JAKARTA - Bisnis kecerdasan buatan atau AI tidak hanya membuat perusahaan teknologi berburu cip dan server. Kebutuhan listriknya juga ikut melonjak. Di titik inilah LS Electric masuk.
Dilansir Yonhap, Kamis, 30 April, LS Electric Co., produsen peralatan listrik asal Korea Selatan, meraih kontrak senilai 319 miliar won atau 216,5 juta dolar AS dari Bloom Energy, perusahaan solusi energi asal Amerika Serikat. Jika memakai asumsi kurs Rp16.200 per dolar AS, nilai kontrak itu setara sekitar Rp3,5 triliun.
Melalui kontrak tersebut, LS Electric akan memasok sistem distribusi daya untuk proyek pusat data berskala besar di New Mexico, AS. Pusat data hiperskala itu dioperasikan oleh perusahaan teknologi besar Amerika, tetapi namanya tidak diungkap.
Bloom Energy diketahui bekerja sama dengan Oracle, penyedia layanan komputasi awan global, untuk infrastruktur AI dan komputasi awan.
Kontrak ini menunjukkan sisi lain dari demam AI. Di balik aplikasi pintar dan komputasi awan, ada kebutuhan listrik besar yang harus dijaga stabil. Tanpa pasokan daya yang kuat, pusat data hanya menjadi gedung mahal penuh mesin panas.
BACA JUGA:
LS Electric juga sudah mengantongi kontrak lain di AS. Awal bulan ini, anak usahanya, LS Power Solution, menandatangani kontrak senilai 106,6 miliar won untuk memasok transformator kepada perusahaan infrastruktur energi AS.
Dengan kurs yang sama, nilai kontrak itu sekitar Rp1,17 triliun. Transformator tersebut akan digunakan untuk memasok daya ke pusat data berskala besar di wilayah tengah Amerika Serikat.
LS Electric menyebut investasi infrastruktur kelistrikan di Amerika Utara terus meningkat. Pemicunya adalah kebutuhan listrik yang naik karena ledakan AI.
Bagi LS Electric, pasar Amerika Utara kini menjadi wilayah penting untuk diperluas. Bagi industri teknologi, pesan dari kontrak ini juga jelas: AI bukan cuma soal perangkat lunak. Ia juga soal listrik, gardu, kabel, dan perangkat distribusi daya yang bekerja tanpa banyak ribut.