JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah terhadap dolar AS pada Senin, 19 Januari 2026 sebagian dipicu spekulasi terkait independensi BI setelah Thomas Djiwandono dinominasikan sebagai calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
Untuk diketahui mengutip Bloomberg, pada hari Senin, 19 Januari, Kurs rupiah spot ditutup melemah 0,40 persen ke level Rp16.955 per dolar AS.
Sementara itu, kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI ditutup melemah 0,33 persen ke level harga Rp16.935 per dolar AS.
"Jadi ini mungkin sebagian spekulasi ketika Thomas akan ke sana, wow orang spekulasi, dia independensinya hilang. Saya pikir enggak akan begitu," ujarnya kepada awak media, Senin, 19 Januari.
Purbaya menegaskan pelemahan ini tidak mencerminkan fundamental ekonomi, mengingat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menguat 0,64 persen ke level 9.133,87.
"Rupiah kan akan tergantung pada fundamental ekonominya. Anda lihat kan? IHSG All time high, kan? Oh, 9.133," tegasnya.
Menurutnya, kenaikan IHSG juga menunjukkan adanya aliran modal asing masuk, yang secara alami akan mendukung penguatan rupiah.
"Kalau indeks naik ke situ, pasti ada flow asing masuk ke situ juga, kan? enggak mungkin masuk sendiri yang bisa mendorong itu ke level yang seperti itu. Jadi tinggal tunggu waktu saja rupiahnya menguat. Juga karena suplai dolar akan bertambah," tambahnya.
BACA JUGA:
Purbaya optimistis begitu spekulasi mereda, rupiah akan kembali menguat dalam waktu dekat.
"Begitu insaf (spekulan), juga langsung menguat lagi rupiah karena fondasi ekonominya kita akan jaga supaya semakin membaik ke depan. Pertumbuhan ekonomi akan semakin cepat, semakin cepat, semakin cepat," tuturnya.