Ahli Gizi Ungkap Anjuran Intermitten Fasting untuk Menurunkan Berat Badan

JAKARTA - Untuk menurunkan berat badan, terdapat banyak metode diet yang bisa dilakukan. Salah satu yang populer adalah intermitten fasting (IF).

IF merupakan metode diet yang fokus pada kapan seseorang makan, dengan menggabungkan periode makan dan puasa secara teratur. Dokter spesialis Gizi Klinik Subspesialis Nutrisi, dr. Ida Gunawan, Ms, Sp. G.K, Subsp. K.M., FINEM, mengatakan waktu puasa IF yang dianjurkan adalah 14 sampai 16 jam.

“IF itu dianjurkan 14 jam puasanya, makanya kalau 20 jam itu, emosinya nggak karuan. Jadi dianjurkan 14-16 jam,” ungkap Dokter Ida, saat ditemui di kawasan Gunawarman, Jakarta, ditulis pada Senin, 20 Oktober 2025.

Dengan periode puasa tersebut, proses inflamasi sel disebut akan berjalan dengan baik. Dengan demikian maka dapat membantu menurunkan berat badan dengan lebih baik.

“Selama 14-16 jam itu, proses inflamasi selnya akan baik, jadi akan turun dengan baik,” tambahnya.

Meski demikian, Dokter Ida juga menegaskan bahwa saat periode buka puasa saat IF, makanan dan jam makannya tetap harus diatur. Ini untuk mencegah konsumsi makanan berlebih saat jam buka puasa, yang malah berdampak negatif pada penurunan berat badan.

“Makan harus ikut waktunya, biasanya kita anjurkan tiga jam sekali. Jadi ada on-off. Kalau Anda melakukan IF 14-16 jam, makan terakhir jam tujuh (malam), maka besok makan mulai jam 9,” jelasnya.

“Sarapan jam 9, jam 12 makan siang, jam 3 waktu snack, jam 6 sore sampai jam 7, makan, selesai,” lanjutnya.

Selain itu, Dokter Ida mengingatkan untuk tidak mengonsumsi makanan di luar jam buka puasa atau jendela makan. Dengan melakukannya secara konsisten dan teratur pada waktunya, maka intermitten fasting bisa berhasil dan berdampak signifikan pada penurunan berat badan.

“Jadi di luar jam itu tidak boleh (makan), tetap ada waktunya. Supaya dari intermitten fasting ini dapat (berhasil),” pungkas Dokter Ida.