Bagikan:

JAKARTA - Meski terdapat kemajuan dalam pengendaliannya melalui vaksinasi, kasus campak pada anak masih menjadi tantangan global. Campak belum sepenuhnya terkendali, bahkan ditemukan peningkatan pada beberapa kawasan.

“Kasus campak global turun dari tahun 2000 hingga 2016, tetapi trennya berbalik pada tahun 2018, yang sebagian disebabkan oleh kurangnya vaksinasi dan dampak pandemi,” kata profesor di Fakultas Kedokteran McGill, Brian Ward, dikutip dari IDSE.net, pada Rabu, 22 Januari 2025.

“Campak kini kembali mewabah di banyak bagian dunia, meskipun dapat dicegah dengan vaksinasi dan kekebalan yang memadai,” tambahnya.

Wabah campak beberapa tahun terakhir ditemukan melonjak di beberapa negara berkembang di Asia dan Afrika, juga di negara-negara maju. Terkait lonjakan kasus campak global ini, penelitian baru menunjukkan bahwa kekurangan gizi bisa memperburuk wabahnya, terlebih pada daerah yang kerawanan pangan.

Penelitian melibatkan lebih dari 600 anak yang divaksinasi lengkap di Afrika Selatan. Ditemukan bahwa anak yang kekurangan gizi memiliki tingkat antibodi yang jauh lebih rendah terhadap campak.

Hasil penelitian juga menyebutkan bahwa kekurangan gizi dapat memengaruhi durasi perlindungan vaksin. Dengan kata lain, meski sudah mendapatkan vaksin, anak yang kekurangan gizi tetap memiliki perlindungan lebih rendah pada penyakit, termasuk campak.

Oleh karena itu, perbaikan gizi sangat dibutuhkan untuk mengatasi lonjakan kasus campak, terutama pada anak-anak agar pencegahan dan efek vaksinasi berjalan dengan baik. Selain itu, perubahan iklim juga harus diwaspadai untuk penyebaran campak.

“Terutama juga saat ini di mana penyakit itu lebih muda menyebar karena perubahan iklim,” kata peneliti dari Universitas California, Berkeley, Brenda Ekskenzazi.