JAKARTA - Ketegangan yang terus berlangsung di Selat Hormuz turut memicu ketidakstabilan harga minyak dunia dan berpotensi memberi tekanan pada perekonomian, termasuk Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa meskipun kondisi global bergejolak, fondasi ekonomi nasional masih dinilai cukup kokoh, meski perkembangan internasional tetap harus dipantau dengan cermat.
“Kita ketahui bahwa perang di Selat Hormuz belum selesai, masih dalam situasi yang perlu dimonitor secara mikro. Karena juga fluktuasi harga minyak juga naik turun secara mingguan,” ujarnya dalam konferensi pers, Kamis, 23 April.
Ia menambahkan di tengah ketidakpastian global, aktivitas ekonomi domestik disebut tetap stabil.
Menurutnya pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2026 ditopang oleh konsumsi rumah tangga, penyaluran tunjangan hari raya (THR), serta percepatan belanja pemerintah.
“Indonesia sendiri pertumbuhan di triwulan pertama cukup baik. Ditopang oleh konsumsi rumah tangga, penyaluran THR, serta akselerasi belanja dan stimulus yang mencapai Rp809 triliun,” ucapnya.
Ia menambahkan Pemerintah pun memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 berada di atas 5 persen, bahkan berpotensi menyentuh angka sekitar 5,5 persen.
“Beberapa kali dari kami memprediksi bahwa pertumbuhan di kuartal pertama secara fundamental relatif baik, dan angkanya kalau tidak ada protes ya lebih besar sama dengan 5,5 persen,” tegasnya.
Meski demikian, Airlangga menyampaikan tekanan dari faktor global diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat.
Menurutnya ketidakpastian geopolitik dan pergerakan harga energi yang tidak stabil masih menjadi tantangan yang harus diwaspadai.
Ia menyampaikan untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah lanjutan pada kuartal kedua, termasuk pencairan gaji ke-13 dan kelanjutan program perlindungan sosial guna mempertahankan daya beli masyarakat.
BACA JUGA:
Selain itu, sektor investasi terus didorong sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi, dan target realisasi investasi tahun ini dipatok mencapai Rp2.004 triliun, sebagai bagian dari upaya mencapai pertumbuhan ekonomi minimal 5,4 persen di tengah situasi global yang tidak menentu.
“Ini langkah yang perlu terus dijaga secara bersama, karena ini adalah pengungkit perekonomian kita, karena kita ingin mencapai target untuk pertumbuhan di tahun ini minimal 5,4 persen, walaupun dalam situasi global yang penuh ketidakpastian,” ujarnya.
Di sisi lain, Airlangga menyampaikan kondisi makroekonomi Indonesia masih relatif stabil, tercermin dari surplus neraca perdagangan yang berkelanjutan, inflasi yang terkendali, serta cadangan devisa yang memadai menjadi faktor penopang utama.
Pemerintah juga menilai ketahanan energi nasional cukup terjaga, mengingat Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada impor minyak mentah, dan diversifikasi sumber energi menjadi salah satu strategi penting untuk mengurangi dampak dari gejolak global.