Bagikan:

JAKARTA - Harga gas untuk memasak di Singapura mulai naik seiring lonjakan biaya bahan bakar akibat konflik di Timur Tengah. Kenaikan itu belum berhenti. Namun, beban untuk sebagian pusat jajanan rakyat atau hawker centre masih ditahan agar pedagang tidak ikut terpukul.

The Straits Times yang dikutip Rabu, 1 April, melaporkan, rumah tangga di Singapura memakai dua jenis gas, yaitu gas kota lewat pipa dan LPG dalam tabung. Keduanya kini terdorong naik, tetapi dengan mekanisme harga yang berbeda.

Untuk LPG, Union Gas dan Esso LPG kini masing-masing mematok harga 37 dolar Singapura dan 38 dolar Singapura untuk tabung 12,7 kilogram yang umum dipakai rumah tangga. Kepala Eksekutif Union Gas, Teo Hark Piang, mengatakan kenaikan harga saat ini terutama dipicu biaya transportasi yang lebih tinggi.

Menurut Teo, kenaikan ke depan masih mungkin terjadi, meski untuk saat ini dampaknya dinilai masih bisa ditahan karena satu tabung standar biasanya cukup untuk kebutuhan rumah tangga sekitar sebulan. Namun, ia mengingatkan, kenaikan itu bisa menjadi “sangat signifikan” jika perang terus berlanjut.

Di tengah kenaikan itu, Union Gas memilih tidak mengubah harga untuk hawker centre yang mereka layani. Perusahaan itu menyerap kenaikan biaya demi mendukung pedagang. Penyesuaian kecil justru akan diberlakukan untuk kedai kopi dan food court swasta yang dinilai memiliki margin lebih kuat.

Union Gas saat ini melayani sekitar 50 hingga 60 hawker centre milik pemerintah di Singapura dan tidak menaikkan harga untuk segmen itu selama 10 tahun terakhir. “Jika pusat jajanan menaikkan harga, konsumen hanya punya sedikit pilihan yang lebih murah,” kata Teo kepada The Straits Times. Ia menambahkan, makan di hawker centre kerap lebih murah daripada memasak sendiri bagi keluarga kecil.

The Straits Times melaporkan, kenaikan juga akan dirasakan pengguna gas kota. City Energy pada 31 Maret mengatakan tarif gas kota naik 0,24 sen Singapura per kWh menjadi 21,92 sen Singapura per kWh sebelum GST untuk periode 1 April hingga 30 Juni.

Namun angka itu baru mencerminkan sebagian dampak konflik. Tarif April-Juni dihitung dari rata-rata harga bahan bakar pada 1 Januari sampai 15 Maret, sedangkan konflik Timur Tengah baru pecah pada 28 Februari. Artinya, tarif gas kota pada kuartal berikutnya masih berpotensi naik lagi saat dampak penuh harga bahan bakar mulai masuk ke perhitungan.