YOGYAKARTA - Pernah merasa mual, pusing, atau sakit perut setelah makan? Bisa jadi itu termasuk tanda-tanda keracunan makanan!
Kondisi ini sering dianggap sepele, padahal bila tidak ditangani bisa berdampak serius pada kesehatan dan mengganggu aktivitas harian. Keracunan makanan bisa dialami siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Tanda-Tanda Keracunan Makanan
Dilansir dari laman University of Utah Health, biasanya gejala keracunan makanan akan muncul dalam bentuk mual, muntah, diare, hingga kram perut. Dalam beberapa kasus, tubuh juga bisa terasa lemas disertai sakit kepala.
Umumnya, reaksi keracunan terjadi karena tubuh sedang berusaha melawan bakteri yang masuk lewat makanan tercemar. Akibatnya, penderita sering mengalami muntah berulang sebagai cara alami tubuh mengeluarkan zat berbahaya tersebut.
Menurut Dr. Madsen, gejala keracunan makanan umumnya mulai terasa sekitar enam jam setelah mengonsumsi makanan yang sudah terkontaminasi.
Perlu diketahui, salah satu penyebab paling sering adalah bakteri Staphylococcus aureus yang banyak ditemukan pada makanan berbahan dasar mayones, seperti salad kentang atau hidangan pesta yang dibiarkan terlalu lama di luar ruangan.
Kondisi penyimpanan yang kurang tepat pada beberapa makanan, akan memberi peluang bakteri berkembang biak dan memicu keracunan ketika dikonsumsi.
Baca juga artikel yang membahas Belum Banyak yang Tahu, Ini Ciri-Ciri Es Batu Air Mentah yang Perlu Anda Waspadai
Bagaimana Cara Mengatasi Keracunan Makanan?
Dalam banyak kasus, tubuh sebenarnya mampu menangani keracunan makanan secara alami. Menurut Dr. Madsen, bila kondisi tubuh Anda sehat, gejala biasanya akan berlangsung sekitar 6 hingga 12 jam.
Menariknya, tubuh Anda akan mulai pulih meskipun mungkin masih terasa lemah. Namun, bila Anda memiliki penyakit lain seperti gangguan ginjal, masalah jantung, atau berisiko dehidrasi, kondisi ini perlu lebih diwaspadai karena tubuh akan kehilangan banyak cairan.
Selain itu, perawatan medis biasanya juga diperlukan bila muntah tidak kunjung berhenti atau tubuh sangat lemas. Di ruang gawat darurat (IGD), dokter bisa memberikan cairan infus serta obat anti-mual untuk membantu mengurangi gejala.
Biasanya dokter juga dapat meresepkan obat anti-mual yang bisa diminum di rumah. Intinya, dengan menjaga asupan cairan tetap cukup menjadi kunci agar tubuh bisa pulih lebih cepat.
Kapan Harus ke Dokter?
Meski umumnya bisa sembuh sendiri, tidak semua sakit perut setelah makan berarti keracunan makanan. Dr. Madsen menekankan, jika gejala tidak membaik setelah 12 jam, atau muncul keluhan lain seperti nyeri perut hebat, perut terasa kembung dan keras, atau nyeri tajam di bagian kanan bawah perut, segera periksakan diri ke dokter.
Beberapa gejala di atas bisa menandakan kondisi lain seperti usus buntu, obstruksi usus, atau infeksi virus yang membutuhkan penanganan medis berbeda.
Keracunan makanan memang bisa dialami siapa saja dan sering datang tanpa diduga. Untuk itu, mengenali tanda-tanda awal seperti mual, muntah, diare, hingga kram perut sangat penting agar kita bisa segera mengambil langkah tepat.
Meski sebagian besar kasus dapat sembuh sendiri dalam hitungan jam, jangan abaikan bila gejala semakin parah atau berlangsung lebih lama.
BACA JUGA:
Yang paling penting tetap jaga kebersihan makanan, perhatikan cara penyimpanan, dan selalu dengarkan sinyal tubuh Anda. Dengan begitu, risiko keracunan makanan dapat diminimalisir.
Selain pembahasan mengenai tanda tanda keracunan makanan, ikuti artikel-artikel menarik lainnya di VOI, untuk mendapatkan kabar terupdate jangan lupa follow dan pantau terus semua akun sosial media kami!