JAKARTA - Pemerintah Filipina memperkuat langkah untuk meredam dampak konflik berkepanjangan di Timur Tengah setelah inflasi April melonjak tajam. Tekanan paling terasa datang dari harga pangan, energi, dan transportasi.
Melansir laporan Philippine News Agency (PNA) yang dikutip Selasa, 5 Mei, Departemen Ekonomi, Perencanaan, dan Pembangunan Filipina atau DEPDev menyatakan pemerintah berupaya meringankan beban kelompok rentan.
Otoritas Statistik Filipina mencatat inflasi April naik menjadi 7,2 persen. Pada Maret, angkanya masih 4,1 persen. Kenaikan ini terutama dipicu lonjakan harga pangan dan minuman nonalkohol.
Kepala Statistik Nasional Dennis Mapa mengatakan inflasi sepanjang tahun berjalan kini mencapai 3,9 persen.
Tekanan terbesar datang dari makanan. Inflasi pangan naik menjadi 6,1 persen dari 2,7 persen. Inflasi beras melesat ke 13,7 persen. Ikan naik menjadi 9,4 persen dari 6,6 persen. Sayuran naik menjadi 10,4 persen dari 7 persen.
BACA JUGA:
Di luar pangan, tekanan juga besar. Inflasi nonpangan naik menjadi 8,2 persen dari 4,9 persen. Salah satu pemicunya adalah lonjakan biaya operasional transportasi pribadi, dari 31,4 persen menjadi 65,8 persen.
Listrik, gas, dan bahan bakar lain ikut menambah beban. Inflasinya mencapai 16,9 persen, naik tajam dari 7,5 persen pada Maret.
Untuk menahan dampak konflik Timur Tengah, pemerintahan Presiden Ferdinand Marcos Jr. menjalankan program UPLIFT, singkatan dari Unified Package for Livelihoods, Industry, Food, and Transport. Program ini menjadi kerangka respons lintas instansi.
“Di tengah konflik Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok bahan bakar, pemerintah mengintensifkan intervensi terarah, terutama untuk meredam tekanan kenaikan harga pangan, energi, dan transportasi, sambil memastikan stabilitas pasokan domestik,” kata Sekretaris DEPDev Arsenio Balisacan dikutip PNA.
Departemen Energi Filipina juga mencari sumber energi alternatif dan memperkuat kapasitas dalam negeri agar pasokan bahan bakar lebih aman.
Per 24 April, pemerintah telah mengamankan 2,91 miliar liter pasokan bahan bakar. Sebanyak 1,305 miliar liter lagi dijadwalkan masuk. Totalnya setara persediaan untuk 54 hari.
Bantuan juga diarahkan ke sektor rentan dan terdampak. Sebanyak 1,11 juta pengemudi telah menerima bantuan tunai per 24 April. Selain itu, 366.009 penerima subsidi bahan bakar dan 2,36 juta penumpang mendapat diskon tarif 20 persen per 27 April.
Petani dan nelayan juga mendapat keringanan. Departemen Pertanian menangguhkan pembayaran pinjaman hingga satu tahun melalui program pemulihan kredit pertanian. Pemerintah juga menguji pemupukan berbiaya lebih rendah untuk mengurangi ketergantungan pada urea, bahan penting berbasis minyak bumi dalam produksi beras.
Untuk menekan harga pangan, pemerintah membuka 787 titik Kadiwa ng Pangulo dan gerai dukungan harga. Skemanya sederhana, konsumen dihubungkan langsung dengan petani dan produsen agar beras serta pangan pokok bisa dijual lebih murah.
“Kami tetap berkomitmen pada pendekatan seluruh pemerintahan dalam menangani dampak krisis Timur Tengah. Prioritas kami adalah memastikan pasokan bahan bakar stabil, harga terkendali, dan perlindungan memadai bagi semua sektor di tengah tantangan domestik dan global,” kata Balisacan.