JAKARTA - Paru-paru basah atau yang dalam istilah medis dikenal sebagai pneumonia, adalah kondisi peradangan pada jaringan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi, baik dari bakteri, virus, maupun jamur.

Kondisi ini sering kali disalahartikan sebagai "masuk angin" atau dianggap ringan, padahal dalam banyak kasus, paru-paru basah bisa berkembang menjadi serius dan membahayakan jiwa jika tidak ditangani dengan cepat.

Pneumonia menyebabkan kantong-kantong udara di paru-paru terisi cairan atau nanah, yang mengganggu pertukaran oksigen dan memicu berbagai gejala seperti batuk berdahak, demam tinggi, menggigil, hingga sesak napas.

Masyarakat awam kerap menyamakan paru-paru basah dengan kondisi lain seperti adanya cairan di rongga dada, padahal keduanya sangat berbeda baik dari penyebab, gejala, maupun tata laksana medisnya.

Menurut dr. Ermono Superaya, Sp.B.T.K.V, dokter spesialis bedah toraks, kardiak, dan vaskular dari RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, paru-paru basah melibatkan peradangan aktif akibat infeksi mikroorganisme, sedangkan cairan di rongga dada atau efusi pleura umumnya merupakan akumulasi cairan di luar paru yang dapat disebabkan oleh gangguan non-infeksi, seperti gagal jantung, TBC, kanker paru, atau penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang.

"Penyebab paru-paru basah adalah adanya infeksi yang langsung menyerang jaringan paru. Sementara cairan di rongga dada bisa terjadi karena penyakit sistemik yang menyebabkan cairan keluar dari pembuluh darah dan menumpuk di luar paru. Keduanya dapat dikatakan kondisi medis yang berbeda,” ujarnya dalam diskusi media di Jakarta, baru-baru ini.

Gejala pneumonia dapat meliputi demam, batuk berdahak yang menetap, menggigil, nyeri dada, dan kesulitan bernapas.

Di sisi lain, penumpukan cairan di rongga dada lebih sering ditandai dengan rasa sesak, nyeri dada saat bernapas dalam, dan penurunan kemampuan paru-paru mengembang secara optimal. Dalam kondisi sehat, sebenarnya rongga dada sudah berisi cairan dalam volume tertentu.

Namun kondisi itu tidak membahayakan karena cairan dapat diserap dan diproduksi kembali untuk menunjang organ tubuh bekerja.

Sedangkan dalam kondisi abnormal, cairan di rongga dada volumenya terus bertambah dan dapat menekan paru-paru, bahkan mendorong organ-organ penting seperti jantung, yang berisiko menyebabkan henti jantung mendadak.

"Pasien bisa tidak bisa bernapas jika volume cairan terlalu banyak dan tidak segera dikeluarkan,” jelas dr. Ermono.

Penanganan kondisi cairan di rongga dada biasanya dimulai dari diagnosis penyebabnya, kemudian dilanjutkan dengan tindakan pengeluaran cairan.

Salah satu teknik unggulan saat ini adalah prosedur VATS (Video-Assisted Thoracoscopic Surgery) Pericardiostomy, yaitu operasi minimal invasif yang menggunakan kamera kecil untuk membantu dokter melihat dan mengeluarkan cairan dari rongga dada atau sekitar jantung.

Dibandingkan dengan bedah terbuka, metode VATS menawarkan keunggulan berupa sayatan lebih kecil, nyeri pascaoperasi lebih ringan, serta proses pemulihan yang lebih cepat.

"VATS memungkinkan dokter bisa mengambil sampel cairan untuk diperiksa di laboratorium. Hal ini penting untuk menentukan apakah infeksi, keganasan, atau gangguan lain yang menjadi penyebab utamanya,” tutupnya.

JAKARTA - Paru-paru basah atau yang dalam istilah medis dikenal sebagai pneumonia, adalah kondisi peradangan pada jaringan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi, baik dari bakteri, virus, maupun jamur.

Kondisi ini sering kali disalahartikan sebagai "masuk angin" atau dianggap ringan, padahal dalam banyak kasus, paru-paru basah bisa berkembang menjadi serius dan membahayakan jiwa jika tidak ditangani dengan cepat.

Pneumonia menyebabkan kantong-kantong udara di paru-paru terisi cairan atau nanah, yang mengganggu pertukaran oksigen dan memicu berbagai gejala seperti batuk berdahak, demam tinggi, menggigil, hingga sesak napas.

Masyarakat awam kerap menyamakan paru-paru basah dengan kondisi lain seperti adanya cairan di rongga dada, padahal keduanya sangat berbeda baik dari penyebab, gejala, maupun tata laksana medisnya.

Menurut dr. Ermono Superaya, Sp.B.T.K.V, dokter spesialis bedah toraks, kardiak, dan vaskular dari RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, paru-paru basah melibatkan peradangan aktif akibat infeksi mikroorganisme, sedangkan cairan di rongga dada atau efusi pleura umumnya merupakan akumulasi cairan di luar paru yang dapat disebabkan oleh gangguan non-infeksi, seperti gagal jantung, TBC, kanker paru, atau penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang.

"Penyebab paru-paru basah adalah adanya infeksi yang langsung menyerang jaringan paru. Sementara cairan di rongga dada bisa terjadi karena penyakit sistemik yang menyebabkan cairan keluar dari pembuluh darah dan menumpuk di luar paru. Keduanya dapat dikatakan kondisi medis yang berbeda,” ujarnya dalam diskusi media di Jakarta, baru-baru ini.

Gejala pneumonia dapat meliputi demam, batuk berdahak yang menetap, menggigil, nyeri dada, dan kesulitan bernapas.

Di sisi lain, penumpukan cairan di rongga dada lebih sering ditandai dengan rasa sesak, nyeri dada saat bernapas dalam, dan penurunan kemampuan paru-paru mengembang secara optimal. Dalam kondisi sehat, sebenarnya rongga dada sudah berisi cairan dalam volume tertentu.

Namun kondisi itu tidak membahayakan karena cairan dapat diserap dan diproduksi kembali untuk menunjang organ tubuh bekerja.

Sedangkan dalam kondisi abnormal, cairan di rongga dada volumenya terus bertambah dan dapat menekan paru-paru, bahkan mendorong organ-organ penting seperti jantung, yang berisiko menyebabkan henti jantung mendadak.

"Pasien bisa tidak bisa bernapas jika volume cairan terlalu banyak dan tidak segera dikeluarkan,” jelas dr. Ermono.

Penanganan kondisi cairan di rongga dada biasanya dimulai dari diagnosis penyebabnya, kemudian dilanjutkan dengan tindakan pengeluaran cairan.

Salah satu teknik unggulan saat ini adalah prosedur VATS (Video-Assisted Thoracoscopic Surgery) Pericardiostomy, yaitu operasi minimal invasif yang menggunakan kamera kecil untuk membantu dokter melihat dan mengeluarkan cairan dari rongga dada atau sekitar jantung.

Dibandingkan dengan bedah terbuka, metode VATS menawarkan keunggulan berupa sayatan lebih kecil, nyeri pascaoperasi lebih ringan, serta proses pemulihan yang lebih cepat.

"VATS memungkinkan dokter bisa mengambil sampel cairan untuk diperiksa di laboratorium. Hal ini penting untuk menentukan apakah infeksi, keganasan, atau gangguan lain yang menjadi penyebab utamanya,” tutupnya.

JAKARTA - Paru-paru basah atau yang dalam istilah medis dikenal sebagai pneumonia, adalah kondisi peradangan pada jaringan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi, baik dari bakteri, virus, maupun jamur.

Kondisi ini sering kali disalahartikan sebagai "masuk angin" atau dianggap ringan, padahal dalam banyak kasus, paru-paru basah bisa berkembang menjadi serius dan membahayakan jiwa jika tidak ditangani dengan cepat.

Pneumonia menyebabkan kantong-kantong udara di paru-paru terisi cairan atau nanah, yang mengganggu pertukaran oksigen dan memicu berbagai gejala seperti batuk berdahak, demam tinggi, menggigil, hingga sesak napas.

Masyarakat awam kerap menyamakan paru-paru basah dengan kondisi lain seperti adanya cairan di rongga dada, padahal keduanya sangat berbeda baik dari penyebab, gejala, maupun tata laksana medisnya.

Menurut dr. Ermono Superaya, Sp.B.T.K.V, dokter spesialis bedah toraks, kardiak, dan vaskular dari RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, paru-paru basah melibatkan peradangan aktif akibat infeksi mikroorganisme, sedangkan cairan di rongga dada atau efusi pleura umumnya merupakan akumulasi cairan di luar paru yang dapat disebabkan oleh gangguan non-infeksi, seperti gagal jantung, TBC, kanker paru, atau penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang.

"Penyebab paru-paru basah adalah adanya infeksi yang langsung menyerang jaringan paru. Sementara cairan di rongga dada bisa terjadi karena penyakit sistemik yang menyebabkan cairan keluar dari pembuluh darah dan menumpuk di luar paru. Keduanya dapat dikatakan kondisi medis yang berbeda,” ujarnya dalam diskusi media di Jakarta, baru-baru ini.

Gejala pneumonia dapat meliputi demam, batuk berdahak yang menetap, menggigil, nyeri dada, dan kesulitan bernapas.

Di sisi lain, penumpukan cairan di rongga dada lebih sering ditandai dengan rasa sesak, nyeri dada saat bernapas dalam, dan penurunan kemampuan paru-paru mengembang secara optimal. Dalam kondisi sehat, sebenarnya rongga dada sudah berisi cairan dalam volume tertentu.

Namun kondisi itu tidak membahayakan karena cairan dapat diserap dan diproduksi kembali untuk menunjang organ tubuh bekerja.

Sedangkan dalam kondisi abnormal, cairan di rongga dada volumenya terus bertambah dan dapat menekan paru-paru, bahkan mendorong organ-organ penting seperti jantung, yang berisiko menyebabkan henti jantung mendadak.

"Pasien bisa tidak bisa bernapas jika volume cairan terlalu banyak dan tidak segera dikeluarkan,” jelas dr. Ermono.

Penanganan kondisi cairan di rongga dada biasanya dimulai dari diagnosis penyebabnya, kemudian dilanjutkan dengan tindakan pengeluaran cairan.

Salah satu teknik unggulan saat ini adalah prosedur VATS (Video-Assisted Thoracoscopic Surgery) Pericardiostomy, yaitu operasi minimal invasif yang menggunakan kamera kecil untuk membantu dokter melihat dan mengeluarkan cairan dari rongga dada atau sekitar jantung.

Dibandingkan dengan bedah terbuka, metode VATS menawarkan keunggulan berupa sayatan lebih kecil, nyeri pascaoperasi lebih ringan, serta proses pemulihan yang lebih cepat.

"VATS memungkinkan dokter bisa mengambil sampel cairan untuk diperiksa di laboratorium. Hal ini penting untuk menentukan apakah infeksi, keganasan, atau gangguan lain yang menjadi penyebab utamanya,” tutupnya.

JAKARTA - Paru-paru basah atau yang dalam istilah medis dikenal sebagai pneumonia, adalah kondisi peradangan pada jaringan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi, baik dari bakteri, virus, maupun jamur.

Kondisi ini sering kali disalahartikan sebagai "masuk angin" atau dianggap ringan, padahal dalam banyak kasus, paru-paru basah bisa berkembang menjadi serius dan membahayakan jiwa jika tidak ditangani dengan cepat.

Pneumonia menyebabkan kantong-kantong udara di paru-paru terisi cairan atau nanah, yang mengganggu pertukaran oksigen dan memicu berbagai gejala seperti batuk berdahak, demam tinggi, menggigil, hingga sesak napas.

Masyarakat awam kerap menyamakan paru-paru basah dengan kondisi lain seperti adanya cairan di rongga dada, padahal keduanya sangat berbeda baik dari penyebab, gejala, maupun tata laksana medisnya.

Menurut dr. Ermono Superaya, Sp.B.T.K.V, dokter spesialis bedah toraks, kardiak, dan vaskular dari RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, paru-paru basah melibatkan peradangan aktif akibat infeksi mikroorganisme, sedangkan cairan di rongga dada atau efusi pleura umumnya merupakan akumulasi cairan di luar paru yang dapat disebabkan oleh gangguan non-infeksi, seperti gagal jantung, TBC, kanker paru, atau penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang.

"Penyebab paru-paru basah adalah adanya infeksi yang langsung menyerang jaringan paru. Sementara cairan di rongga dada bisa terjadi karena penyakit sistemik yang menyebabkan cairan keluar dari pembuluh darah dan menumpuk di luar paru. Keduanya dapat dikatakan kondisi medis yang berbeda,” ujarnya dalam diskusi media di Jakarta, baru-baru ini.

Gejala pneumonia dapat meliputi demam, batuk berdahak yang menetap, menggigil, nyeri dada, dan kesulitan bernapas.

Di sisi lain, penumpukan cairan di rongga dada lebih sering ditandai dengan rasa sesak, nyeri dada saat bernapas dalam, dan penurunan kemampuan paru-paru mengembang secara optimal. Dalam kondisi sehat, sebenarnya rongga dada sudah berisi cairan dalam volume tertentu.

Namun kondisi itu tidak membahayakan karena cairan dapat diserap dan diproduksi kembali untuk menunjang organ tubuh bekerja.

Sedangkan dalam kondisi abnormal, cairan di rongga dada volumenya terus bertambah dan dapat menekan paru-paru, bahkan mendorong organ-organ penting seperti jantung, yang berisiko menyebabkan henti jantung mendadak.

"Pasien bisa tidak bisa bernapas jika volume cairan terlalu banyak dan tidak segera dikeluarkan,” jelas dr. Ermono.

Penanganan kondisi cairan di rongga dada biasanya dimulai dari diagnosis penyebabnya, kemudian dilanjutkan dengan tindakan pengeluaran cairan.

Salah satu teknik unggulan saat ini adalah prosedur VATS (Video-Assisted Thoracoscopic Surgery) Pericardiostomy, yaitu operasi minimal invasif yang menggunakan kamera kecil untuk membantu dokter melihat dan mengeluarkan cairan dari rongga dada atau sekitar jantung.

Dibandingkan dengan bedah terbuka, metode VATS menawarkan keunggulan berupa sayatan lebih kecil, nyeri pascaoperasi lebih ringan, serta proses pemulihan yang lebih cepat.

"VATS memungkinkan dokter bisa mengambil sampel cairan untuk diperiksa di laboratorium. Hal ini penting untuk menentukan apakah infeksi, keganasan, atau gangguan lain yang menjadi penyebab utamanya,” tutupnya.

JAKARTA - Paru-paru basah atau yang dalam istilah medis dikenal sebagai pneumonia, adalah kondisi peradangan pada jaringan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi, baik dari bakteri, virus, maupun jamur.

Kondisi ini sering kali disalahartikan sebagai "masuk angin" atau dianggap ringan, padahal dalam banyak kasus, paru-paru basah bisa berkembang menjadi serius dan membahayakan jiwa jika tidak ditangani dengan cepat.

Pneumonia menyebabkan kantong-kantong udara di paru-paru terisi cairan atau nanah, yang mengganggu pertukaran oksigen dan memicu berbagai gejala seperti batuk berdahak, demam tinggi, menggigil, hingga sesak napas.

Masyarakat awam kerap menyamakan paru-paru basah dengan kondisi lain seperti adanya cairan di rongga dada, padahal keduanya sangat berbeda baik dari penyebab, gejala, maupun tata laksana medisnya.

Menurut dr. Ermono Superaya, Sp.B.T.K.V, dokter spesialis bedah toraks, kardiak, dan vaskular dari RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, paru-paru basah melibatkan peradangan aktif akibat infeksi mikroorganisme, sedangkan cairan di rongga dada atau efusi pleura umumnya merupakan akumulasi cairan di luar paru yang dapat disebabkan oleh gangguan non-infeksi, seperti gagal jantung, TBC, kanker paru, atau penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang.

"Penyebab paru-paru basah adalah adanya infeksi yang langsung menyerang jaringan paru. Sementara cairan di rongga dada bisa terjadi karena penyakit sistemik yang menyebabkan cairan keluar dari pembuluh darah dan menumpuk di luar paru. Keduanya dapat dikatakan kondisi medis yang berbeda,” ujarnya dalam diskusi media di Jakarta, baru-baru ini.

Gejala pneumonia dapat meliputi demam, batuk berdahak yang menetap, menggigil, nyeri dada, dan kesulitan bernapas.

Di sisi lain, penumpukan cairan di rongga dada lebih sering ditandai dengan rasa sesak, nyeri dada saat bernapas dalam, dan penurunan kemampuan paru-paru mengembang secara optimal. Dalam kondisi sehat, sebenarnya rongga dada sudah berisi cairan dalam volume tertentu.

Namun kondisi itu tidak membahayakan karena cairan dapat diserap dan diproduksi kembali untuk menunjang organ tubuh bekerja.

Sedangkan dalam kondisi abnormal, cairan di rongga dada volumenya terus bertambah dan dapat menekan paru-paru, bahkan mendorong organ-organ penting seperti jantung, yang berisiko menyebabkan henti jantung mendadak.

"Pasien bisa tidak bisa bernapas jika volume cairan terlalu banyak dan tidak segera dikeluarkan,” jelas dr. Ermono.

Penanganan kondisi cairan di rongga dada biasanya dimulai dari diagnosis penyebabnya, kemudian dilanjutkan dengan tindakan pengeluaran cairan.

Salah satu teknik unggulan saat ini adalah prosedur VATS (Video-Assisted Thoracoscopic Surgery) Pericardiostomy, yaitu operasi minimal invasif yang menggunakan kamera kecil untuk membantu dokter melihat dan mengeluarkan cairan dari rongga dada atau sekitar jantung.

Dibandingkan dengan bedah terbuka, metode VATS menawarkan keunggulan berupa sayatan lebih kecil, nyeri pascaoperasi lebih ringan, serta proses pemulihan yang lebih cepat.

"VATS memungkinkan dokter bisa mengambil sampel cairan untuk diperiksa di laboratorium. Hal ini penting untuk menentukan apakah infeksi, keganasan, atau gangguan lain yang menjadi penyebab utamanya,” tutupnya.

JAKARTA - Paru-paru basah atau yang dalam istilah medis dikenal sebagai pneumonia, adalah kondisi peradangan pada jaringan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi, baik dari bakteri, virus, maupun jamur.

Kondisi ini sering kali disalahartikan sebagai "masuk angin" atau dianggap ringan, padahal dalam banyak kasus, paru-paru basah bisa berkembang menjadi serius dan membahayakan jiwa jika tidak ditangani dengan cepat.

Pneumonia menyebabkan kantong-kantong udara di paru-paru terisi cairan atau nanah, yang mengganggu pertukaran oksigen dan memicu berbagai gejala seperti batuk berdahak, demam tinggi, menggigil, hingga sesak napas.

Masyarakat awam kerap menyamakan paru-paru basah dengan kondisi lain seperti adanya cairan di rongga dada, padahal keduanya sangat berbeda baik dari penyebab, gejala, maupun tata laksana medisnya.

Menurut dr. Ermono Superaya, Sp.B.T.K.V, dokter spesialis bedah toraks, kardiak, dan vaskular dari RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, paru-paru basah melibatkan peradangan aktif akibat infeksi mikroorganisme, sedangkan cairan di rongga dada atau efusi pleura umumnya merupakan akumulasi cairan di luar paru yang dapat disebabkan oleh gangguan non-infeksi, seperti gagal jantung, TBC, kanker paru, atau penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang.

"Penyebab paru-paru basah adalah adanya infeksi yang langsung menyerang jaringan paru. Sementara cairan di rongga dada bisa terjadi karena penyakit sistemik yang menyebabkan cairan keluar dari pembuluh darah dan menumpuk di luar paru. Keduanya dapat dikatakan kondisi medis yang berbeda,” ujarnya dalam diskusi media di Jakarta, baru-baru ini.

Gejala pneumonia dapat meliputi demam, batuk berdahak yang menetap, menggigil, nyeri dada, dan kesulitan bernapas.

Di sisi lain, penumpukan cairan di rongga dada lebih sering ditandai dengan rasa sesak, nyeri dada saat bernapas dalam, dan penurunan kemampuan paru-paru mengembang secara optimal. Dalam kondisi sehat, sebenarnya rongga dada sudah berisi cairan dalam volume tertentu.

Namun kondisi itu tidak membahayakan karena cairan dapat diserap dan diproduksi kembali untuk menunjang organ tubuh bekerja.

Sedangkan dalam kondisi abnormal, cairan di rongga dada volumenya terus bertambah dan dapat menekan paru-paru, bahkan mendorong organ-organ penting seperti jantung, yang berisiko menyebabkan henti jantung mendadak.

"Pasien bisa tidak bisa bernapas jika volume cairan terlalu banyak dan tidak segera dikeluarkan,” jelas dr. Ermono.

Penanganan kondisi cairan di rongga dada biasanya dimulai dari diagnosis penyebabnya, kemudian dilanjutkan dengan tindakan pengeluaran cairan.

Salah satu teknik unggulan saat ini adalah prosedur VATS (Video-Assisted Thoracoscopic Surgery) Pericardiostomy, yaitu operasi minimal invasif yang menggunakan kamera kecil untuk membantu dokter melihat dan mengeluarkan cairan dari rongga dada atau sekitar jantung.

Dibandingkan dengan bedah terbuka, metode VATS menawarkan keunggulan berupa sayatan lebih kecil, nyeri pascaoperasi lebih ringan, serta proses pemulihan yang lebih cepat.

"VATS memungkinkan dokter bisa mengambil sampel cairan untuk diperiksa di laboratorium. Hal ini penting untuk menentukan apakah infeksi, keganasan, atau gangguan lain yang menjadi penyebab utamanya,” tutupnya.

JAKARTA - Paru-paru basah atau yang dalam istilah medis dikenal sebagai pneumonia, adalah kondisi peradangan pada jaringan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi, baik dari bakteri, virus, maupun jamur.

Kondisi ini sering kali disalahartikan sebagai "masuk angin" atau dianggap ringan, padahal dalam banyak kasus, paru-paru basah bisa berkembang menjadi serius dan membahayakan jiwa jika tidak ditangani dengan cepat.

Pneumonia menyebabkan kantong-kantong udara di paru-paru terisi cairan atau nanah, yang mengganggu pertukaran oksigen dan memicu berbagai gejala seperti batuk berdahak, demam tinggi, menggigil, hingga sesak napas.

Masyarakat awam kerap menyamakan paru-paru basah dengan kondisi lain seperti adanya cairan di rongga dada, padahal keduanya sangat berbeda baik dari penyebab, gejala, maupun tata laksana medisnya.

Menurut dr. Ermono Superaya, Sp.B.T.K.V, dokter spesialis bedah toraks, kardiak, dan vaskular dari RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, paru-paru basah melibatkan peradangan aktif akibat infeksi mikroorganisme, sedangkan cairan di rongga dada atau efusi pleura umumnya merupakan akumulasi cairan di luar paru yang dapat disebabkan oleh gangguan non-infeksi, seperti gagal jantung, TBC, kanker paru, atau penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang.

"Penyebab paru-paru basah adalah adanya infeksi yang langsung menyerang jaringan paru. Sementara cairan di rongga dada bisa terjadi karena penyakit sistemik yang menyebabkan cairan keluar dari pembuluh darah dan menumpuk di luar paru. Keduanya dapat dikatakan kondisi medis yang berbeda,” ujarnya dalam diskusi media di Jakarta, baru-baru ini.

Gejala pneumonia dapat meliputi demam, batuk berdahak yang menetap, menggigil, nyeri dada, dan kesulitan bernapas.

Di sisi lain, penumpukan cairan di rongga dada lebih sering ditandai dengan rasa sesak, nyeri dada saat bernapas dalam, dan penurunan kemampuan paru-paru mengembang secara optimal. Dalam kondisi sehat, sebenarnya rongga dada sudah berisi cairan dalam volume tertentu.

Namun kondisi itu tidak membahayakan karena cairan dapat diserap dan diproduksi kembali untuk menunjang organ tubuh bekerja.

Sedangkan dalam kondisi abnormal, cairan di rongga dada volumenya terus bertambah dan dapat menekan paru-paru, bahkan mendorong organ-organ penting seperti jantung, yang berisiko menyebabkan henti jantung mendadak.

"Pasien bisa tidak bisa bernapas jika volume cairan terlalu banyak dan tidak segera dikeluarkan,” jelas dr. Ermono.

Penanganan kondisi cairan di rongga dada biasanya dimulai dari diagnosis penyebabnya, kemudian dilanjutkan dengan tindakan pengeluaran cairan.

Salah satu teknik unggulan saat ini adalah prosedur VATS (Video-Assisted Thoracoscopic Surgery) Pericardiostomy, yaitu operasi minimal invasif yang menggunakan kamera kecil untuk membantu dokter melihat dan mengeluarkan cairan dari rongga dada atau sekitar jantung.

Dibandingkan dengan bedah terbuka, metode VATS menawarkan keunggulan berupa sayatan lebih kecil, nyeri pascaoperasi lebih ringan, serta proses pemulihan yang lebih cepat.

"VATS memungkinkan dokter bisa mengambil sampel cairan untuk diperiksa di laboratorium. Hal ini penting untuk menentukan apakah infeksi, keganasan, atau gangguan lain yang menjadi penyebab utamanya,” tutupnya.

JAKARTA - Paru-paru basah atau yang dalam istilah medis dikenal sebagai pneumonia, adalah kondisi peradangan pada jaringan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi, baik dari bakteri, virus, maupun jamur.

Kondisi ini sering kali disalahartikan sebagai "masuk angin" atau dianggap ringan, padahal dalam banyak kasus, paru-paru basah bisa berkembang menjadi serius dan membahayakan jiwa jika tidak ditangani dengan cepat.

Pneumonia menyebabkan kantong-kantong udara di paru-paru terisi cairan atau nanah, yang mengganggu pertukaran oksigen dan memicu berbagai gejala seperti batuk berdahak, demam tinggi, menggigil, hingga sesak napas.

Masyarakat awam kerap menyamakan paru-paru basah dengan kondisi lain seperti adanya cairan di rongga dada, padahal keduanya sangat berbeda baik dari penyebab, gejala, maupun tata laksana medisnya.

Menurut dr. Ermono Superaya, Sp.B.T.K.V, dokter spesialis bedah toraks, kardiak, dan vaskular dari RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, paru-paru basah melibatkan peradangan aktif akibat infeksi mikroorganisme, sedangkan cairan di rongga dada atau efusi pleura umumnya merupakan akumulasi cairan di luar paru yang dapat disebabkan oleh gangguan non-infeksi, seperti gagal jantung, TBC, kanker paru, atau penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang.

"Penyebab paru-paru basah adalah adanya infeksi yang langsung menyerang jaringan paru. Sementara cairan di rongga dada bisa terjadi karena penyakit sistemik yang menyebabkan cairan keluar dari pembuluh darah dan menumpuk di luar paru. Keduanya dapat dikatakan kondisi medis yang berbeda,” ujarnya dalam diskusi media di Jakarta, baru-baru ini.

Gejala pneumonia dapat meliputi demam, batuk berdahak yang menetap, menggigil, nyeri dada, dan kesulitan bernapas.

Di sisi lain, penumpukan cairan di rongga dada lebih sering ditandai dengan rasa sesak, nyeri dada saat bernapas dalam, dan penurunan kemampuan paru-paru mengembang secara optimal. Dalam kondisi sehat, sebenarnya rongga dada sudah berisi cairan dalam volume tertentu.

Namun kondisi itu tidak membahayakan karena cairan dapat diserap dan diproduksi kembali untuk menunjang organ tubuh bekerja.

Sedangkan dalam kondisi abnormal, cairan di rongga dada volumenya terus bertambah dan dapat menekan paru-paru, bahkan mendorong organ-organ penting seperti jantung, yang berisiko menyebabkan henti jantung mendadak.

"Pasien bisa tidak bisa bernapas jika volume cairan terlalu banyak dan tidak segera dikeluarkan,” jelas dr. Ermono.

Penanganan kondisi cairan di rongga dada biasanya dimulai dari diagnosis penyebabnya, kemudian dilanjutkan dengan tindakan pengeluaran cairan.

Salah satu teknik unggulan saat ini adalah prosedur VATS (Video-Assisted Thoracoscopic Surgery) Pericardiostomy, yaitu operasi minimal invasif yang menggunakan kamera kecil untuk membantu dokter melihat dan mengeluarkan cairan dari rongga dada atau sekitar jantung.

Dibandingkan dengan bedah terbuka, metode VATS menawarkan keunggulan berupa sayatan lebih kecil, nyeri pascaoperasi lebih ringan, serta proses pemulihan yang lebih cepat.

"VATS memungkinkan dokter bisa mengambil sampel cairan untuk diperiksa di laboratorium. Hal ini penting untuk menentukan apakah infeksi, keganasan, atau gangguan lain yang menjadi penyebab utamanya,” tutupnya.

JAKARTA - Wet lungs or what is known in medical terms as pneumonia, is an inflammatory condition in lung tissue caused by infection, both from bacteria, viruses, and fungi.

This condition is often misinterpreted as "inhaling" or taken lightly, even though in many cases, wet lungs can develop seriously and endanger lives if not treated quickly.

Pneumonia causes air bags in the lungs to fill with liquid or pus, which interfere with oxygen exchanges and trigger various symptoms such as coughs, high fever, chills, and shortness of breath.

Ordinary people often liken wet lungs to other conditions such as fluid in the chest cavity, even though both are very different from the causes, symptoms, and medical management.

According to dr. Ermono Superaya, Sp.B.T.K.V, a surgeon who specializes in toract, cardiak, and vascular surgery from Pondok Indah Hospital Bintaro Jaya, wet lungs involve active inflammation due to microorganisms infection, while the liquid in the pleura chest cavity or efusion is generally an accumulation of fluids outside the lungs that can be caused by non-infection disorders, such as heart failure, tuberculosis, lung cancer, or the use of certain drugs in the long term.

"The cause of wet lungs is an infection that directly attacks the lung tissue. Meanwhile, fluids in the chest cavity can occur due to systemic diseases that cause fluids to come out of the blood vessels and accumulate outside the lungs. Both can be said to be in different medical conditions," he said in a media discussion in Jakarta, recently.

Symptoms of pneumonia can include fever, persistent cough, chills, chest pain, and difficulty breathing.

On the other hand, the accumulation of fluids in the chest cavity is more often characterized by shortness of breath, chest pain when breathing deeply, and decrease in the ability of the lungs to expand optimally. In a healthy condition, the chest cavity actually contains a liquid in a certain volume.

However, this condition is not dangerous because the liquid can be absorbed and produced again to support the work of the body's organs.

While in abnormal conditions, the fluid in the chest cavity volume continues to increase and can suppress the lungs, even encouraging important organs such as the heart, which is at risk of causing sudden cardiac arrest.

"Patients can't breathe if there's too much fluid volume and it's not immediately issued," explained dr. Ermono.

Handling the condition of the fluid in the chest cavity usually starts from the diagnosis of the cause, then followed by the act of removing the liquid.

One of the leading techniques today is the VATS (Video-Assisted Thoracoscopic Surgery) Periccardiostomy procedure, which is a minimal invasive operation that uses small cameras to help doctors see and remove fluids from the chest cavity or around the heart.

Compared to open surgery, the VATS method offers advantages in the form of smaller incisions, lighter postoperative pain, and a faster recovery process.

"VATS allows doctors to take liquid samples to be examined in the laboratory. This is important to determine whether infection, ferocity, or other disturbances are the main causes," he concluded.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+