Bagikan:

JAKARTA - Ketegangan geopolitik dunia dinilai mulai mengarah pada ancaman bagi ekonomi nasional. Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Politik, Pertahanan dan Keamanan KADIN Indonesia Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengingatkan, tekanan global bisa berdampak langsung pada energi, pangan, dan stabilitas sosial di dalam negeri.

Menurut Bamsoet, situasi dunia saat ini tidak bisa dibaca sebagai rangkaian konflik yang berdiri sendiri. Konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat, perang Rusia-Ukraina yang menyeret NATO, hingga manuver China di Indo-Pasifik disebut sebagai tanda perubahan besar dalam peta kekuatan dunia.

Indonesia, kata anggota DPR dari Partai Golkar ini, berada di posisi yang strategis sekaligus rawan. Letak geografis Indonesia di jalur utama perdagangan dunia, seperti Selat Malaka dan kawasan Laut Natuna, membuat Indonesia berada di titik temu kepentingan negara-negara besar.

“KADIN all out bersama Presiden, mengingat yang kita hadapi sekarang adalah perubahan struktur kekuatan dunia secara mendasar. Konflik yang terlihat di permukaan hanyalah gejala. Di balik itu ada perebutan pengaruh, sumber daya, dan jalur strategis yang akan menentukan siapa mengendalikan ekonomi dunia ke depan,” ujar Bamsoet.

Pernyataan itu disampaikan usai Tim Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Politik, Pertahanan dan Keamanan KADIN Indonesia mengikuti KADIN Indonesia Strategic Response Meeting yang dipimpin langsung Ketua Umum KADIN Indonesia Anindya Bakrie di Menara KADIN Indonesia, Jakarta, Kamis, 23 April 2026.

Bamsoet menilai ancaman paling dekat yang harus diantisipasi adalah ketahanan ekonomi nasional, terutama di sektor energi dan pangan. Saat ini harga minyak dunia masih berada di kisaran 60 hingga 70 dolar AS per barel. Namun, situasi itu disebut bisa berubah cepat bila terjadi gangguan di Selat Hormuz.

Selain energi, ketergantungan pada impor pangan juga disebut menjadi titik lemah. Indonesia masih mengimpor gandum, kedelai, dan gula dalam jumlah besar. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan impor gandum Indonesia masih mencapai jutaan ton setiap tahun, sementara sebagian pasokan berasal dari kawasan yang terdampak gejolak geopolitik. Jika rantai pasok terganggu, dampaknya bisa langsung terasa pada harga pangan dalam negeri dan inflasi.

“Kita harus kompak sebagai bangsa dalam menghadapi berbagai potensi kerawanan sosial di dalam negeri yang dipicu tekanan ekonomi global. Terutama terhadap isu-isu yang sengaja dilemparkan oleh para provokator yang mencoba mengail di air keruh,” kata Bamsoet.

Sebagai langkah antisipasi, KADIN Indonesia mendorong pembentukan Dewan Ketahanan Ekonomi Nasional. Bamsoet mengatakan lembaga itu perlu bekerja seperti war room lintas kementerian agar respons terhadap dinamika global bisa dilakukan lebih cepat dan terukur, terutama untuk menjaga stabilitas harga energi dan pangan.

Selain itu, ia juga menilai reformasi sistem SDM di sektor intelijen dan kepolisian penting dilakukan agar lebih adaptif menghadapi ancaman modern.

“Di tingkat internasional, Indonesia harus memperkuat posisi sebagai negara non-blok yang aktif. Prinsip bebas aktif dijadikan langkah konkret untuk membangun kerja sama strategis dengan negara-negara berkembang yang memiliki kepentingan serupa dalam menjaga stabilitas dan kedaulatan,” pungkas Bamsoet.