Bagikan:

JAKARTA - Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dicky Kartikoyono memaparkan strategi utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8 persen di masa mendatang.

Menurutnya, digitalisasi menjadi faktor kunci dalam mencapai target tersebut, hal ini disampaikannya saat mengikuti uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di Komisi XI DPR RI, Senin, 26 Januari.

Dalam pemaparannya, Dicky menyebut presentasi visi dan misinya mengusung tema 'Mengukir Sejarah Kemandirian Digital untuk Indonesia Emas' sebagai kontribusi BI dalam mendukung Asta Cita pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Dia mengibaratkan perekonomian nasional sebagai sebuah rumah besar yang harus mampu memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Untuk itu, fondasi utama berupa stabilitas ekonomi harus dijaga dengan kuat dan di atas fondasi tersebut, diperlukan pilar-pilar ketahanan yang kokoh agar perekonomian mampu bertahan sekaligus tumbuh.

Dicky menyampaikan tanpa ketahanan yang memadai, pertumbuhan ekonomi hanya akan rapuh seperti rumah kartu.

"Tanpa daya tahan rumah besar kita seperti rumah kartu. Pertumbuhan ekonomi ini tentunya harus bisa berkualitas memberikan kesejahteraan kepada masyarakat luas," jelasnya.

Selain itu, ia menyoroti pesatnya perkembangan digitalisasi sistem keuangan Indonesia, seperti BI-FAST, QRIS, dan SNAP, menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam sembilan tahun terakhir.

Ia mencontohkan salah satunya yaitu QRIS telah memfasilitasi transaksi ekonomi hingga Rp1,6 kuadriliun.

Meski demikian, Dicky mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dihadapkan pada berbagai tantangan besar, seperti dinamika geopolitik global, polarisasi, risiko siber, defisit neraca berjalan, melemahnya daya beli masyarakat, hingga tingkat pengangguran.

Selain itu, Dicky menyampaikan bahwa upaya mendorong digitalisasi juga terkendala oleh belum meratanya infrastruktur, kualitas sumber daya manusia yang perlu ditingkatkan agar mampu bersaing di pasar kerja yang semakin kompleks, serta tekanan pada daya beli masyarakat.

"Jawaban dari tantangan ini ada pada upaya kita menegakkan pilar digitalisasi sebagai game changer," jelasnya.

Dia menambahkan, BI memperkirakan nilai ekonomi digital nasional berpotensi mencapai 147 miliar dolar AS ke depan, setelah pada tahun ini diperkirakan tumbuh sekitar 37 miliar dolar AS.

Menurutnya, potensi tersebut didukung oleh kekuatan domestik, terutama pertumbuhan jumlah pengguna internet serta bonus demografi.

Dia mencontohkan, penetrasi penggunaan internet di kalangan Generasi Z dan Generasi Alpha telah mencapai 40 persen.

"Nah ini tentunya akan menjadi kekuatan kita," tegasnya.