Bagikan:

JAKARTA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap kematian akibat campak mengalami penurunan yang signifikan, yakni mencapai 88 persen antara tahun 2000 dan 2024. Hampir 59 juta nyawa yang telah diselamatkan oleh vaksin campak sejak tahun 2000.

Namun, meskipun lebih sedikit kematian, kasus campak masih tetap melonjak di seluruh dunia. Perkiraan 11 juta infeksi pada tahun 2024, hampir 800 ribu lebih banyak dari tingkat pra-pandemi pada tahun 2019.

“Campak adalah virus paling menular di dunia dan data ini menunjukkan sekali lagi bagaimana hal itu akan mengeksploitasi celah dalam pertahanan kolektif kita terhadapnya,” kata Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, dikutip dari laman resmi WHO, Sabtu, 29 November 2025.

Kasus campak pada tahun 2024 meningkat sebesar 86 persen di wilayah Mediterania Timur WHO, 47 persen di Eropa, dan 42 persen di Asia Tenggara, dibandingkan dengan tahun 2019.

Lonjakan kasus campak baru-baru ini juga terjadi negara dan wilayah di mana anak-anak memiliki gizi baik dan akses ke layanan kesehatan. Meski demikian, mereka yang terinfeksi tetap berisiko mengalami komplikasi serius dan permanen.

Adapun komplikasi campak yang bisa terjadi jika penanganannya tidak cepat dan tepat adalah kebutaan, pneumonia, dan ensefalitis atau infeksi yang menyebabkan pembengkakan otak dan berpotensi menyebabkan kerusakan otak.

Oleh karena itu, imunisasi vaksin campak masih menjadi langkah penting untuk pecegahan infeksi campak, terutama pada anak-anak yang menjadi kelompok rentan.

WHO menegaskan anak-anak harus mendapatkan imunisasi vaksin dengan dosis yang lengkap. Vaksin campak diperlukan untuk menghentikan penularan dan melindungi masyarakat dari wabahnya.

“Campak tidak menghormati perbatasan, tetapi ketika setiap anak di setiap komunitas divaksinasi, wabah ini dapat dihindari, nyawa dapat diselamatkan, dan penyakit ini dapat dihilangkan dari seluruh negara,” pungkas Tedros.