Bagikan:

JAKARTA - Radang usus buntu atau istilah medis disebut apendisitis adalah kondisi ketika usus buntu (apendiks) mengalami peradangan. Apendiks adalah organ kecil berbentuk tabung yang menempel di bagian awal usus besar, tepatnya di sisi kanan bawah perut. Meski ukurannya kecil dan fungsinya belum sepenuhnya diketahui, peradangan pada organ ini bisa menimbulkan dampak serius dan perlu penanganan cepat.

Gejala

Dilansir dari laman Cleveland Clinic, gejala radang usus buntu bisa berbeda-beda pada setiap orang, namun ada beberapa tanda umum yang sering muncul. Berikut 7 gejala-gejala yang perlu diwaspadai.

1. Nyeri Perut yang Berubah Lokasi

Nyeri biasanya dimulai di sekitar pusar, kemudian berpindah ke sisi kanan bawah perut. Rasa sakit bisa terasa tumpul di awal, lalu semakin tajam dan terus-menerus.

2. Mual dan Muntah

Setelah nyeri perut muncul, sering kali penderita merasa mual, bahkan bisa muntah. Ini merupakan reaksi tubuh terhadap peradangan di saluran pencernaan.

3. Kehilangan Nafsu Makan

Penderita radang usus buntu sering merasa tidak lapar atau kehilangan nafsu makan secara tiba-tiba.

4. Demam Ringan

Demam ringan (sekitar 37,5–38,5°C) bisa menjadi tanda tubuh sedang melawan infeksi. Pada kasus yang lebih parah, demam bisa lebih tinggi.

5. Perut Kembung atau Terasa Penuh

Perut bisa terlihat membengkak atau terasa tegang. Gejala ini biasanya muncul saat infeksi sudah menyebar atau apendiks hampir pecah.

6. Gangguan Buang Air Besar atau Kecil

Beberapa orang mengalami sembelit, sulit buang gas, atau malah diare. Terkadang juga muncul rasa ingin buang air kecil terus-menerus, karena letak apendiks yang dekat dengan kandung kemih.

7. Nyeri Saat Bergerak atau Batuk

Rasa sakit biasanya bertambah saat penderita batuk, bersin, berjalan, atau melakukan gerakan tiba-tiba.

Gejala bisa tidak khas, terutama pada anak-anak, lansia, atau wanita hamil. Jika merasakan nyeri di perut bagian kanan bawah yang semakin parah, sebaiknya segera periksa ke dokter.

Penyebab

Penyebab utama radang usus buntu adalah penyumbatan pada saluran apendiks, yang kemudian menyebabkan infeksi. Berikut ini 6 faktor-faktor yang bisa menyebabkan penyumbatan dan peradangan.

1. Tumpukan Feses (Kotoran Keras)

Salah satu penyebab paling umum adalah feses yang mengeras dan menyumbat lubang masuk apendiks. Kotoran ini membawa bakteri yang kemudian berkembang biak dan menimbulkan infeksi.

2. Pembesaran Jaringan Getah Bening

Saat tubuh melawan infeksi lain, jaringan getah bening di sekitar usus bisa membesar dan menekan apendiks hingga tersumbat.

3. Infeksi Saluran Pencernaan

Infeksi seperti diare atau radang usus bisa memicu reaksi inflamasi yang menjalar ke apendiks.

4. Benda Asing

Meski jarang, biji makanan, cacing usus, atau benda kecil lainnya bisa masuk dan menyumbat apendiks.

5. Tumor

Pada kasus langka, pertumbuhan tumor bisa menekan dan menyumbat apendiks.

6. Fibrosis atau Jaringan Parut

Bisa terjadi pada penderita penyakit kronis seperti kolitis atau penyakit Crohn, di mana jaringan parut menyumbat apendiks secara bertahap.

Radang usus buntu bisa memburuk dengan cepat. Jika tidak segera ditangani, apendiks bisa pecah dan menyebarkan infeksi ke seluruh rongga perut, yang bisa berakibat fatal. Karena itu, jika Anda mengalami nyeri perut yang tidak biasa dan memburuk dengan cepat, segera cari bantuan medis.