Bagikan:

JAKARTA - Permata Institute for Economic Research (PIER), lembaga riset ekonomi di bawah Permata Bank, memproyeksikan Bank Indonesia (BI) berpeluang menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate ke level 5 persen pada semester I 2026.

"Kita telah melakukan revisi bahwa di tahun 2026 ini kemungkinan ruang kenaikan BI Rate itu ada. Jadi kita proyeksi kemungkinan akan ada kenaikan 25 persen (basis) poin di semester pertama,” kata Head of Macroeconomics and Market Research Permata Bank Faisal Rachman mengutip Antara.

Sebagai informasi, saat ini BI-Rate dipertahankan di level 4,75 persen.

Menurut Faisal, peluang kenaikan suku bunga acuan muncul seiring pelemahan nilai tukar rupiah yang hingga saat ini telah terdepresiasi lebih dari 4 persen. Berdasarkan data terakhir pukul 13.52 WIB, nilai tukar rupiah mencapai Rp17.524 per dolar AS.

Secara historis, BI cenderung mulai membuka ruang kenaikan suku bunga ketika pelemahan rupiah telah melampaui 3 persen.

“Apalagi kalau kita lihat SRBI itu rate-nya sudah cukup meningkat terus ke atas. Jadi ini kita perlu antisipasi,” jelasnya.

Adapun PIER juga mengidentifikasi tiga faktor utama yang dapat memengaruhi keputusan BI ke depan.

Pertama, risiko kenaikan inflasi domestik. Kedua, potensi pelebaran defisit neraca transaksi berjalan (current account balance). Ketiga, arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.

Meski hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan adanya sinyal pemangkasan suku bunga, pasar masih memandang ruang penurunan suku bunga The Fed tahun ini sangat terbatas.

“Kalau dari sisi globalnya, yang terletak di sisi advance rate, sebenarnya market masih akan cenderung melihat efek itu tidak akan mempertahankan suku bunganya hingga akhir tahun ini, dan baru membuka kemungkinan pemotongan itu di akhir tahun depan,” terang Faisal.

Kondisi tersebut membuat tekanan eksternal terhadap nilai tukar dan pasar keuangan domestik masih perlu diwaspadai dalam beberapa waktu ke depan.