubahan drastis.
"Jika Anda melakukannya habis-habisan hanya selama Januari, itu tidak membentuk kebiasaan," kata Kowalski.
"Yang penting adalah membiasakan diri melakukan hal baru secara berkelanjutan." lanjutnya.
Terri Bly menyarankan agar resolusi disusun dalam target-target kecil sepanjang tahun. Pendekatan ini dinilai lebih realistis dan sesuai dengan cara kerja psikologi manusia.