Bagikan:

YOGYAKARTA – Saat tidak puasa, sehari bisa makan berat tiga kali atau lebih. Puasa secara umum dilakukan untuk mengurangi berat badan. Bersamaan dengan momen puasa Ramadan, selain menjalankan ibadah, puasa bermanfaat bagi kesehatan. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cell Reports menunjukkan bukti bahwa puasa baik untuk tubuh. Ketika puasa, tubuh menggunakan lemak dan karbohidrat yang tersimpan sebagai sumber energi. Dalam konteks penelitian yang menunjukkan manfaat puasa, meneliti tentang puasa  serta efeknya menurunkan risiko peradangan.

Ahli mengatakan bahwa inflamasi atau peradangan menyebabkan berbagai penyakit kronis. Salah satunya adalah sindrom metabolik yang meningkatkan risiko diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan obesitas. Dalam beberapa kasus, inflamasi mungkin menyebabkan tubuh bertahan melawan virus, bakteri, dan organisme lain yang menyebabkan infeksi. Tetapi terkadang tubuh keliru menganggap sela tau jaringannya sehingga respons ini bisa berbahaya karena dapat menyebabkan penyakit autoimun, seperti diabetes tipe 1 dan penyakit radang usus.

puasa mengurangi risiko inflamasi yang menyebabkan penyakit
Ilustrasi puasa mengurangi risiko inflamasi yang menyebabkan penyakit (Freepik)

Peneliti dalam penelitian terbaru ini mengatakan bahwa makan makanan tinggi kalori berkaitan dengan sindrom peradangan metabolik kronis, disebut metainflamasi. Metainflamasi mendasari banyak penyakit tidak menular yang umum dialami. Dilansir Medical News Today, Kamis, 13 Maret, penelitian ini melaporkan bahwa peningkatan kadar protein respons imun interleukin (IL)-1β, aktivitas inflamasom NLRP3, dan peradangan sistemik merupakan ciri khas sindrom peradangan metabolik kronis.

Laporan juga mencatat bahwa asam arakidonat eksogen dapat mengganggu aktivitas inflamasom NLRP3 pada makrofag manusia dan tikus. Peneliti mengambil sampel serum dari 21 relawan, yang mengkonsumsi makanan dasar 500 kilokalori, berpuasa selama 24 jam, dan kemudian mengkonsumsi makanan 500 kilokalori lagi. Pada sel mononuklear darah tepi (PBMC) dari para relawan ini, kadar IL-1β meningkat 3 jam setelah makan kedua. Asam arakidonat plasma meningkat pada relawan selama puasa tetapi berkurang setelah makan kedua. Pada peserta yang berpuasa, dibandingkan dengan peserta lain dengan rencana makan yang lebih normal, IL-1β plasma lebih rendah dan asam arakidonat lebih tinggi. Asam arakidonat menghambat fosfolipase C dan mengurangi stimulasi JNK dan aktivitas NLRP3, kata mereka.

Perlu diketahui, metainflamasi adalah proses kompleks yang melibatkan respons imun spesifik jaringan dan sistemik yang terintegrasi di samping regulasi metabolik. Peneliti mengatakan, puasa membantu menekan peradangan metabolik dan ditandai dengan penurunan sitokin pro-inflamasi serum, khususnya yang disebut interlukin yang terkait erat dengan regulasi insulin dan kadar glukosa.

"Pola makan yang kaya akan asam lemak jenuh, seperti asam palmitat atau asam stearat, juga memicu aktivitas peradangan NLRP3," kata peneliti.

Ahli diet yang tidak terlibat dalam penelitian ini, Ro Huntriss, mengatakan bahwa asam arakardionat, asam lemak tak jenuh ganda, mungkin merupakan pengatur fisiologis penting dari peradangan metabolik. Asam arakardionat ini, diperoleh dari makan daging, unggas, dan telur, jelas Huntriss. Kemudian disimpan sebagai komponen fosfolipid dalam membran sel.

"Mereka -peneliti- menemukan bahwa aktivitas NLRP3 kemudian meningkat ketika para relawan mengonsumsi makanan lagi. Oleh karena itu, penelitian tersebut memberikan mekanisme potensial yang menjelaskan bagaimana puasa mengurangi peradangan," katanya.

Penelitian ini melaporkan temuan yang menarik, komentar Huntriss. Sementara onkolog medis dan hematologi, dokter Luke Chen mengatakan, efek peradangan kronis lebih serius dan lebih jelas beberapa tahun terakhir. Orang yang mengalami peradangan kronis serta kolitis ulseratif dan penyakit Crohn misalnya, memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker kolorektal, kelas Chen.

Selain mendapatkan manfaat puasa, penting juga menjaga asupan sehat sehari-hari. Ini penting supaya tubuh tetap mendapat energi memadai untuk bisa tetap aktif beraktivitas.