Bagikan:

JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga 31 Januari 2026 mencapai Rp54,6 triliun atau setara dengan 0,21 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Adapun, target defisit untuk tahun ini sebesar 2,68 persen dari PDB.

"Posisi defisit APBN tercatat mencapai Rp54,6 triliun atau hanya 0,21 persen dari PDB, angka ini masih sangat terkendali dan berada dalam koridor desain APBN 2026," ujarnya dalam konferensi pers APBN KITA, Senin, 23 Februari.

Dari sisi pendapatan negara, total pendapatan negara hingga akhir Januari 2026 tercatat sebesar Rp172,7 triliun atau 5,5 persen dari proyeksi akhir tahun Rp3.153,6 triliun.

"Hingga 31 Januari tahun 2026 realisasi APBN menunjukkan kinerja yang solid, pendapatan negara telah mencapai Rp172,7 triliun atau 5,5 persen dari target APBN," jelasnya.

Selain itu, realisasi pendapatan negara per Januari 2026 lebih rendah 9,5 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai Rp157,8 triliun.

Ia merincikan bahwa realisasi pendapatan negara per Januari 2026 terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp138,9 triliun atau 5,2 persen dari target APBN 2026.

Purbaya menyampaikan angka penerimaan perpajakan tersebut berasal dari penerimaan pajak sebesar Rp116,2 triliun atau 4,9 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp2.357,7 triliun dan kepabeanan & cukai sebesar Rp22,6 triliun atau setara 6,7 persen dari APBN 2026 Rp336,0 triliun.

Ia menambahkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp33,9 triliun atau 7,4 persen dari target APBN 2026.

Sementara itu, realisasi belanja negara per Januari 2026 telah mencapai Rp227,3 triliun atau sekitar 5,9 persen dari total target APBN 2026 Rp3.842,7 triliun.

Selain itu, realisasi belanja negara per Januari 2026 lebih tinggi 25,7 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai Rp180,8 triliun.

"Dari sisi belanja, belanja negara terealisasi sebesar Rp227,3 triliun atau 5,9 persen dari pagu APBN tumbuh tinggi sebesar 25,7 persen (yoy) ini menunjukkan akselerasi belanja pemerintah sejak awal tahun khususnya untuk mendukung program prioritas, menjaga daya beli dan mendorong pertumbuhan ekonomi di triwulan I," tegasnya.

Purbaya merincikan bahwa realisasi belanja negara per Januari 2026 terdiri dari belanja pemerintah pusat tercatat sebesar Rp131,9 triliun atau setara 4,2 persen dari target 2026 sebesar Rp3.149,7 triliun.

Ia menjelaskan angka realisasi belanja negara berasal dari belanja K/L sebesar Rp55,8 triliun atau setara 3,7 persen dari target APBN Rp1.510,5 triliun dan belanja non K/L capai Rp76,1 triliun atau 4,6 persen dari target APBN sebesar Rp1.639,2 triliun.

Sedangkan Transfer ke Daerah (TKD) mencapai Rp95,3 triliun atau setara 13,8 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp693,0 triliun.

Purbaya menyampaikan secara keseluruhan realisasi APBN menunjukkan pengelolaan yang hati-hati dalam menjaga disiplin fiskal di tengah dinamika global.

"Sementara itu, defisit keseimbangan primer sebesar Rp4,2 triliun ini menunjukkan posisi fiskal yang tetap terkelola prudent dari sisi pembiayaan realisasi mencapai Rp105,1 triliun atau 15,2 persen dari target dilakukan secara terukur dan antisipatif untuk menjaga likuiditas serta stabilitas pasar keuangan," jelasnya.