JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa kenaikan harga emas yang terus berlanjut turut menjadi faktor pendorong inflasi bulanan.
Penguatan harga emas global menjadikan komoditas ini sebagai salah satu kontributor utama inflasi Februari 2026, yang tercatat sebesar 0,68 persen secara bulanan (month to month/mtm) dan 4,76 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa harga emas di pasar internasional melonjak dari 2.398 dolar AS per troy ounce pada Juli 2024 menjadi 5.002 dolar AS per troy ounce pada Februari 2026.
“Artinya ini mengalami peningkatan lebih dari dua kali lipat untuk harga emas,” ujarnya dalam konferensi pers, Senin, 2 Maret.
Ia mengungkapkan, inflasi emas perhiasan pada Februari 2026 mencapai 8,42 persen secara bulanan dengan kontribusi terhadap inflasi sebesar 0,19 persen, dan komoditas ini telah mencatatkan kenaikan harga selama 30 bulan berturut-turut.
Ia mencatat, inflasi emas perhiasan pada Februari 2026 mencapai 8,42 persen (mtm) dengan andil inflasi 0,19 persen (mtm), dan komoditas ini mengalami inflasi selama 30 bulan berturut-turut hingga Februari 2026.
"Komoditas emas perhiasan telah mengalami inflasi secara bulanan selama 30 bulan berturut-turut. Inflasi emas perhiasan pada Februari 2026 sebesar 8,42 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,19 persen," ujarnya.
Selain itu, emas perhiasan juga menjadi penyumbang inflasi terbesar dalam kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Pada Februari 2026, kelompok ini mencatat inflasi 2,55 persen dengan andil 0,19 persen, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya maupun periode yang sama pada tahun-tahun terdahulu.
"Tingkat inflasi kelompok ini lebih besar jika dibandingkan bulan sebelumnya dan bulan-bulan yang sama pada periode sebelumnya. Komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya adalah komoditas emas perhiasan," ucapnya.
BACA JUGA:
Secara historis, tren inflasi emas perhiasan terus meningkat yaitu pada Februari 2023 tercatat 0,12 persen (mtm), naik menjadi 0,64 persen pada Februari 2024, melonjak ke 5,53 persen pada Februari 2025, dan kembali meningkat menjadi 8,42 persen pada Februari 2026.
Secara tahunan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi 16,66 persen dengan kontribusi 1,12 persen, dan kenaikan ini terutama dipicu oleh emas perhiasan yang secara konsisten mencatat inflasi tahunan sejak Februari 2022.
Adapun di tengah lonjakan harga dan permintaan emas, Indonesia juga mencatat peningkatan signifikan impor logam mulia dan perhiasan.
Impor terbesar berasal dari Australia dengan pangsa 47,54 persen dan pertumbuhan tahunan mencapai 634,30 persen.
"Impor non migas dari Australia tercatat sebesar 1,07 miliar dolar AS, ini terutama didominasi impor logam mulia dan perhiasan/permata. Ternyata perhiasan atau logam mulia banyak diimpor dari Australia dengan share 47,54 persen atau tumbuh 634,30 persen secara tahunan," ungkapnya.