Bagikan:

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026.

Berdasarkan data Bloomberg per pukul 10.17 WIB, rupiah berada di level Rp17.926 per dolar AS, melemah 87,50 poin atau 0,49 persen.

Sebagai informasi, pada Selasa, 2 Juni 2026, mengutip Bloomberg, Kurs rupiah spot di tutup melemah 0,19 persen ke level Rp17.839 per dolar AS.

Sementara itu, kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), ditutup menguat 0,11 persen ke level harga Rp17.863 per dolar AS.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai pelemahan rupiah hingga mendekati level Rp17.900 per dolar AS mencerminkan kombinasi tekanan global dan domestik yang semakin kuat, bukan semata-mata dipengaruhi faktor musiman.

Menurut Josua, sentimen global masih dibayangi ketidakpastian konflik antara AS dan Iran, risiko gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz, tingginya harga minyak dunia, serta meningkatnya permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.

Ia menjelaskan, mata uang di kawasan Asia masih sangat sensitif terhadap perkembangan konflik tersebut, sementara itu, lonjakan harga energi memberikan tekanan tambahan bagi negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.

"Kondisi ini sangat relevan bagi Indonesia karena impor minyak, LPG, dan biaya logistik membutuhkan dolar, sehingga setiap kenaikan harga energi langsung menambah permintaan valas dan memperlemah rupiah," tuturnya kepada VOI, Rabu, 3 Juni.

Meski demikian, Josua melihat peluang penguatan rupiah masih terbuka pada bulan ini. Namun, penguatan tersebut lebih realistis berupa stabilisasi bertahap atau penguatan terbatas, bukan pemulihan yang berlangsung cepat.

"Rupiah bisa kembali menguat ke kisaran Rp17.600 sampai Rp17.750 jika ada tiga syarat: harga minyak turun lebih jelas karena kemajuan damai AS-Iran, arus asing kembali masuk ke SBN dan SRBI, serta pemerintah memberi sinyal fiskal yang meyakinkan," tegasnya.

Ia menambahkan sebaliknya, apabila harga minyak kembali meningkat, proses perdamaian mengalami hambatan, dolar AS menguat, dan investor masih mencermati risiko fiskal serta kondisi neraca eksternal Indonesia, maka rupiah berpotensi bertahan di kisaran Rp17.800 hingga Rp18.000 per dolar AS.

Menurutnya, rupiah saat ini tengah menuju periode pelemahan terdalam sejak Oktober 2024 akibat kekhawatiran terhadap belanja fiskal pemerintah dan tingginya harga minyak dunia, sehingga pasar membutuhkan bukti perbaikan yang nyata, bukan sekadar pernyataan optimistis.

Josua menambahkan, kenaikan suku bunga acuan BI dan berbagai langkah intervensi tetap menjadi instrumen penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, upaya tersebut tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan faktor fundamental yang lebih kuat.

Ia mengatakan sejauh ini, BI telah memperkuat strategi stabilisasi melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri, penguatan instrumen SRBI, pembelian SBN di pasar sekunder, pembatasan pembelian valuta asing tanpa transaksi dasar, serta pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan kebutuhan dolar yang besar.

Josua menyampaikan meski langkah tersebut mampu meredam volatilitas pasar, efektivitasnya akan terbatas apabila pasokan devisa dari ekspor, devisa hasil ekspor (DHE), investasi, dan arus modal portofolio belum menunjukkan perbaikan yang signifikan.

"Dengan kata lain, BI bisa meredam gejolak, tetapi rupiah akan lebih kuat secara berkelanjutan jika didukung perbaikan neraca eksternal dan kredibilitas fiskal," jelasnya.

Lebih lanjut, Josua menilai posisi rupiah saat ini sudah semakin jauh dari nilai wajarnya secara fundamental.

Berdasarkan indikator Real Effective Exchange Rate (REER), nilai tukar rupiah yang wajar diperkirakan masih berada di bawah Rp17.000 per dolar AS, sementara data April 2026 juga menunjukkan REER rupiah turun ke level 91,44, yang mengindikasikan bahwa rupiah semakin murah secara riil.

Meskipun demikian, ia mengatakan kondisi undervalued tidak serta-merta menjamin pemulihan nilai tukar dalam waktu singkat.

Menurutnya, mata uang dapat tetap berada di bawah nilai wajarnya dalam periode yang cukup panjang apabila sentimen risiko masih tinggi dan pasar belum memperoleh kepastian arah kebijakan ekonomi.

"Jadi, argumen rupiah murah hanya menjadi alasan untuk potensi pemulihan, bukan jaminan pemulihan segera," tegasnya.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Josua merekomendasikan kombinasi kebijakan yang seimbang antara pemerintah dan BI, yaitu Bank sentral perlu tetap aktif menjaga stabilitas pasar, namun tidak menguras cadangan devisa secara berlebihan hanya untuk mempertahankan level kurs tertentu.

Di sisi lain, pemerintah perlu mempercepat realisasi DHE, memperkuat pasokan devisa dari ekspor, mengendalikan impor energi yang tidak mendesak, menjaga komunikasi fiskal agar tidak memicu kekhawatiran terkait defisit anggaran, serta memastikan kebijakan ekspor sumber daya alam tidak menimbulkan ketidakpastian baru bagi investor.

"Dalam jangka pendek, rupiah kemungkinan bisa menguat jika tekanan musiman benar-benar mereda; tetapi dalam jangka menengah, penguatan yang sehat hanya akan terjadi jika pasar melihat pasokan devisa membaik, risiko fiskal terkendali, dan kebijakan pemerintah lebih konsisten," tuturnya.