JAKARTA - Dalam beberapa tahun terakhir, kopi dan minuman berkafein semakin lekat dengan gaya hidup masyarakat. Tak hanya menjadi teman bekerja atau belajar, kopi kini juga dipandang sebagai bagian dari tren sosial, dari ritual pagi untuk memulai hari, hingga gaya hidup nongkrong di kafe yang terus berkembang di berbagai kota.
Kandungan kafein di dalam kopi maupun teh dipercaya mampu meningkatkan energi dan mengusir rasa kantuk. Tak jarang, secangkir kopi hangat juga dipilih sebagai teman di musim hujan karena efeknya yang menenangkan sekaligus menghangatkan tubuh.
Namun, di balik popularitasnya, konsumsi kafein berlebihan menyimpan risiko yang jarang disadari.
“Kafein menghambat adenosin, zat kimia otak yang membantu kita rileks, membuat kita merasa waspada untuk sementara waktu. Setelah efeknya hilang, tubuh akan terasa lemas, menyebabkan kelelahan, keinginan untuk ngemil, sampai mudah tersinggung,” ujar Pelatih Gaya Hidup Nidhi Nahata dikutip dari Hindustan Times.
Ia menambahkan kafein memberikan efek “bangun” yang lebih cepat namun efek sampingnya bertahan jauh lebih lama.
BACA JUGA:
Lebih jauh, Nidhi menjelaskan musim hujan kerap membuat seseorang mengonsumsi air lebih sedikit. Padahal, kopi dan teh memiliki sifat diuretik yang memicu tubuh lebih sering buang air kecil. Kondisi ini bisa mengurangi cairan tubuh dan berujung pada dehidrasi ringan.
"Akibatnya kafein bisa menyebabkan kembung, kulit kering, energi menurun, sakit kepala hingga pencernaan yang kurang baik,” tambahnya.
Untuk mencegah efek samping tersebut, Nidhi merekomendasikan batas konsumsi kafein harian serta alternatif pilihan teh herbal yang lebih menyehatkan:
-
Kopi: 300–350 ml (sekitar 2 cangkir kecil)
-
Teh hitam/India: 450–500 ml (sekitar 3 cangkir kecil)
-
Teh hijau: 300 ml (1–2 cangkir)
-
Teh herbal: 500 ml (2–3 cangkir)
Meski begitu, ia menekankan bahwa kebutuhan cairan utama tetap berasal dari air putih. “Asupan air tidak tergantikan bahkan di musim hujan, yakni 2–2,5 liter setiap hari meskipun tidak merasa haus,” tegas Nidhi.