Partager:

JAKARTA - Polisi Swedia harus diizinkan untuk menggunakan teknologi pengenalan wajah bertenaga AI (kecerdasan buatan) secara real-time untuk memerangi kejahatan, usulan pemerintah Swedia pada Hari Kamis, seiring dengan upaya mereka untuk menemukan cara-cara baru untuk menghentikan tindak kejahatan yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Undang-undang yang diusulkan akan memungkinkan polisi untuk menggunakan teknologi AI untuk menemukan atau mengidentifikasi orang-orang yang terkait dengan kejahatan serius, seperti perdagangan manusia, penculikan dan pembunuhan.

"Untuk menekan kejahatan geng dan memulihkan keamanan di masyarakat, polisi harus memiliki akses ke alat yang efektif," kata Menteri Kehakiman Gunnar Strommer dalam sebuah pernyataan, melansir Reuters 20 Maret.

Pemerintah mengatakan, undang-undang baru ini, yang masih harus melalui pemungutan suara di parlemen dan akan mulai berlaku pada awal 2026 jika disahkan, akan mematuhi undang-undang integritas pribadi dan hanya digunakan dalam hal-hal yang sangat penting.

Swedia diketahui dilanda kekerasan geng selama lebih dari satu dekade dan sejauh ini memiliki tingkat kekerasan senjata api mematikan tertinggi di Uni Eropa per kapita pada tahun 2023, tahun terakhir yang memiliki statistik yang sebanding.

Kekerasan telah membayangi semua hal lain dalam politik Swedia, mendorong kebangkitan koalisi sayap kanan yang berkuasa pada tahun 2022 dengan dukungan dari sayap kanan. Peluncuran koalisi ini mengakhiri delapan tahun kekuasaan Partai Sosial Demokrat, partai politik dominan di Swedia sejak 1930-an.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)