JAKARTA - Permintaan durian di China melonjak cepat dan mulai mengubah cara buah ini diproduksi hingga didistribusikan di Asia Tenggara. Skala pergerakannya besar dan dampaknya mulai terasa di seluruh rantai pasok.
Menurut laporan Xinhua yang dikutip Kamis, 30 April, pada 25 April, tiga kapal “durian ekspres” membawa 356 kontainer berisi lebih dari 6.300 ton durian Thailand tiba di Pelabuhan Nansha, Guangzhou. Buah itu langsung disebar untuk memenuhi permintaan menjelang libur Hari Buruh. Sejak 15 April, impor di pelabuhan ini sudah melampaui 9.500 ton.
Lonjakan juga terlihat di jalur darat. Kereta Api China-Laos mengangkut 50.300 ton durian impor sejak awal tahun hingga 26 April, naik 94,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Data ini menunjukkan konsumsi durian di China terus meningkat, sementara jalur distribusinya dipacu agar lebih cepat.
BACA JUGA:
Selama ini durian punya dua wajah di China. Bagi penggemarnya, buah ini bernilai tinggi. Bagi sebagian lain, aromanya masih jadi penghalang. Namun batas itu mulai memudar.
Durian kini tidak lagi terbatas di supermarket premium. Logistik rantai dingin, distribusi lintas negara, dan e-commerce membuat buah ini masuk ke kota kecil hingga pasar tingkat kabupaten.
Data bea cukai mencatat China mengimpor sekitar 1,87 juta ton durian segar pada 2025, menjadikannya pasar terbesar dunia.
Di sisi logistik, kecepatan menjadi kunci. Di Pelabuhan Mohan, jalur utama kereta China-Laos, prosedur dipercepat agar buah tidak tertahan lama. Jalur khusus dibuka untuk pemeriksaan cepat.
Langkah serupa dilakukan di Pelabuhan Nansha. Meski volume meningkat, pengawasan tetap ketat. Petugas memeriksa hama, residu pestisida, hingga logam berat.
“Yang terlihat bisa diperiksa, tetapi yang tidak terlihat juga harus diawasi ketat,” kata Lin Xiaojing dikutip Xinhua.
Perubahan juga terjadi di pasar. Konsumen China mulai lebih peduli kualitas, keamanan pangan, dan asal produk. Harga tidak lagi menjadi satu-satunya pertimbangan.
Negara pemasok merespons cepat. Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Kamboja memperluas kebun. Pelaku usaha China juga mulai masuk ke hulu. Pengusaha Guangxi, Liu Junhong, berinvestasi di perkebunan durian di Kampot, Kamboja.
“Industri ini masih berkembang cepat, tetapi mulai tersegmentasi,” kata Liu. Ia memilih fokus pada varietas premium seperti Black Thorn.
Namun rantai bisnis durian tidak pendek. Biaya menumpuk dari kebun hingga ritel. Pelaku besar relatif stabil, sementara pemain kecil lebih rentan terhadap fluktuasi harga.
Di tingkat produksi, tekanan juga meningkat. Petani menghadapi kenaikan biaya pupuk, bahan bakar, dan tenaga kerja, ditambah standar pembelian yang makin ketat.
Meski pasar China belum jenuh, seleksinya makin ketat. Produk berkualitas rendah dan distribusi lambat akan sulit bertahan.
Perkembangan ini menunjukkan permintaan di China mulai memengaruhi jalur distribusi dan standar dalam rantai pasok durian di kawasan.