ACEH - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mendorong pemulihan kegiatan belajar mengajar bagi siswa-siswi di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di Provinsi Aceh. Salah satu upaya tersebut dilakukan di Desa Sekualan, Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyampaikan, dukungan pemulihan pendidikan menjadi perhatian penting pemerintah di tengah masa tanggap darurat pascabanjir.

"Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mendukung pemulihan kegiatan belajar mengajar bagi siswa-siswi yang berada di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di Provinsi Aceh," kata Abdul Muhari dalam keterangannya, Rabu, 7 Januari.

Di Desa Sekualan, banjir sebelumnya merendam SD Negeri 2 Lokop hingga menyebabkan gedung sekolah beserta sarana dan prasarana tidak lagi dapat digunakan. Pada hari pertama masuk sekolah semester genap tahun ajaran 2025/2026, para siswa terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan kondisi sangat terbatas.

"Pada hari pertama sekolah semester genap tahun ajaran 2025/2026 kemarin, siswa-siswi ini hanya bisa belajar dengan alas terpal beratapkan langit," ujar Abdul Muhari.

Pihak sekolah kemudian mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk penyediaan sarana penunjang sekolah darurat. Menindaklanjuti permintaan tersebut, BNPB bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Timur dan personel TNI bergerak menuju lokasi dengan membawa tenda peleton dan perlengkapan pendukung lainnya.

Setibanya di lokasi, tenda berukuran 6x12 meter langsung didirikan, dilengkapi alas tikar terpal serta sarana prasarana pendukung kegiatan belajar mengajar. Kehadiran tenda tersebut membuat siswa memiliki ruang belajar yang lebih layak dibanding sebelumnya.

Langkah serupa juga dilakukan BNPB di Kabupaten Pidie Jaya. Pada Senin, 5 Januari, kegiatan belajar mengajar semester genap tahun ajaran 2025/2026 mulai dilaksanakan di SD IT An-Nur, Yayasan Teungku Chiek Pante Geulima, meski gedung sekolah belum dapat digunakan akibat banjir.

"Gedung-gedung sekolah untuk anak-anak PAUD, SD dan SMP tidak bisa dipakai karena banjir. Maka dari itu, kegiatan belajar mengajar sementara dilakukan di bawah tenda peleton yang telah disiapkan oleh BNPB bersama pemda setempat," kata Abdul Muhari.

Kegiatan sekolah darurat di Pidie Jaya turut ditinjau langsung oleh Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi bersama Tenaga Ahli BNPB Agus Marsanto dan Pelaksana Tugas Direktur Pemulihan Sosial, Ekonomi, dan SDA BNPB Asep Supriatna. Antusiasme siswa terlihat meski proses belajar harus dilakukan dalam kondisi terbatas.

Tak hanya meninjau, jajaran pemerintah daerah dan BNPB juga memberikan dukungan berupa peralatan sekolah bagi para siswa. Pemerintah pusat dan daerah disebut akan terus berkolaborasi untuk memastikan pemulihan pendidikan berjalan hingga kondisi benar-benar normal.

Ke depan, BNPB juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikbudasmen) untuk memperbaiki dan membangun kembali sekolah-sekolah yang rusak akibat bencana.

"BNPB bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikbudasmen) telah berkoordinasi untuk memperbaiki hingga membangun kembali sekolah-sekolah yang rusak terdampak bencana," ujar Abdul Muhari.

Selain perbaikan sarana dan prasarana, Kemendikbudasmen juga akan memberikan tunjangan bagi para guru serta dukungan lain pascabencana. Upaya ini menjadi bagian dari kolaborasi lintas sektor dalam memulihkan kehidupan masyarakat terdampak.

"Perlahan tapi pasti, jerih payah dari seluruh personel mulai dari pemerintah pusat dan daerah, TNI/Polri, relawan diharapkan mulai dirasakan. Semuanya bersatu demi mewujudkan Aceh dan Sumatera bangkit," pungkas Abdul Muhari.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)