JAKARTA - Motivasi yang tinggi pada guru terbukti berperan besar dalam menciptakan pembelajaran yang efektif, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kecerdasan dan kemampuan literasi peserta didik.

Dalam hal ini, guru yang terinspirasi dan terlibat secara emosional dalam proses mengajar cenderung mampu membangun lingkungan kelas yang mendukung, mendorong semangat belajar siswa, dan menanamkan nilai-nilai kemandirian serta rasa ingin tahu.

Hal inilah yang menjadi dasar dari kolaborasi antara STiR Education dan Yayasan Bakti Barito, yang bertujuan untuk memperkuat motivasi guru demi menciptakan perubahan nyata dalam sistem pendidikan Indonesia.

Sejak dimulai pada 2022 dan dikelola oleh Yayasan Bakti Pendidikan Unggul, kemitraan ini mendorong peningkatan kualitas pendidikan melalui Program STIR (Sistem Pendidikan Terpadu untuk Inovasi dan Karakter).

Program ini dirancang untuk membangkitkan kembali motivasi intrinsik guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran siswa secara menyeluruh, tanpa membangun sistem baru, melainkan memanfaatkan struktur pendidikan yang sudah ada.

Hasil evaluasi independen yang dilakukan oleh Deloitte dan ditinjau oleh Profesor Nishith Prakash dari Northeastern University menunjukkan pendekatan ini membuahkan hasil yang signifikanmelalui pendekatan yang berfokus pada motivasi guru, praktik profesional, serta dukungan sistemik di sekolah.

Salah satu temuan utama menunjukkan bahwa tingkat literasi siswa di sekolah mitra meningkat sebesar 16,4% dibandingkan dengan sekolah non-mitra. Selain itu, sebanyak 42,3% siswa di sekolah mitra merasa memiliki hubungan sosial yang lebih kuat dengan teman sebayanya. Tak hanya itu, 15,7% siswa juga menunjukkan dorongan lebih tinggi untuk bersikap proaktif dalam pembelajaran.

"Kami menemukan peningkatan dalam literasi, dan fokus pada motivasi guru dan sistem pembelajaran tampaknya menciptakan perubahan yang berarti dalam praktik pembelajaran di kelas,"

"Ini adalah model yang menjanjikan untuk perbaikan sistem pendidikan skala besar,” kata Profesor Nishith Prakash, Profesor Kebijakan Publik dan Ekonomi, Universitas Northeastern, dalam keterangannya.

Hasil tersebut memperkuat keyakinan pemberdayaan guru sebagai tenaga pendidik dengan pendekatan yang terstruktur dan sistematis dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas belajar siswa, baik dari aspek akademik maupun sosial.

Keberhasilan ini tidak lepas dari pendekatan sistemik yang menyentuh berbagai lapisan pendidikan, mulai dari guru, kepala sekolah, pengawas, hingga pejabat dinas pendidikan.

Program ini memberikan panduan jelas tentang keterampilan dan sikap yang dibutuhkan siswa untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Di daerah seperti Kota Kediri dan Kabupaten Lumajang, Program STIR bahkan telah mendorong perubahan positif dalam indikator Rapor Pendidikan.

Beberapa indikator yang sebelumnya berstatus kuning kini telah meningkat menjadi hijau, mencerminkan dampak program dalam peningkatan mutu pendidikan secara konkret.

"Evaluasi ini meyakinkan kami ketika kami mendukung guru untuk menghidupkan kembali motivasi intrinsik mereka dan melibatkan dinas pendidikan (seperti pejabat pendidikan, pengawas sekolah, dan kepala sekolah), kami dapat mengatalisasi perubahan yang mendalam dan berkelanjutan dalam sistem pendidikan,” ujar Yoni Nurdiansyah, Direktur Eksekutif Program STIR di Indonesia.

Kegiatan kolaboratif seperti Forum Fasilitator di Kota Kediri memperlihatkan bagaimana guru dapat saling berbagi praktik terbaik dan menyusun rencana pembelajaran yang lebih relevan.

Pendampingan yang terstruktur dalam pendidikan anak Narasumber yang hadir dalam konferensi pers STiR Education (dok. Bakti Barito)

Sementara itu, pendampingan terstruktur dan pembinaan yang berkelanjutan memungkinkan para guru mengembangkan kapasitas mereka secara profesional dan emosional, sehingga menciptakan ruang kelas yang lebih dinamis dan responsif terhadap kebutuhan siswa.

"Dedikasi pemerintah dan pemangku kepentingan telah berperan penting dalam perjalanan ini. Kami sangat antusias untuk membangun momentum ini seiring dengan perluasan jangkauan ke lebih banyak kabupaten dan memperdalam dukungan kami kepada pemerintah daerah."

Yoni Nurdiansyah, Direktur Eksekutif Program STIR di Indonesia, menyampaikan bahwa perubahan yang terjadi tidak hanya terlihat dari hasil evaluasi, tetapi juga dari semangat baru yang muncul di kalangan guru dan pemangku kepentingan. Ia menekankan pentingnya membangun motivasi dari dalam diri guru serta memperkuat dukungan sistem pendidikan agar transformasi yang tercipta bisa berkelanjutan.

Sementara itu, Dian A. Purbasari, Direktur Yayasan Bakti Barito, menegaskan kemitraan ini menghadirkan solusi yang efisien namun berdampak besar. Dengan biaya yang relatif rendah per siswa, program ini terbukti tidak hanya layak secara anggaran, tetapi juga sangat relevan untuk diterapkan di berbagai daerah, terutama dalam konteks keterbatasan sumber daya pendidikan.

Ke depannya, keberhasilan Program STIR diharapkan menjadi inspirasi bagi lebih banyak daerah untuk mengadopsi pendekatan serupa. Dengan menempatkan motivasi guru sebagai fondasi utama, sistem pendidikan Indonesia dapat bergerak menuju transformasi yang lebih dalam, menyeluruh, dan berkelanjutan.

JAKARTA - Motivasi yang tinggi pada guru terbukti berperan besar dalam menciptakan pembelajaran yang efektif, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kecerdasan dan kemampuan literasi peserta didik.

Dalam hal ini, guru yang terinspirasi dan terlibat secara emosional dalam proses mengajar cenderung mampu membangun lingkungan kelas yang mendukung, mendorong semangat belajar siswa, dan menanamkan nilai-nilai kemandirian serta rasa ingin tahu.

Hal inilah yang menjadi dasar dari kolaborasi antara STiR Education dan Yayasan Bakti Barito, yang bertujuan untuk memperkuat motivasi guru demi menciptakan perubahan nyata dalam sistem pendidikan Indonesia.

Sejak dimulai pada 2022 dan dikelola oleh Yayasan Bakti Pendidikan Unggul, kemitraan ini mendorong peningkatan kualitas pendidikan melalui Program STIR (Sistem Pendidikan Terpadu untuk Inovasi dan Karakter).

Program ini dirancang untuk membangkitkan kembali motivasi intrinsik guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran siswa secara menyeluruh, tanpa membangun sistem baru, melainkan memanfaatkan struktur pendidikan yang sudah ada.

Hasil evaluasi independen yang dilakukan oleh Deloitte dan ditinjau oleh Profesor Nishith Prakash dari Northeastern University menunjukkan pendekatan ini membuahkan hasil yang signifikanmelalui pendekatan yang berfokus pada motivasi guru, praktik profesional, serta dukungan sistemik di sekolah.

Salah satu temuan utama menunjukkan bahwa tingkat literasi siswa di sekolah mitra meningkat sebesar 16,4% dibandingkan dengan sekolah non-mitra. Selain itu, sebanyak 42,3% siswa di sekolah mitra merasa memiliki hubungan sosial yang lebih kuat dengan teman sebayanya. Tak hanya itu, 15,7% siswa juga menunjukkan dorongan lebih tinggi untuk bersikap proaktif dalam pembelajaran.

"Kami menemukan peningkatan dalam literasi, dan fokus pada motivasi guru dan sistem pembelajaran tampaknya menciptakan perubahan yang berarti dalam praktik pembelajaran di kelas,"

"Ini adalah model yang menjanjikan untuk perbaikan sistem pendidikan skala besar,” kata Profesor Nishith Prakash, Profesor Kebijakan Publik dan Ekonomi, Universitas Northeastern, dalam keterangannya.

Hasil tersebut memperkuat keyakinan pemberdayaan guru sebagai tenaga pendidik dengan pendekatan yang terstruktur dan sistematis dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas belajar siswa, baik dari aspek akademik maupun sosial.

Keberhasilan ini tidak lepas dari pendekatan sistemik yang menyentuh berbagai lapisan pendidikan, mulai dari guru, kepala sekolah, pengawas, hingga pejabat dinas pendidikan.

Program ini memberikan panduan jelas tentang keterampilan dan sikap yang dibutuhkan siswa untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Di daerah seperti Kota Kediri dan Kabupaten Lumajang, Program STIR bahkan telah mendorong perubahan positif dalam indikator Rapor Pendidikan.

Beberapa indikator yang sebelumnya berstatus kuning kini telah meningkat menjadi hijau, mencerminkan dampak program dalam peningkatan mutu pendidikan secara konkret.

"Evaluasi ini meyakinkan kami ketika kami mendukung guru untuk menghidupkan kembali motivasi intrinsik mereka dan melibatkan dinas pendidikan (seperti pejabat pendidikan, pengawas sekolah, dan kepala sekolah), kami dapat mengatalisasi perubahan yang mendalam dan berkelanjutan dalam sistem pendidikan,” ujar Yoni Nurdiansyah, Direktur Eksekutif Program STIR di Indonesia.

Kegiatan kolaboratif seperti Forum Fasilitator di Kota Kediri memperlihatkan bagaimana guru dapat saling berbagi praktik terbaik dan menyusun rencana pembelajaran yang lebih relevan.

Pendampingan yang terstruktur dalam pendidikan anak Narasumber yang hadir dalam konferensi pers STiR Education (dok. Bakti Barito)

Sementara itu, pendampingan terstruktur dan pembinaan yang berkelanjutan memungkinkan para guru mengembangkan kapasitas mereka secara profesional dan emosional, sehingga menciptakan ruang kelas yang lebih dinamis dan responsif terhadap kebutuhan siswa.

"Dedikasi pemerintah dan pemangku kepentingan telah berperan penting dalam perjalanan ini. Kami sangat antusias untuk membangun momentum ini seiring dengan perluasan jangkauan ke lebih banyak kabupaten dan memperdalam dukungan kami kepada pemerintah daerah."

Yoni Nurdiansyah, Direktur Eksekutif Program STIR di Indonesia, menyampaikan bahwa perubahan yang terjadi tidak hanya terlihat dari hasil evaluasi, tetapi juga dari semangat baru yang muncul di kalangan guru dan pemangku kepentingan. Ia menekankan pentingnya membangun motivasi dari dalam diri guru serta memperkuat dukungan sistem pendidikan agar transformasi yang tercipta bisa berkelanjutan.

Sementara itu, Dian A. Purbasari, Direktur Yayasan Bakti Barito, menegaskan kemitraan ini menghadirkan solusi yang efisien namun berdampak besar. Dengan biaya yang relatif rendah per siswa, program ini terbukti tidak hanya layak secara anggaran, tetapi juga sangat relevan untuk diterapkan di berbagai daerah, terutama dalam konteks keterbatasan sumber daya pendidikan.

Ke depannya, keberhasilan Program STIR diharapkan menjadi inspirasi bagi lebih banyak daerah untuk mengadopsi pendekatan serupa. Dengan menempatkan motivasi guru sebagai fondasi utama, sistem pendidikan Indonesia dapat bergerak menuju transformasi yang lebih dalam, menyeluruh, dan berkelanjutan.

JAKARTA - Motivasi yang tinggi pada guru terbukti berperan besar dalam menciptakan pembelajaran yang efektif, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kecerdasan dan kemampuan literasi peserta didik.

Dalam hal ini, guru yang terinspirasi dan terlibat secara emosional dalam proses mengajar cenderung mampu membangun lingkungan kelas yang mendukung, mendorong semangat belajar siswa, dan menanamkan nilai-nilai kemandirian serta rasa ingin tahu.

Hal inilah yang menjadi dasar dari kolaborasi antara STiR Education dan Yayasan Bakti Barito, yang bertujuan untuk memperkuat motivasi guru demi menciptakan perubahan nyata dalam sistem pendidikan Indonesia.

Sejak dimulai pada 2022 dan dikelola oleh Yayasan Bakti Pendidikan Unggul, kemitraan ini mendorong peningkatan kualitas pendidikan melalui Program STIR (Sistem Pendidikan Terpadu untuk Inovasi dan Karakter).

Program ini dirancang untuk membangkitkan kembali motivasi intrinsik guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran siswa secara menyeluruh, tanpa membangun sistem baru, melainkan memanfaatkan struktur pendidikan yang sudah ada.

Hasil evaluasi independen yang dilakukan oleh Deloitte dan ditinjau oleh Profesor Nishith Prakash dari Northeastern University menunjukkan pendekatan ini membuahkan hasil yang signifikanmelalui pendekatan yang berfokus pada motivasi guru, praktik profesional, serta dukungan sistemik di sekolah.

Salah satu temuan utama menunjukkan bahwa tingkat literasi siswa di sekolah mitra meningkat sebesar 16,4% dibandingkan dengan sekolah non-mitra. Selain itu, sebanyak 42,3% siswa di sekolah mitra merasa memiliki hubungan sosial yang lebih kuat dengan teman sebayanya. Tak hanya itu, 15,7% siswa juga menunjukkan dorongan lebih tinggi untuk bersikap proaktif dalam pembelajaran.

"Kami menemukan peningkatan dalam literasi, dan fokus pada motivasi guru dan sistem pembelajaran tampaknya menciptakan perubahan yang berarti dalam praktik pembelajaran di kelas,"

"Ini adalah model yang menjanjikan untuk perbaikan sistem pendidikan skala besar,” kata Profesor Nishith Prakash, Profesor Kebijakan Publik dan Ekonomi, Universitas Northeastern, dalam keterangannya.

Hasil tersebut memperkuat keyakinan pemberdayaan guru sebagai tenaga pendidik dengan pendekatan yang terstruktur dan sistematis dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas belajar siswa, baik dari aspek akademik maupun sosial.

Keberhasilan ini tidak lepas dari pendekatan sistemik yang menyentuh berbagai lapisan pendidikan, mulai dari guru, kepala sekolah, pengawas, hingga pejabat dinas pendidikan.

Program ini memberikan panduan jelas tentang keterampilan dan sikap yang dibutuhkan siswa untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Di daerah seperti Kota Kediri dan Kabupaten Lumajang, Program STIR bahkan telah mendorong perubahan positif dalam indikator Rapor Pendidikan.

Beberapa indikator yang sebelumnya berstatus kuning kini telah meningkat menjadi hijau, mencerminkan dampak program dalam peningkatan mutu pendidikan secara konkret.

"Evaluasi ini meyakinkan kami ketika kami mendukung guru untuk menghidupkan kembali motivasi intrinsik mereka dan melibatkan dinas pendidikan (seperti pejabat pendidikan, pengawas sekolah, dan kepala sekolah), kami dapat mengatalisasi perubahan yang mendalam dan berkelanjutan dalam sistem pendidikan,” ujar Yoni Nurdiansyah, Direktur Eksekutif Program STIR di Indonesia.

Kegiatan kolaboratif seperti Forum Fasilitator di Kota Kediri memperlihatkan bagaimana guru dapat saling berbagi praktik terbaik dan menyusun rencana pembelajaran yang lebih relevan.

Pendampingan yang terstruktur dalam pendidikan anak Narasumber yang hadir dalam konferensi pers STiR Education (dok. Bakti Barito)

Sementara itu, pendampingan terstruktur dan pembinaan yang berkelanjutan memungkinkan para guru mengembangkan kapasitas mereka secara profesional dan emosional, sehingga menciptakan ruang kelas yang lebih dinamis dan responsif terhadap kebutuhan siswa.

"Dedikasi pemerintah dan pemangku kepentingan telah berperan penting dalam perjalanan ini. Kami sangat antusias untuk membangun momentum ini seiring dengan perluasan jangkauan ke lebih banyak kabupaten dan memperdalam dukungan kami kepada pemerintah daerah."

Yoni Nurdiansyah, Direktur Eksekutif Program STIR di Indonesia, menyampaikan bahwa perubahan yang terjadi tidak hanya terlihat dari hasil evaluasi, tetapi juga dari semangat baru yang muncul di kalangan guru dan pemangku kepentingan. Ia menekankan pentingnya membangun motivasi dari dalam diri guru serta memperkuat dukungan sistem pendidikan agar transformasi yang tercipta bisa berkelanjutan.

Sementara itu, Dian A. Purbasari, Direktur Yayasan Bakti Barito, menegaskan kemitraan ini menghadirkan solusi yang efisien namun berdampak besar. Dengan biaya yang relatif rendah per siswa, program ini terbukti tidak hanya layak secara anggaran, tetapi juga sangat relevan untuk diterapkan di berbagai daerah, terutama dalam konteks keterbatasan sumber daya pendidikan.

Ke depannya, keberhasilan Program STIR diharapkan menjadi inspirasi bagi lebih banyak daerah untuk mengadopsi pendekatan serupa. Dengan menempatkan motivasi guru sebagai fondasi utama, sistem pendidikan Indonesia dapat bergerak menuju transformasi yang lebih dalam, menyeluruh, dan berkelanjutan.

JAKARTA - Motivasi yang tinggi pada guru terbukti berperan besar dalam menciptakan pembelajaran yang efektif, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kecerdasan dan kemampuan literasi peserta didik.

Dalam hal ini, guru yang terinspirasi dan terlibat secara emosional dalam proses mengajar cenderung mampu membangun lingkungan kelas yang mendukung, mendorong semangat belajar siswa, dan menanamkan nilai-nilai kemandirian serta rasa ingin tahu.

Hal inilah yang menjadi dasar dari kolaborasi antara STiR Education dan Yayasan Bakti Barito, yang bertujuan untuk memperkuat motivasi guru demi menciptakan perubahan nyata dalam sistem pendidikan Indonesia.

Sejak dimulai pada 2022 dan dikelola oleh Yayasan Bakti Pendidikan Unggul, kemitraan ini mendorong peningkatan kualitas pendidikan melalui Program STIR (Sistem Pendidikan Terpadu untuk Inovasi dan Karakter).

Program ini dirancang untuk membangkitkan kembali motivasi intrinsik guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran siswa secara menyeluruh, tanpa membangun sistem baru, melainkan memanfaatkan struktur pendidikan yang sudah ada.

Hasil evaluasi independen yang dilakukan oleh Deloitte dan ditinjau oleh Profesor Nishith Prakash dari Northeastern University menunjukkan pendekatan ini membuahkan hasil yang signifikanmelalui pendekatan yang berfokus pada motivasi guru, praktik profesional, serta dukungan sistemik di sekolah.

Salah satu temuan utama menunjukkan bahwa tingkat literasi siswa di sekolah mitra meningkat sebesar 16,4% dibandingkan dengan sekolah non-mitra. Selain itu, sebanyak 42,3% siswa di sekolah mitra merasa memiliki hubungan sosial yang lebih kuat dengan teman sebayanya. Tak hanya itu, 15,7% siswa juga menunjukkan dorongan lebih tinggi untuk bersikap proaktif dalam pembelajaran.

"Kami menemukan peningkatan dalam literasi, dan fokus pada motivasi guru dan sistem pembelajaran tampaknya menciptakan perubahan yang berarti dalam praktik pembelajaran di kelas,"

"Ini adalah model yang menjanjikan untuk perbaikan sistem pendidikan skala besar,” kata Profesor Nishith Prakash, Profesor Kebijakan Publik dan Ekonomi, Universitas Northeastern, dalam keterangannya.

Hasil tersebut memperkuat keyakinan pemberdayaan guru sebagai tenaga pendidik dengan pendekatan yang terstruktur dan sistematis dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas belajar siswa, baik dari aspek akademik maupun sosial.

Keberhasilan ini tidak lepas dari pendekatan sistemik yang menyentuh berbagai lapisan pendidikan, mulai dari guru, kepala sekolah, pengawas, hingga pejabat dinas pendidikan.

Program ini memberikan panduan jelas tentang keterampilan dan sikap yang dibutuhkan siswa untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Di daerah seperti Kota Kediri dan Kabupaten Lumajang, Program STIR bahkan telah mendorong perubahan positif dalam indikator Rapor Pendidikan.

Beberapa indikator yang sebelumnya berstatus kuning kini telah meningkat menjadi hijau, mencerminkan dampak program dalam peningkatan mutu pendidikan secara konkret.

"Evaluasi ini meyakinkan kami ketika kami mendukung guru untuk menghidupkan kembali motivasi intrinsik mereka dan melibatkan dinas pendidikan (seperti pejabat pendidikan, pengawas sekolah, dan kepala sekolah), kami dapat mengatalisasi perubahan yang mendalam dan berkelanjutan dalam sistem pendidikan,” ujar Yoni Nurdiansyah, Direktur Eksekutif Program STIR di Indonesia.

Kegiatan kolaboratif seperti Forum Fasilitator di Kota Kediri memperlihatkan bagaimana guru dapat saling berbagi praktik terbaik dan menyusun rencana pembelajaran yang lebih relevan.

Pendampingan yang terstruktur dalam pendidikan anak Narasumber yang hadir dalam konferensi pers STiR Education (dok. Bakti Barito)

Sementara itu, pendampingan terstruktur dan pembinaan yang berkelanjutan memungkinkan para guru mengembangkan kapasitas mereka secara profesional dan emosional, sehingga menciptakan ruang kelas yang lebih dinamis dan responsif terhadap kebutuhan siswa.

"Dedikasi pemerintah dan pemangku kepentingan telah berperan penting dalam perjalanan ini. Kami sangat antusias untuk membangun momentum ini seiring dengan perluasan jangkauan ke lebih banyak kabupaten dan memperdalam dukungan kami kepada pemerintah daerah."

Yoni Nurdiansyah, Direktur Eksekutif Program STIR di Indonesia, menyampaikan bahwa perubahan yang terjadi tidak hanya terlihat dari hasil evaluasi, tetapi juga dari semangat baru yang muncul di kalangan guru dan pemangku kepentingan. Ia menekankan pentingnya membangun motivasi dari dalam diri guru serta memperkuat dukungan sistem pendidikan agar transformasi yang tercipta bisa berkelanjutan.

Sementara itu, Dian A. Purbasari, Direktur Yayasan Bakti Barito, menegaskan kemitraan ini menghadirkan solusi yang efisien namun berdampak besar. Dengan biaya yang relatif rendah per siswa, program ini terbukti tidak hanya layak secara anggaran, tetapi juga sangat relevan untuk diterapkan di berbagai daerah, terutama dalam konteks keterbatasan sumber daya pendidikan.

Ke depannya, keberhasilan Program STIR diharapkan menjadi inspirasi bagi lebih banyak daerah untuk mengadopsi pendekatan serupa. Dengan menempatkan motivasi guru sebagai fondasi utama, sistem pendidikan Indonesia dapat bergerak menuju transformasi yang lebih dalam, menyeluruh, dan berkelanjutan.

JAKARTA - Motivasi yang tinggi pada guru terbukti berperan besar dalam menciptakan pembelajaran yang efektif, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kecerdasan dan kemampuan literasi peserta didik.

Dalam hal ini, guru yang terinspirasi dan terlibat secara emosional dalam proses mengajar cenderung mampu membangun lingkungan kelas yang mendukung, mendorong semangat belajar siswa, dan menanamkan nilai-nilai kemandirian serta rasa ingin tahu.

Hal inilah yang menjadi dasar dari kolaborasi antara STiR Education dan Yayasan Bakti Barito, yang bertujuan untuk memperkuat motivasi guru demi menciptakan perubahan nyata dalam sistem pendidikan Indonesia.

Sejak dimulai pada 2022 dan dikelola oleh Yayasan Bakti Pendidikan Unggul, kemitraan ini mendorong peningkatan kualitas pendidikan melalui Program STIR (Sistem Pendidikan Terpadu untuk Inovasi dan Karakter).

Program ini dirancang untuk membangkitkan kembali motivasi intrinsik guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran siswa secara menyeluruh, tanpa membangun sistem baru, melainkan memanfaatkan struktur pendidikan yang sudah ada.

Hasil evaluasi independen yang dilakukan oleh Deloitte dan ditinjau oleh Profesor Nishith Prakash dari Northeastern University menunjukkan pendekatan ini membuahkan hasil yang signifikanmelalui pendekatan yang berfokus pada motivasi guru, praktik profesional, serta dukungan sistemik di sekolah.

Salah satu temuan utama menunjukkan bahwa tingkat literasi siswa di sekolah mitra meningkat sebesar 16,4% dibandingkan dengan sekolah non-mitra. Selain itu, sebanyak 42,3% siswa di sekolah mitra merasa memiliki hubungan sosial yang lebih kuat dengan teman sebayanya. Tak hanya itu, 15,7% siswa juga menunjukkan dorongan lebih tinggi untuk bersikap proaktif dalam pembelajaran.

"Kami menemukan peningkatan dalam literasi, dan fokus pada motivasi guru dan sistem pembelajaran tampaknya menciptakan perubahan yang berarti dalam praktik pembelajaran di kelas,"

"Ini adalah model yang menjanjikan untuk perbaikan sistem pendidikan skala besar,” kata Profesor Nishith Prakash, Profesor Kebijakan Publik dan Ekonomi, Universitas Northeastern, dalam keterangannya.

Hasil tersebut memperkuat keyakinan pemberdayaan guru sebagai tenaga pendidik dengan pendekatan yang terstruktur dan sistematis dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas belajar siswa, baik dari aspek akademik maupun sosial.

Keberhasilan ini tidak lepas dari pendekatan sistemik yang menyentuh berbagai lapisan pendidikan, mulai dari guru, kepala sekolah, pengawas, hingga pejabat dinas pendidikan.

Program ini memberikan panduan jelas tentang keterampilan dan sikap yang dibutuhkan siswa untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Di daerah seperti Kota Kediri dan Kabupaten Lumajang, Program STIR bahkan telah mendorong perubahan positif dalam indikator Rapor Pendidikan.

Beberapa indikator yang sebelumnya berstatus kuning kini telah meningkat menjadi hijau, mencerminkan dampak program dalam peningkatan mutu pendidikan secara konkret.

"Evaluasi ini meyakinkan kami ketika kami mendukung guru untuk menghidupkan kembali motivasi intrinsik mereka dan melibatkan dinas pendidikan (seperti pejabat pendidikan, pengawas sekolah, dan kepala sekolah), kami dapat mengatalisasi perubahan yang mendalam dan berkelanjutan dalam sistem pendidikan,” ujar Yoni Nurdiansyah, Direktur Eksekutif Program STIR di Indonesia.

Kegiatan kolaboratif seperti Forum Fasilitator di Kota Kediri memperlihatkan bagaimana guru dapat saling berbagi praktik terbaik dan menyusun rencana pembelajaran yang lebih relevan.

Pendampingan yang terstruktur dalam pendidikan anak Narasumber yang hadir dalam konferensi pers STiR Education (dok. Bakti Barito)

Sementara itu, pendampingan terstruktur dan pembinaan yang berkelanjutan memungkinkan para guru mengembangkan kapasitas mereka secara profesional dan emosional, sehingga menciptakan ruang kelas yang lebih dinamis dan responsif terhadap kebutuhan siswa.

"Dedikasi pemerintah dan pemangku kepentingan telah berperan penting dalam perjalanan ini. Kami sangat antusias untuk membangun momentum ini seiring dengan perluasan jangkauan ke lebih banyak kabupaten dan memperdalam dukungan kami kepada pemerintah daerah."

Yoni Nurdiansyah, Direktur Eksekutif Program STIR di Indonesia, menyampaikan bahwa perubahan yang terjadi tidak hanya terlihat dari hasil evaluasi, tetapi juga dari semangat baru yang muncul di kalangan guru dan pemangku kepentingan. Ia menekankan pentingnya membangun motivasi dari dalam diri guru serta memperkuat dukungan sistem pendidikan agar transformasi yang tercipta bisa berkelanjutan.

Sementara itu, Dian A. Purbasari, Direktur Yayasan Bakti Barito, menegaskan kemitraan ini menghadirkan solusi yang efisien namun berdampak besar. Dengan biaya yang relatif rendah per siswa, program ini terbukti tidak hanya layak secara anggaran, tetapi juga sangat relevan untuk diterapkan di berbagai daerah, terutama dalam konteks keterbatasan sumber daya pendidikan.

Ke depannya, keberhasilan Program STIR diharapkan menjadi inspirasi bagi lebih banyak daerah untuk mengadopsi pendekatan serupa. Dengan menempatkan motivasi guru sebagai fondasi utama, sistem pendidikan Indonesia dapat bergerak menuju transformasi yang lebih dalam, menyeluruh, dan berkelanjutan.

JAKARTA - Motivasi yang tinggi pada guru terbukti berperan besar dalam menciptakan pembelajaran yang efektif, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kecerdasan dan kemampuan literasi peserta didik.

Dalam hal ini, guru yang terinspirasi dan terlibat secara emosional dalam proses mengajar cenderung mampu membangun lingkungan kelas yang mendukung, mendorong semangat belajar siswa, dan menanamkan nilai-nilai kemandirian serta rasa ingin tahu.

Hal inilah yang menjadi dasar dari kolaborasi antara STiR Education dan Yayasan Bakti Barito, yang bertujuan untuk memperkuat motivasi guru demi menciptakan perubahan nyata dalam sistem pendidikan Indonesia.

Sejak dimulai pada 2022 dan dikelola oleh Yayasan Bakti Pendidikan Unggul, kemitraan ini mendorong peningkatan kualitas pendidikan melalui Program STIR (Sistem Pendidikan Terpadu untuk Inovasi dan Karakter).

Program ini dirancang untuk membangkitkan kembali motivasi intrinsik guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran siswa secara menyeluruh, tanpa membangun sistem baru, melainkan memanfaatkan struktur pendidikan yang sudah ada.

Hasil evaluasi independen yang dilakukan oleh Deloitte dan ditinjau oleh Profesor Nishith Prakash dari Northeastern University menunjukkan pendekatan ini membuahkan hasil yang signifikanmelalui pendekatan yang berfokus pada motivasi guru, praktik profesional, serta dukungan sistemik di sekolah.

Salah satu temuan utama menunjukkan bahwa tingkat literasi siswa di sekolah mitra meningkat sebesar 16,4% dibandingkan dengan sekolah non-mitra. Selain itu, sebanyak 42,3% siswa di sekolah mitra merasa memiliki hubungan sosial yang lebih kuat dengan teman sebayanya. Tak hanya itu, 15,7% siswa juga menunjukkan dorongan lebih tinggi untuk bersikap proaktif dalam pembelajaran.

"Kami menemukan peningkatan dalam literasi, dan fokus pada motivasi guru dan sistem pembelajaran tampaknya menciptakan perubahan yang berarti dalam praktik pembelajaran di kelas,"

"Ini adalah model yang menjanjikan untuk perbaikan sistem pendidikan skala besar,” kata Profesor Nishith Prakash, Profesor Kebijakan Publik dan Ekonomi, Universitas Northeastern, dalam keterangannya.

Hasil tersebut memperkuat keyakinan pemberdayaan guru sebagai tenaga pendidik dengan pendekatan yang terstruktur dan sistematis dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas belajar siswa, baik dari aspek akademik maupun sosial.

Keberhasilan ini tidak lepas dari pendekatan sistemik yang menyentuh berbagai lapisan pendidikan, mulai dari guru, kepala sekolah, pengawas, hingga pejabat dinas pendidikan.

Program ini memberikan panduan jelas tentang keterampilan dan sikap yang dibutuhkan siswa untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Di daerah seperti Kota Kediri dan Kabupaten Lumajang, Program STIR bahkan telah mendorong perubahan positif dalam indikator Rapor Pendidikan.

Beberapa indikator yang sebelumnya berstatus kuning kini telah meningkat menjadi hijau, mencerminkan dampak program dalam peningkatan mutu pendidikan secara konkret.

"Evaluasi ini meyakinkan kami ketika kami mendukung guru untuk menghidupkan kembali motivasi intrinsik mereka dan melibatkan dinas pendidikan (seperti pejabat pendidikan, pengawas sekolah, dan kepala sekolah), kami dapat mengatalisasi perubahan yang mendalam dan berkelanjutan dalam sistem pendidikan,” ujar Yoni Nurdiansyah, Direktur Eksekutif Program STIR di Indonesia.

Kegiatan kolaboratif seperti Forum Fasilitator di Kota Kediri memperlihatkan bagaimana guru dapat saling berbagi praktik terbaik dan menyusun rencana pembelajaran yang lebih relevan.

Pendampingan yang terstruktur dalam pendidikan anak Narasumber yang hadir dalam konferensi pers STiR Education (dok. Bakti Barito)

Sementara itu, pendampingan terstruktur dan pembinaan yang berkelanjutan memungkinkan para guru mengembangkan kapasitas mereka secara profesional dan emosional, sehingga menciptakan ruang kelas yang lebih dinamis dan responsif terhadap kebutuhan siswa.

"Dedikasi pemerintah dan pemangku kepentingan telah berperan penting dalam perjalanan ini. Kami sangat antusias untuk membangun momentum ini seiring dengan perluasan jangkauan ke lebih banyak kabupaten dan memperdalam dukungan kami kepada pemerintah daerah."

Yoni Nurdiansyah, Direktur Eksekutif Program STIR di Indonesia, menyampaikan bahwa perubahan yang terjadi tidak hanya terlihat dari hasil evaluasi, tetapi juga dari semangat baru yang muncul di kalangan guru dan pemangku kepentingan. Ia menekankan pentingnya membangun motivasi dari dalam diri guru serta memperkuat dukungan sistem pendidikan agar transformasi yang tercipta bisa berkelanjutan.

Sementara itu, Dian A. Purbasari, Direktur Yayasan Bakti Barito, menegaskan kemitraan ini menghadirkan solusi yang efisien namun berdampak besar. Dengan biaya yang relatif rendah per siswa, program ini terbukti tidak hanya layak secara anggaran, tetapi juga sangat relevan untuk diterapkan di berbagai daerah, terutama dalam konteks keterbatasan sumber daya pendidikan.

Ke depannya, keberhasilan Program STIR diharapkan menjadi inspirasi bagi lebih banyak daerah untuk mengadopsi pendekatan serupa. Dengan menempatkan motivasi guru sebagai fondasi utama, sistem pendidikan Indonesia dapat bergerak menuju transformasi yang lebih dalam, menyeluruh, dan berkelanjutan.

JAKARTA - Motivasi yang tinggi pada guru terbukti berperan besar dalam menciptakan pembelajaran yang efektif, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kecerdasan dan kemampuan literasi peserta didik.

Dalam hal ini, guru yang terinspirasi dan terlibat secara emosional dalam proses mengajar cenderung mampu membangun lingkungan kelas yang mendukung, mendorong semangat belajar siswa, dan menanamkan nilai-nilai kemandirian serta rasa ingin tahu.

Hal inilah yang menjadi dasar dari kolaborasi antara STiR Education dan Yayasan Bakti Barito, yang bertujuan untuk memperkuat motivasi guru demi menciptakan perubahan nyata dalam sistem pendidikan Indonesia.

Sejak dimulai pada 2022 dan dikelola oleh Yayasan Bakti Pendidikan Unggul, kemitraan ini mendorong peningkatan kualitas pendidikan melalui Program STIR (Sistem Pendidikan Terpadu untuk Inovasi dan Karakter).

Program ini dirancang untuk membangkitkan kembali motivasi intrinsik guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran siswa secara menyeluruh, tanpa membangun sistem baru, melainkan memanfaatkan struktur pendidikan yang sudah ada.

Hasil evaluasi independen yang dilakukan oleh Deloitte dan ditinjau oleh Profesor Nishith Prakash dari Northeastern University menunjukkan pendekatan ini membuahkan hasil yang signifikanmelalui pendekatan yang berfokus pada motivasi guru, praktik profesional, serta dukungan sistemik di sekolah.

Salah satu temuan utama menunjukkan bahwa tingkat literasi siswa di sekolah mitra meningkat sebesar 16,4% dibandingkan dengan sekolah non-mitra. Selain itu, sebanyak 42,3% siswa di sekolah mitra merasa memiliki hubungan sosial yang lebih kuat dengan teman sebayanya. Tak hanya itu, 15,7% siswa juga menunjukkan dorongan lebih tinggi untuk bersikap proaktif dalam pembelajaran.

"Kami menemukan peningkatan dalam literasi, dan fokus pada motivasi guru dan sistem pembelajaran tampaknya menciptakan perubahan yang berarti dalam praktik pembelajaran di kelas,"

"Ini adalah model yang menjanjikan untuk perbaikan sistem pendidikan skala besar,” kata Profesor Nishith Prakash, Profesor Kebijakan Publik dan Ekonomi, Universitas Northeastern, dalam keterangannya.

Hasil tersebut memperkuat keyakinan pemberdayaan guru sebagai tenaga pendidik dengan pendekatan yang terstruktur dan sistematis dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas belajar siswa, baik dari aspek akademik maupun sosial.

Keberhasilan ini tidak lepas dari pendekatan sistemik yang menyentuh berbagai lapisan pendidikan, mulai dari guru, kepala sekolah, pengawas, hingga pejabat dinas pendidikan.

Program ini memberikan panduan jelas tentang keterampilan dan sikap yang dibutuhkan siswa untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Di daerah seperti Kota Kediri dan Kabupaten Lumajang, Program STIR bahkan telah mendorong perubahan positif dalam indikator Rapor Pendidikan.

Beberapa indikator yang sebelumnya berstatus kuning kini telah meningkat menjadi hijau, mencerminkan dampak program dalam peningkatan mutu pendidikan secara konkret.

"Evaluasi ini meyakinkan kami ketika kami mendukung guru untuk menghidupkan kembali motivasi intrinsik mereka dan melibatkan dinas pendidikan (seperti pejabat pendidikan, pengawas sekolah, dan kepala sekolah), kami dapat mengatalisasi perubahan yang mendalam dan berkelanjutan dalam sistem pendidikan,” ujar Yoni Nurdiansyah, Direktur Eksekutif Program STIR di Indonesia.

Kegiatan kolaboratif seperti Forum Fasilitator di Kota Kediri memperlihatkan bagaimana guru dapat saling berbagi praktik terbaik dan menyusun rencana pembelajaran yang lebih relevan.

Pendampingan yang terstruktur dalam pendidikan anak Narasumber yang hadir dalam konferensi pers STiR Education (dok. Bakti Barito)

Sementara itu, pendampingan terstruktur dan pembinaan yang berkelanjutan memungkinkan para guru mengembangkan kapasitas mereka secara profesional dan emosional, sehingga menciptakan ruang kelas yang lebih dinamis dan responsif terhadap kebutuhan siswa.

"Dedikasi pemerintah dan pemangku kepentingan telah berperan penting dalam perjalanan ini. Kami sangat antusias untuk membangun momentum ini seiring dengan perluasan jangkauan ke lebih banyak kabupaten dan memperdalam dukungan kami kepada pemerintah daerah."

Yoni Nurdiansyah, Direktur Eksekutif Program STIR di Indonesia, menyampaikan bahwa perubahan yang terjadi tidak hanya terlihat dari hasil evaluasi, tetapi juga dari semangat baru yang muncul di kalangan guru dan pemangku kepentingan. Ia menekankan pentingnya membangun motivasi dari dalam diri guru serta memperkuat dukungan sistem pendidikan agar transformasi yang tercipta bisa berkelanjutan.

Sementara itu, Dian A. Purbasari, Direktur Yayasan Bakti Barito, menegaskan kemitraan ini menghadirkan solusi yang efisien namun berdampak besar. Dengan biaya yang relatif rendah per siswa, program ini terbukti tidak hanya layak secara anggaran, tetapi juga sangat relevan untuk diterapkan di berbagai daerah, terutama dalam konteks keterbatasan sumber daya pendidikan.

Ke depannya, keberhasilan Program STIR diharapkan menjadi inspirasi bagi lebih banyak daerah untuk mengadopsi pendekatan serupa. Dengan menempatkan motivasi guru sebagai fondasi utama, sistem pendidikan Indonesia dapat bergerak menuju transformasi yang lebih dalam, menyeluruh, dan berkelanjutan.

JAKARTA - Motivasi yang tinggi pada guru terbukti berperan besar dalam menciptakan pembelajaran yang efektif, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kecerdasan dan kemampuan literasi peserta didik.

Dalam hal ini, guru yang terinspirasi dan terlibat secara emosional dalam proses mengajar cenderung mampu membangun lingkungan kelas yang mendukung, mendorong semangat belajar siswa, dan menanamkan nilai-nilai kemandirian serta rasa ingin tahu.

Hal inilah yang menjadi dasar dari kolaborasi antara STiR Education dan Yayasan Bakti Barito, yang bertujuan untuk memperkuat motivasi guru demi menciptakan perubahan nyata dalam sistem pendidikan Indonesia.

Sejak dimulai pada 2022 dan dikelola oleh Yayasan Bakti Pendidikan Unggul, kemitraan ini mendorong peningkatan kualitas pendidikan melalui Program STIR (Sistem Pendidikan Terpadu untuk Inovasi dan Karakter).

Program ini dirancang untuk membangkitkan kembali motivasi intrinsik guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran siswa secara menyeluruh, tanpa membangun sistem baru, melainkan memanfaatkan struktur pendidikan yang sudah ada.

Hasil evaluasi independen yang dilakukan oleh Deloitte dan ditinjau oleh Profesor Nishith Prakash dari Northeastern University menunjukkan pendekatan ini membuahkan hasil yang signifikanmelalui pendekatan yang berfokus pada motivasi guru, praktik profesional, serta dukungan sistemik di sekolah.

Salah satu temuan utama menunjukkan bahwa tingkat literasi siswa di sekolah mitra meningkat sebesar 16,4% dibandingkan dengan sekolah non-mitra. Selain itu, sebanyak 42,3% siswa di sekolah mitra merasa memiliki hubungan sosial yang lebih kuat dengan teman sebayanya. Tak hanya itu, 15,7% siswa juga menunjukkan dorongan lebih tinggi untuk bersikap proaktif dalam pembelajaran.

"Kami menemukan peningkatan dalam literasi, dan fokus pada motivasi guru dan sistem pembelajaran tampaknya menciptakan perubahan yang berarti dalam praktik pembelajaran di kelas,"

"Ini adalah model yang menjanjikan untuk perbaikan sistem pendidikan skala besar,” kata Profesor Nishith Prakash, Profesor Kebijakan Publik dan Ekonomi, Universitas Northeastern, dalam keterangannya.

Hasil tersebut memperkuat keyakinan pemberdayaan guru sebagai tenaga pendidik dengan pendekatan yang terstruktur dan sistematis dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas belajar siswa, baik dari aspek akademik maupun sosial.

Keberhasilan ini tidak lepas dari pendekatan sistemik yang menyentuh berbagai lapisan pendidikan, mulai dari guru, kepala sekolah, pengawas, hingga pejabat dinas pendidikan.

Program ini memberikan panduan jelas tentang keterampilan dan sikap yang dibutuhkan siswa untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Di daerah seperti Kota Kediri dan Kabupaten Lumajang, Program STIR bahkan telah mendorong perubahan positif dalam indikator Rapor Pendidikan.

Beberapa indikator yang sebelumnya berstatus kuning kini telah meningkat menjadi hijau, mencerminkan dampak program dalam peningkatan mutu pendidikan secara konkret.

"Evaluasi ini meyakinkan kami ketika kami mendukung guru untuk menghidupkan kembali motivasi intrinsik mereka dan melibatkan dinas pendidikan (seperti pejabat pendidikan, pengawas sekolah, dan kepala sekolah), kami dapat mengatalisasi perubahan yang mendalam dan berkelanjutan dalam sistem pendidikan,” ujar Yoni Nurdiansyah, Direktur Eksekutif Program STIR di Indonesia.

Kegiatan kolaboratif seperti Forum Fasilitator di Kota Kediri memperlihatkan bagaimana guru dapat saling berbagi praktik terbaik dan menyusun rencana pembelajaran yang lebih relevan.

Pendampingan yang terstruktur dalam pendidikan anak Narasumber yang hadir dalam konferensi pers STiR Education (dok. Bakti Barito)

Sementara itu, pendampingan terstruktur dan pembinaan yang berkelanjutan memungkinkan para guru mengembangkan kapasitas mereka secara profesional dan emosional, sehingga menciptakan ruang kelas yang lebih dinamis dan responsif terhadap kebutuhan siswa.

"Dedikasi pemerintah dan pemangku kepentingan telah berperan penting dalam perjalanan ini. Kami sangat antusias untuk membangun momentum ini seiring dengan perluasan jangkauan ke lebih banyak kabupaten dan memperdalam dukungan kami kepada pemerintah daerah."

Yoni Nurdiansyah, Direktur Eksekutif Program STIR di Indonesia, menyampaikan bahwa perubahan yang terjadi tidak hanya terlihat dari hasil evaluasi, tetapi juga dari semangat baru yang muncul di kalangan guru dan pemangku kepentingan. Ia menekankan pentingnya membangun motivasi dari dalam diri guru serta memperkuat dukungan sistem pendidikan agar transformasi yang tercipta bisa berkelanjutan.

Sementara itu, Dian A. Purbasari, Direktur Yayasan Bakti Barito, menegaskan kemitraan ini menghadirkan solusi yang efisien namun berdampak besar. Dengan biaya yang relatif rendah per siswa, program ini terbukti tidak hanya layak secara anggaran, tetapi juga sangat relevan untuk diterapkan di berbagai daerah, terutama dalam konteks keterbatasan sumber daya pendidikan.

Ke depannya, keberhasilan Program STIR diharapkan menjadi inspirasi bagi lebih banyak daerah untuk mengadopsi pendekatan serupa. Dengan menempatkan motivasi guru sebagai fondasi utama, sistem pendidikan Indonesia dapat bergerak menuju transformasi yang lebih dalam, menyeluruh, dan berkelanjutan.

JAKARTA - High motivation in teachers has proven to play a major role in creating effective learning, which ultimately has an impact on increasing student intelligence and literacy skills.

In this case, teachers who are inspired and emotionally involved in the teaching process tend to be able to build a classroom environment that supports, encourages students' enthusiasm to learn, and instills independence and curiosity.

This is the basis of collaboration between STIR Education and the Bakti Barito Foundation, which aims to strengthen teacher motivation in order to create real changes in the Indonesian education system.

Since starting in 2022 and managed by the Bakti Pendidikan Unggul Foundation, this partnership has boosted the quality of education through the STIR Program (Integrated Education System for Innovation and Characters).

This program is designed to revive teacher intrinsic motivation and improve the quality of student learning as a whole, without building a new system, but taking advantage of existing educational structures.

The results of an independent evaluation conducted by Deloitte and reviewed by Professor Nishith Prakash of Northeastern University show this approach has yielded significant results through approaches that focus on teacher motivation, professional practice, and systemic support in schools.

One of the main findings shows that student literacy rates in partner schools increased by 16.4% compared to non-mitrival schools. In addition, as many as 42.3% of students in partner schools feel they have stronger social relationships with their peers. Not only that, 15.7% of students also showed a higher push to be proactive in learning.

"We found improvements in literacy, and focus on teacher motivation and learning systems seem to create meaningful changes in classroom learning practices,"

"This is a promising model for improving the large-scale education system," said Professor Nishith Prakash, Professor of Public Policy and Economy, University of Northeastern, in a statement.

These results strengthen the belief that empowering teachers as educators with a structured and systematic approach can have a real impact on improving the quality of student learning, both from academic and social aspects.

This success cannot be separated from a systemic approach that touches various levels of education, ranging from teachers, school principals, supervisors, to education office officials.

This program provides clear guidance on the skills and attitudes that students need to become lifelong learners. In areas such as Kediri City and Lumajang Regency, the STIR Program has even encouraged positive changes in the Education Report indicators.

Several indicators that previously had yellow status have now increased to green, reflecting the impact of the program on concretely improving the quality of education.

"This evaluation convinced us when we supported teachers to revive their intrinsic motivation and involve the education office (such as education officials, school supervisors, and school principals), we were able to address deep and sustainable changes in the education system," said Yoni Nurdiansyah, Executive Director of STIR Program in Indonesia.

Collaborative activities such as the Facilitator Forum in Kediri City show how teachers can share the best practices and draw up more relevant learning plans.

Meanwhile, continued structured and coaching assistance allows teachers to develop their capacity professionally and emotionally, thus creating classrooms that are more dynamic and responsive to student needs.

"The government's dedication and stakeholders have played an important role in this journey. We are excited to build this momentum in line with the expansion of reach to more districts and deepen our support for local governments."

Yoni Nurdiansyah, Executive Director of the STIR Program in Indonesia, said that the changes that occurred were not only evident from the results of the evaluation, but also from the new spirit that emerged among teachers and stakeholders. He emphasized the importance of building motivation from within the teacher and strengthening the support of the education system so that the transformation created can be sustainable.

Meanwhile, Dian A. Purbasari, Director of the Bakti Barito Foundation, emphasized that this partnership presents an efficient but huge impact solution. With relatively low costs per student, this program is proven not only to be budget-worthy, but also very relevant to be implemented in various regions, especially in the context of limited education resources.

In the future, the success of the STIR Program is expected to be an inspiration for more regions to adopt a similar approach. By placing teacher motivation as the main foundation, the Indonesian education system can move towards a deeper, comprehensive, and sustainable transformation.

"It's okay"


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)