Eksklusif: Wakil Ketum MUI Anwar Abbas Memaknai Idulfitri sebagai Hari Kemenangan

Idulfitri adalah hari kemenangan bagi kaum muslimin dan muslimat. Setelah sebulan penuh berpuasa, terang Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr. H. Anwar Abbas, MM, MAg, pada 1 Syawal saatnya bersukacita merayakan kemenangan melawan hawa nafsu saat berpuasa.

***

Setiap tahun, orang-orang yang beriman diseru oleh Allah SWT dalam firman-Nya yang tertulis dalam Al-Qur'an untuk melaksanakan ibadah puasa. Nabi Muhammad sebagai utusan Allah di muka bumi sudah mencontohkan bagaimana puasa yang diperintahkan itu dilaksanakan, kapan waktunya, dan seperti apa ketentuannya. Muaranya adalah agar mereka yang melaksanakan puasa dengan benar bisa meningkat derajatnya menjadi orang yang takwa.

Selama sebulan, kata Buya Anwar Abbas—begitu dia kerap disapa—orang yang beriman berlatih menahan diri dari segala yang membatalkan puasa. Diharapkan setelah Ramadan dan Idulfitri berlalu, kebiasaan yang sudah dilakoni bisa diaplikasikan.

"Kalau kita melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keikhlasan, maka dosa-dosa kita akan diampuni Allah SWT. Karena kita sudah tidak ada dosa, saat merayakan lebaran kita kembali fitri atau suci. Makanya disebut Hari Raya Idulfitri. Berhasil mendapat predikat fitri itu adalah kemenangan besar bagi orang yang menjalankan puasa Ramadan," paparnya.

Idulfitri tidak hanya bernuansa transendental kepada Sang Khalik, tetapi juga memiliki nuansa horizontal kepada sesama manusia. Menurut Buya Anwar, setidaknya ada dua hal yang perlu dilakoni. Pertama, saling memaafkan sesama manusia, karena dosa kepada sesama manusia hanya bisa lebur dengan meminta dan memberi maaf. Kedua, berbagi melalui zakat fitrah, zakat mal, infak, dan sedekah kepada keluarga, kerabat, serta mereka yang kekurangan.

Yang tak kalah penting adalah menjaga silaturahmi dalam momentum Idulfitri. "Bagi yang berkecukupan, bisa mudik ke kampung halaman. Tapi tidak harus memaksakan diri kalau kondisinya tidak memungkinkan. Jangan sampai pulang mudik dengan utang ke kanan dan kiri, karena itu menjadi beban. Orang yang bisa menikmati Idulfitri adalah mereka yang pandai bersyukur kepada Allah," ujarnya kepada Edy Suherli, Bambang Eros, dan Irfan Meidianto dari VOI yang menemuinya di Kantor PP Muhammadiyah Jakarta, belum lama ini.

Merayakan hari kemenangan seperti Idulfitri kata Wakil Ketum MUI DR. H. Anwar Abbas, MM, MAg, tidak perlu memaksakan diri, cukup dilakukan dengan bersahaja dan penuh hikmad. (Foto: Bambang Eros - VOI, DI: Raga Granada - VOI)

Idulfitri dimaknai sebagai hari kemenangan. Bagaimana cara memahami makna hari kemenangan ini?

Jika kita melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keikhlasan, maka dosa-dosa kita akan diampuni oleh Allah SWT. Karena kita sudah bersih dari dosa, saat merayakan Lebaran kita kembali fitri atau suci. Itulah mengapa disebut Hari Raya Idulfitri. Berhasil mendapatkan predikat fitri adalah kemenangan besar bagi orang yang menjalankan puasa Ramadan.

Seperti apa puasa orang yang di hari lebaran kembali fitri?

Orang yang berpuasa karena Allah, bukan berpuasa karena istri, anak, atau mertua. Jika seseorang berpuasa demi anak atau istri, ada juga penghargaan dari mereka. Namun, yang paling utama adalah puasa yang mendapat nilai di sisi Allah SWT.

Ekonomi Indonesia kini sedang tak baik-baik saja, bagaimana seharusnya kita merayakan Idulfitri menurut tuntunan Islam?

Nabi menganjurkan bermaaf-maafan setelah kita melewati Ramadan dan memasuki Idulfitri. Nabi mencontohkan berjalan menuju tempat salat Idulfitri dengan jalan pulang yang berbeda. Artinya, kita diminta untuk bertemu banyak orang, bersilaturahmi, dan menjaga hubungan dengan sesama.

Dosa kepada sesama manusia tidak bisa diampuni oleh Allah, melainkan harus dengan meminta maaf kepada orang yang bersangkutan. Dalam momen Idulfitri ini, gunakanlah kesempatan untuk saling memaafkan. Dengan begitu, dosa terhadap Allah diampuni, dan dosa kepada sesama manusia juga terhapus. Itulah makna kembali fitri—bersih dari dosa.

Seperti apa cara kita merayakan Idulfitri?

Semarak belanja jelang Idulfitri bukanlah perintah agama, melainkan budaya masyarakat. Akibatnya, pengeluaran meningkat. Beruntung ada THR (tunjangan hari raya), jika tidak, kondisi keuangan bisa defisit.

Selama bulan Ramadan, kita sudah berlatih mengendalikan hawa nafsu saat berpuasa—tidak makan di siang hari dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Belanja boleh, tetapi harus sesuai kebutuhan, jangan berlebihan hingga mubazir. Perayaan Idulfitri cukup dilakukan dengan sederhana, tanpa berfoya-foya.

Bagaimana mengimplementasikan latihan mengendalikan diri selama puasa?

Puasa mengajarkan kebersamaan. Jika kita bisa saling mendukung dan bekerja sama, maka kita bisa mengatasi kondisi sulit saat ini. Saya meminta kepada pemerintah untuk tidak menyakiti hati rakyat. Jangan membuat sesama rakyat bermusuhan, dan jangan membuat kebijakan yang hanya menguntungkan oligarki. Jika alasannya oligarki sudah berkontribusi, rakyat juga sudah berkontribusi sesuai dengan kemampuannya.

Menurut saya, yang perlu mendapat perhatian lebih adalah rakyat yang berada di bawah garis kemiskinan. Mereka inilah yang paling menderita di saat ekonomi sulit seperti sekarang. Jika tidak mendapat perhatian, mereka bisa bertindak tidak terpuji demi memenuhi kebutuhan perutnya dan keluarganya.

Menurut anda, apa yang harus dilakukan dalam kondisi seperti ini?

Saat ini, sebagian besar masyarakat kita memiliki daya beli yang sangat lemah. Kalaupun ada yang punya uang, nilainya kecil. Yang perlu dilakukan pemerintah adalah meningkatkan daya beli masyarakat. Ketika daya beli meningkat, mereka bisa memenuhi kebutuhan pokoknya.

Para pedagang pun kini menjerit karena omzet mereka menurun. Beruntung ada THR, sehingga bagi mereka yang menerima, masih bisa sedikit tersenyum. Namun, bagi yang tidak mendapatkan THR, tentu amat bersedih. Oleh karena itu, jangan sampai besar pasak daripada tiang. Pandai-pandailah mengelola keuangan agar bisa melewati cobaan ini dengan baik.

Selama Ramadan menurut Wakil Ketum MUI DR. H. Anwar Abbas, MM, MAg, Idulfitri orang yang berpuasa seperti masuk pesantren, berlatih menahan hawa nafsu dan hal yang membatalkan puasa. Pasca Ramadan kebiasaan itu harus dilanjutkan. (Foto: Bambang Eros - VOI, DI: Raga Granada - VOI)

Bagaimana Islam mengajarkan agar mereka yang berkecukupan harta untuk menyantuni mereka yang kekurangan?

Dalam Islam ada perintah zakat, baik zakat mal (harta) maupun zakat fitrah. Zakat diwajibkan kepada mereka yang hartanya sudah mencapai jumlah tertentu dan dalam kurun waktu tertentu. Zakat mal diserahkan kepada delapan golongan penerima zakat: fakir, miskin, riqab (hamba sahaya), gharimin (orang yang memiliki utang dan kesulitan melunasinya), mualaf, fiisabilillah, ibnu sabil, dan amil (penyalur zakat).

Untuk zakat fitrah, diwajibkan kepada siapa saja yang memiliki kelebihan. Orang miskin pun, jika pada malam Idulfitri memiliki kelebihan untuk dikonsumsi hari itu, bisa menyerahkan zakat fitrahnya kepada mereka yang lebih kekurangan. Orang yang bisa menikmati Idulfitri adalah mereka yang pandai bersyukur kepada Allah.

Potensi zakat fitrah sangat besar, karena mereka yang sebelumnya penerima zakat mal juga memberikan zakat fitrah?

Ya, baik secara ekonomi maupun secara ruhaniah, potensi zakat fitrah sangat besar. Secara ekonomi, terjadi perputaran uang yang besar. Secara ruhaniah, ada rasa saling peduli, saling simpati, saling menegur, dan saling berbagi di antara sesama. Hendaklah orang yang berkelapangan menginfakkan sebagian hartanya. Jika rezekinya sedikit, maka sesuai dengan kemampuannya. Islam menyarankan kita untuk membiasakan memberi, bukan menerima. "Tangan di atas lebih utama daripada tangan di bawah."

Umat Islam di Indonesia sudah lama melakoni tradisi mudik. Bagaimana Anda melihat tradisi ini? Apa kelebihan dan kekurangan tradisi ini?

Jika kita bisa mengunjungi keluarga di kampung, kebahagiaannya luar biasa. Mudik adalah momen untuk berbagi kebahagiaan. Namun, mudik boleh dilakukan asalkan tidak memaksakan diri. Niat mudik harus diluruskan, bukan untuk membanggakan diri, tetapi untuk membangun silaturahmi dengan keluarga.

Kehadiran para pemudik juga menggerakkan perekonomian di kampung halaman. Warung yang sebelumnya sepi menjadi ramai, dan roda ekonomi di desa pun bergerak. Dengan demikian, tradisi mudik turut membantu pemerataan kesejahteraan bagi saudara-saudara di kampung.

Bagaimana Islam mengajarkan keseimbangan antara keinginan untuk bersilaturahmi dan kondisi ekonomi yang terbatas?

Rencanakan mudik dengan baik. Jika kondisi ekonomi sedang tidak memungkinkan, jangan memaksakan diri. Jangan sampai setelah mudik, harus berutang ke sana-sini. Dengan begitu, mudik tidak menjadi beban. Dalam konteks ibadah haji, kewajiban hanya bagi yang memiliki kemampuan. Mudik pun seharusnya demikian.

Pemerintah begitu concern dalam menjamin kelancaran momen mudik. Ada program mudik gratis yang dibikin oleh instansi pemerintah dan swasta. Tentu ada harapan di balik acara mudik gratis dengan biaya yang tidak sedikit. Bagaimana Anda menganalisis hal ini?

Artinya, instansi pemerintah maupun swasta ingin menyenangkan hati rakyat. Itu bagus. Bagi mereka yang merantau ke kota, keinginan untuk pulang di momen Lebaran adalah hal yang wajar. Ketika ada pihak yang memberikan fasilitas mudik gratis, bahagianya bukan main. Ada hadis Nabi yang mengatakan, "Siapa yang menyenangkan hati orang, Allah akan menyenangkan hatinya."

Namun, menyenangkan hati rakyat itu tak hanya dengan cara mudik gratis. Bisa dengan menyediakan lapangan pekerjaan, meningkatkan daya beli masyarakat, serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Jadi, bukan hanya oligarki dan pemilik kapital yang disenangkan, rakyat juga.

Apakah pengalaman berpuasa sebulan dapat membentuk ketahanan mental dan ekonomi dalam menghadapi kesulitan hidup?

Ekonomi kita terpuruk di antaranya karena ada pihak-pihak yang hanya mencari keuntungan dengan cara yang salah. Mereka melakukan KKN, menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri sendiri. Korupsi di Pertamina nyaris Rp1.000 triliun, korupsi di PT Timah lebih dari Rp300 triliun. Kalau Presiden Prabowo ingin sukses, korupsi harus diberantas. Itu salah satu janji kampanye dia selain MBG. Jangan takut memberantas korupsi, kepercayaan rakyat akan hilang kalau dia tak bisa melaksanakannya.

Untuk program MBG, menurut saya yang perlu diberikan sesuai amanat konstitusi adalah fakir dan miskin yang harus dipelihara negara. Kecuali kalau dananya ada, silakan semua rakyat diberi makan. Kalau hanya yang miskin saja, beban pemerintah bisa lebih ringan.

Selama sebulan kita berlatih menahan diri, bagaimana mengimplementasikan dalam kehidupan pasca-Ramadan?

Selama Ramadan dan saat menjalankan puasa, ada tiga nilai yang amat mengemuka: mengajarkan kita untuk selalu ingat pada Allah dalam setiap kesempatan. Lalu, kita tidak boleh mempertuhankan hawa nafsu, kita harus mengendalikan hawa nafsu. Jangan melakukan hal yang tak terpuji untuk mendapatkan kekuasaan dan jabatan. Kita dianjurkan mencari harta, tapi jangan dengan cara yang melanggar ketentuan agama. Kita senang dengan lawan jenis, tapi harus disalurkan sesuai syariat. Itu yang harus diterapkan dalam kehidupan pasca-Ramadan.

Di Indonesia sering terjadi perbedaan dalam penentuan awal Ramadan dan awal Syawal. Bagaimana Anda melihat hal ini?

Dalam penentuan awal bulan hijriah memang ada dua metode: hisab (penghitungan) dan rukyah (melihat bulan). Untuk metode pertama berdasarkan penghitungan, saat matahari terbenam dan anak bulan berada di posisi 0,1 atau 0,2 derajat, itu berarti hilal sudah ada. Artinya, bulan baru sudah tiba. Ini konsep wujudul hilal. Tapi bagi yang menggunakan metode rukyah, hilal harus bisa disaksikan dengan mata telanjang. Hilal baru bisa dilihat dengan mata jika posisinya di atas 3 derajat. Keduanya benar, tidak salah. Silakan memilih sesuai dengan keyakinan.

Bagaimana MUI melihat kemungkinan adanya kalender Islam global yang bisa menyatukan awal Ramadan dan Idulfitri bagi umat Islam di seluruh dunia?

Kalender global itu berlaku untuk seluruh negara di dunia. Misalnya, di Indonesia sudah hari Senin, maka di India, Arab Saudi, dan Inggris juga sudah hari Senin. Dalam konsep ini, di mana saja di hari yang sama maka bulan baru sudah datang. Jika konsep ini diterapkan, sidang itsbat yang biasa dilakukan Kemenag tidak perlu dilakukan jam 6 sore.

Apa harapan Anda setelah merayakan Idulfitri?

Bulan puasa itu seperti pesantren, kita dilatih selama sebulan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Setelah puasa, sebaiknya kebiasaan baik itu dilanjutkan. Bawalah Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari, termasuk saat bekerja. Secara teori, setelah Ramadan seharusnya tidak ada lagi yang berbuat kriminal, korupsi, atau melakukan hal buruk lainnya. Kalau korupsi makin subur, itu artinya puasanya tak ada nilainya.

 

Tips Sehat Ala Anwar Abbas, Tidak Susah Melakoninya

Lebaran adalah momentum perbanyak silaturahmi, karena itu kata Wakil Ketum MUI DR. H. Anwar Abbas, MM, MAg, lakukanlah silaturahmi secara luring dan daring. (Foto: Bambang Eros - VOI, DI: Raga Granada - VOI)

Menjalani hidup sehat ternyata tidak selalu harus mengeluarkan biaya besar. Setidaknya, itulah yang sudah dipraktikkan oleh Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr. H. Anwar Abbas, MM, MAg. Yang ia lakukan adalah berolahraga, terus berpikir, dan memperbanyak silaturahmi.

“Saya suka bersilaturahmi dengan sesama manusia. Rasanya, kalau sehari saja tidak bersilaturahmi, ada sesuatu yang hilang. Itu yang banyak saya lakoni saat ini. Saya kurang suka nonton film, dan saya tidak bisa main golf. Tak mampu saya beli stik golf. Kalau golok ada, hehehe. Ya sudah, yang saya lakukan adalah berorganisasi dan bersilaturahmi,” ujar pria kelahiran Guguak, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, 15 Februari 1955.

Saat masih belia, ia hobi bermain bola voli dan pingpong. “Saya sampai jadi pemain kampus di UIN Jakarta. Saya pernah mewakili kampus saat bertanding di Stadion Soemantri Brodjonegoro, Setiabudi, Jakarta,” kata pria yang berposisi sebagai spiker ini.

Sejak awal, bakatnya memang sebagai tukang gebuk. “Di antara posisi yang ada seperti spiker, setter, dan libero, saya memang paling bagus sebagai tukang gebuk. Saya pun keterusan di tim kampus sebagai spiker,” ungkapnya.

Meski tak lagi bermain voli karena faktor usia, ia bangga dengan kiprah pevoli Indonesia saat ini, seperti Rivan Nurmulki, yang bermain di Liga Jepang, dan Megawati Hangestri, yang berkarier di Liga Voli Putri Korea. “Saya mengikuti perkembangan Megawati Hangestri di Korea. Mainnya bagus, spike-nya keras dan mematikan. Dia juga membanggakan bangsa dan negara di luar negeri,” ujarnya, yang nyaris tak melewatkan berita tentang Megawati Hangestri.

Bersepeda Bersama Istri

Meski tak seintens ketika masih belia, Wakil Ketum MUI DR. H. Anwar Abbas, MM, MAg, tetap berolahraga, bahkan ia mengajak serta istri tercinta. (Foto: Bambang Eros - VOI, DI: Raga Granada - VOI)

Kini, olahraga bola voli tinggal kenangan bagi Buya Anwar Abbas. Fisiknya sudah tak lagi mendukung untuk menggebuk si kulit bundar. “Sekarang, menerima bola saja tangan saya sakit. Sudah enggak kuat. Kalau menonton pertandingan voli di televisi, masih bisa. Sekarang, saya lebih memilih bersepeda santai bersama istri untuk menjaga kesehatan,” katanya, yang meraih gelar Doktor Syariah/Pemikiran Islam dari UIN Jakarta pada 2008.

Rute bersepeda yang biasa ia tempuh adalah di Jakarta dan seputar Ciputat. “Saya tinggal di Ciputat, dekat Kampus UIN Jakarta. Rute sepeda saya kalau akhir pekan ke Monas dan ke arah Bintaro,” ungkap pria yang pernah menjabat sebagai Wakil Rektor II dan IV UHAMKA Jakarta.

Buya masih kuat juga, ya? “Saya masih muda, lho, dibandingkan dengan Mahathir Mohamad, yang pada 10 Juli 2025 akan genap berusia 100 tahun,” jawabnya sembari tersenyum.

“Saya banyak belajar dari Mahathir. Kalau mau panjang umur, harus sering olahraga dan jangan berhenti berpikir. Itu kuncinya,” tukas Anwar Abbas dengan mimik serius.

Saling Percaya dan Saling Mendukung

Wakil Ketum MUI DR. H. Anwar Abbas, MM, MAg, bersyukur kiprahnya di dunia pendidikan, dkwah, organisasi mendapat dukungan istri dan anak-anak. (Foto: Bambang Eros - VOI, DI: Raga Granada - VOI)

Ia percaya bahwa di balik kesuksesan seorang suami ada dukungan seorang istri, begitu pula sebaliknya—di balik kesuksesan seorang istri pasti ada dukungan dari suami. “Kalau saya tidak didukung oleh istri dan anak-anak, mana bisa saya berkiprah seperti sekarang,” ujarnya.

Selama ini, ia bisa bekerja dengan tenang tanpa gangguan dari istri. “Ada banyak suami yang bekerja, tetapi selalu ditanya ini dan itu oleh istrinya. Bagaimana dia bisa bekerja dengan tenang kalau selalu ada kecurigaan? Saya beruntung istri saya tidak terlalu banyak tanya,” ujar Ketua Bidang Ekonomi, Bisnis, dan Industri Halal PP Muhammadiyah 2022–2027.

Sebagai imbal balik, ia harus menjaga kepercayaan yang sudah diberikan oleh istrinya. “Karena dipercaya oleh istri dan anak-anak, saya harus menjaga kepercayaan yang mereka berikan dengan sebaik mungkin. Jadi, ada imbal balik. Kata kuncinya adalah saling percaya dan saling mendukung,” tandas Anwar Abbas.

"Untuk zakat fitrah, diwajibkan kepada siapa saja yang memiliki kelebihan. Orang miskin pun, jika pada malam Idulfitri memiliki kelebihan untuk dikonsumsi hari itu, bisa menyerahkan zakat fitrahnya kepada mereka yang lebih kekurangan. Orang yang bisa menikmati Idulfitri adalah mereka yang pandai bersyukur kepada Allah,"

Anwar Abbas