Bagikan:

JAKARTA - Benjolan di bagian belakang kepala sering kali membuat orang khawatir. Apakah berbahaya dan menjadi tanda penyakit serius?

Sebenarnya tidak semua benjolan di kepala berhubungan dengan kondisi berbahaya. Ada yang hanya akibat benturan kecil, tetapi ada juga yang perlu diperiksakan lebih lanjut ke dokter.

"Benturan keras di kepala dapat menyebabkan cedera otak, sehingga seseorang harus memperhatikan gejala gegar otak," seperti dijelaskan oleh Healthline, dikutip dari laman resmi Medical News Today.

Selain cedera, ada beberapa kondisi lain yang juga bisa menimbulkan benjolan dan sebagian di antaranya perlu pemeriksaan dokter.

1. Cedera

Jatuh ke belakang, tabrakan saat olahraga kontak, kecelakaan lalu lintas, hingga kekerasan fisik bisa menyebabkan benjolan. Biasanya benjolan ini berupa hematoma kulit kepala, yaitu penumpukan darah di bawah kulit.

Pengobatan cedera ringan dapat ditangani di rumah dengan istirahat, obat pereda nyeri bebas serta kompres es. Namun bila cedera menimbulkan gejala gegar otak seperti kebingungan, pusing, muntah, sakit kepala hebat, bicara pelo, hingga pingsan, sebaiknya segera ke IGD.

2. Kista Pilar

Kista ini umumnya muncul di kulit kepala, berisi keratin, dan terasa padat serta halus. Menurut Healthline, kista pilar lebih sering terjadi pada perempuan dan dapat diturunkan dalam keluarga.

Pengobatannya biasanya tidak berbahaya. Jika tidak menimbulkan keluhan, tidak perlu diobati. Namun bila terasa nyeri atau mengganggu, dokter bisa mengangkatnya dengan operasi kecil.

3. Lipoma

Lipoma adalah benjolan lemak jinak yang lembut dan bisa bergerak saat ditekan. Umumnya tidak menimbulkan rasa sakit.

"Lipoma paling sering ditemukan pada usia 40–60 tahun," jelas sumber medis.

Pengobatannya tak berbahaya dan sering kali tidak perlu diangkat, kecuali ukurannya besar atau menimbulkan keluhan.

4. Osteofit (Taji Tulang)

Taji tulang atau osteofit adalah pertumbuhan tulang berlebih, biasanya terasa keras dan tidak bergerak. Kondisi ini bisa muncul akibat osteoartritis.

Jika tidak menimbulkan keluhan, tidak perlu terapi khusus. Namun bila nyeri, dokter dapat meresepkan obat pereda nyeri, fisioterapi, hingga operasi bila diperlukan.

5. Folikulitis

Peradangan pada folikel rambut di kepala dapat menimbulkan benjolan berisi nanah mirip jerawat. Gejalanya meliputi gatal, nyeri dan kemerahan.

Pengobatannya dengan ompres hangat, salep antibiotik, serta sampo anti ketombe bisa membantu. Jika parah, dokter mungkin meresepkan antibiotik oral atau salep khusus.

6. Kista Epidermoid

Kista jinak berisi keratin dengan dinding yang jelas. Biasanya memiliki titik kecil di tengah (punctum). Dokter kulit bisa mengangkat kista ini. Jika seluruh dinding kista berhasil diangkat, kemungkinan kambuh sangat kecil.

7. Tumor Dasar Tengkorak

Kasus yang sangat jarang, namun benjolan di belakang kepala juga bisa disebabkan tumor tulang, seperti kordoma. Tumor ini bisa menimbulkan gejala serius seperti sakit kepala, gangguan penglihatan, hingga kesulitan berjalan.

Pengobatannya tergantung jenis, ukuran, dan lokasi tumor. Penanganan bisa berupa operasi, terapi radiasi, atau kombinasi.

Segera periksakan diri ke dokter bila benjolan di belakang kepala tampak semakin besar, terasa nyeri hebat, mengeluarkan nanah atau cairan, serta disertai kulit kemerahan dan hangat.

Jika benjolan muncul akibat kecelakaan atau benturan keras, jangan tunda untuk langsung ke IGD, terutama bila disertai gejala serius seperti pingsan, kejang, mengantuk berlebihan, muntah terus-menerus, keluar cairan bening atau darah dari telinga maupun hidung, perbedaan ukuran pupil mata, bicara pelo, kebingungan, hilang ingatan, atau mengalami gangguan berjalan dan keseimbangan.