JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa perekonomian Indonesia saat ini berada dalam fase ekspansi yang kuat.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat Indonesia cukup siap menghadapi dampak dari gejolak ekonomi global, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
"Nggak usah takut, kita bisa mengendalikan dampak negatif dengan baik ke depan karena posisi kita dari posisi yang kuat," ujarnya dalam konferensi pers APBN KiTA, Rabu, 11 Maret.
Purbaya juga menyampaikan bahwa stabilitas makroekonomi domestik tetap terjaga meskipun ketegangan geopolitik global meningkat.
Dia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 dapat berada di kisaran 5,5 persen hingga 6 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada kuartal IV 2025 yang tercatat sebesar 5,39 persen.
"Pertumbuhan (ekonomi) triwulan lalu 5,39 persen dan harusnya triwulan ini akan tumbuh lebih cepat. Saya selalu bilang antara 5,5 persen sampai 6 persen mungkin masih bisa tercapai," tuturnya.
Menurutnya, tren pertumbuhan ekonomi yang terus membaik menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masih berada dalam jalur positif.
Dia menambahkan, kinerja ekonomi tersebut juga tercermin dari peningkatan PMI Manufaktur yang mencapai 53,8 pada Februari 2026, level tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Selain itu, dari sisi eksternal, ketahanan ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat dengan surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama 69 bulan berturut-turut, serta cadangan devisa yang berada di level aman sebesar 152 miliar dolar AS.
Purbaya menambahkan bahwa aktivitas ekonomi mulai kembali menguat sejak awal kuartal IV 2025 dan tren tersebut berlanjut hingga 2026.
"Ini memperkuat optimisme masyarakat serta menopang pertumbuhan ekonomi," ucapnya.
Selain itu, ia menyampaikan daya beli masyarakat disebut terus mengalami perbaikan menjelang perayaan Idul Fitri, dan hal ini terlihat dari peningkatan Mandiri Spending Index yang mencapai 360,7 pada Februari 2026, terutama didorong oleh meningkatnya konsumsi barang kebutuhan masyarakat, sektor pendidikan, serta mobilitas.
BACA JUGA:
Dia juga mencatat bahwa penjualan ritel menunjukkan tren positif serta indeks keyakinan konsumen tetap berada pada level tinggi, dan kondisi tersebut menandakan bahwa konsumsi rumah tangga masih kuat dan ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi tetap optimistis.
"Anda lihat lagi indikator daya beli yang baik antara lain dari industri otomotif yang melanjutkan tren positif dengan penjualan mobil tumbuh dua digit 12,2 persen pada Februari 2026. Sementara penjualan sepeda motor tetap stabil positif di 1 persen" katanya.
Dia menilai, perkembangan tersebut menjadi sinyal adanya perbaikan nyata dalam daya beli masyarakat dan berharap tren tersebut akan terus berlanjut dalam waktu mendatang.