JAKARTA - Tidak semua bentuk lupa adalah tanda demensia. Pelupa yang muncul seiring bertambahnya usia sering kali merupakan bagian alami dari proses penuaan, sementara demensia adalah kondisi medis yang lebih serius dan progresif.
Memahami perbedaan antara keduanya penting agar tidak salah mengartikan gejala yang muncul, baik pada diri sendiri maupun orang terdekat.
Mengacu pada penjelasan dari situs resmi Kementerian Kesehatan RI, demensia bukan sekadar pelupa biasa, melainkan kumpulan gejala akibat penurunan fungsi kognitif otak. Gejala ini memengaruhi daya ingat, cara berpikir, komunikasi, perilaku, serta regulasi emosi, dan cenderung memburuk seiring waktu.
Meskipun terkadang membuat frustrasi, kelupaan sesekali yang masih wajar umumnya tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Berdasarkan laporan Medical Daily, bentuk kelupaan ini tergolong normal dan merupakan bagian dari proses penuaan alami.
Pada kondisi penuaan normal, seseorang mungkin lupa informasi dari masa lalu, namun biasanya masih dapat mengingatnya setelah diberi petunjuk. Sebaliknya, penderita demensia sering mengalami kesulitan mengingat hal-hal yang baru terjadi, seperti percakapan yang baru saja dilakukan atau peristiwa sehari-hari.
BACA JUGA:
Tanda-tanda lain dari demensia bisa mencakup kesulitan berbicara dan memahami ucapan, bingung tentang waktu atau tempat, perubahan perilaku, kesulitan menjalankan aktivitas rutin, hingga gangguan persepsi ruang yang bisa menyebabkan mudah terjatuh. Bahkan, penderita mungkin kesulitan membedakan warna atau mengenali wajah yang baru saja ditemui.
Penting dicatat stres, kelelahan, depresi, gangguan tidur, kurang gizi, efek samping obat, atau kondisi medis lain seperti masalah tiroid atau cedera kepala juga bisa menyebabkan gangguan memori.
Jika gangguan ingatan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau terjadi secara konsisten, disarankan untuk segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Beberapa tanda yang patut diwaspadai meliputi: mengulang pertanyaan yang sama berulang kali, tersesat di tempat yang biasa dikunjungi, atau mengalami kesulitan dalam mengurus diri sendiri.
Namun, penting untuk diingat bahwa kehilangan ingatan saja tidak cukup untuk menyimpulkan seseorang mengidap demensia. Diagnosis hanya bisa ditegakkan oleh profesional medis setelah melalui serangkaian pemeriksaan, termasuk evaluasi riwayat kesehatan, tes kognitif, pemeriksaan fisik, serta pencitraan otak jika diperlukan.
Dalam beberapa kasus, seseorang mungkin didiagnosis dengan gangguan kognitif ringan (mild cognitive impairment). Meski mirip dengan demensia, kondisi ini masih memungkinkan penderitanya menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri dan tidak selalu berkembang menjadi demensia.