JAKARTA - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, berdasarkan data neraca penyediaan dan permintaan baja nasional, tingkat utilisasi rata-rata industri baja saat ini berada di kisaran 52,7 persen.
Kondisi itu menunjukkan masih tersedianya ruang cukup besar untuk optimalisasi dan peningkatan pemanfaatan kapasitas serta pendalaman industri baja nasional pada masa mendatang.
"Kami menyoroti masih adanya tantangan struktural, seperti rendahnya utilisasi industri baja yang berada di kisaran 52,7 persen serta defisit pada produk antara dan hilir akibat tingginya impor bahan baku," ujar Agus dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu, 11 April.
Secara umum, Agus menyebut, kapasitas produksi industri baja nasional telah mencakup berbagai jenis produk dari hulu hingga hilir dan dapat diproduksi di dalam negeri.
Produk-produk utama seperti slab, billet, hot rolled coil (HRC), cold rolled coil (CRC) hingga baja struktur tercatat telah memiliki kapasitas produksi nasional dengan tingkat utilisasi masih berada di bawah 80 persen.
Indonesia saat ini menempati peringkat ke-13 produsen baja dunia dengan produksi mencapai 19 juta ton pada 2025. Dalam enam tahun terakhir, produksi baja nasional tumbuh konsisten dengan rata-rata pertumbuhannya 14 persen per tahun.
"Tren peningkatan produksi nasional ini menunjukkan fondasi industri semakin kuat, sekaligus membuka ruang besar untuk peningkatan kapasitas dan pendalaman industri baja nasional ke depan," katanya.
Pada 2025, kata Agus, pertumbuhan industri pengolahan mencapai 5,30 persen melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen. Selain itu, kontribusi sektor industri itu terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga meningkat 19,07 persen.
Kemudian, subsektor industri logam dasar menjadi salah satu motor penggerak perekonomian di Indonesia dengan laju pertumbuhan PDB nasional mencapai 15,71 persen pada 2025, jauh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,11 persen.
"Capaian tersebut didukung oleh meningkatnya permintaan dari sektor infrastruktur, manufaktur dan industri hilir bernilai tambah," terang Agus.
BACA JUGA:
Karena itu, Agus berharap, kepengurusan IISIA periode 2026–2030 sebagai mitra strategis dapat secara konsisten menjawab tantangan sekaligus mengoptimalkan peluang strategis industri baja ke depannya.
Sementara itu, Chairman IISIA, Muhamad Akbar menegaskan, komitmen pengurus baru untuk memperkuat peran IISIA sebagai wadah kolaborasi industri baja nasional. Menurutnya, industri baja bukan hanya sektor ekonomi, melainkan fondasi pembangunan bangsa.
"Kami ingin IISIA menjadi rumah solid bagi seluruh pelaku industri baja, sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong kemajuan industri nasional. Dengan sinergi kuat antara pemerintah dan pelaku industri, industri baja tidak hanya mampu berjaya di dalam negeri, tetapi juga disegani di pasar internasional," pungkasnya.