Bagikan:

JAKARTA - Program hilirisasi nasional menunjukkan kemajuan signifikan sepanjang 2025. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat nilai investasi yang masuk khusus untuk sektor hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun, atau sekitar 30,2 persen dari total realisasi investasi nasional sebesar Rp1.931 triliun.

Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyampaikan investasi ini mencakup empat sektor utama, dengan komoditas mineral menjadi penyumbang terbesar.

“Ya memang hilirisasi di berbagai sektor ini sudah mulai berjalan sangat baik, dan juga terakselerasi,” ujar Rosan di Jakarta, Kamis, 15 Januari.

Dari total realisasi hilirisasi sebesar Rp584,1 triliun, sebesar Rp373,1 triliun berasal dari sektor mineral, yang mencakup komoditas nikel, tembaga, hingga bauksit. Lalu, perkebunan dan kehutanan sebesar Rp144 triliun. Kemudian, minyak dan gas bumi sebesar Rp60 triliun. Serta, kelautan dan perikanan sebesar Rp6,4 triliun.

Menurut Rosan, perluasan sektor investasi menunjukkan arah hilirisasi kini jauh lebih terdiversifikasi dibanding periode sebelumnya. Ia menegaskan, hilirisasi tak lagi terpusat pada mineral kritis.

Misalnya, sambung Rosan, pada subsektor perkebunan saja, komoditas kelapa sawit dan kayu log masing-masing mencatatkan investasi sekitar Rp62 triliun.

Selain itu, Rosan juga bilang manfaat hilirisasi tidak hanya tercermin dari nilai investasi, tetapi juga dari dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja. Industri pengolahan yang tumbuh di dalam negeri juga membutuhkan tenaga dalam jumlah besar mulai dari hulu hingga hilir.

Dengan kontribusi lebih dari setengah kuadriliun rupiah, sambung Rosan, hilirisasi semakin menjadi pilar strategi pembangunan industri nasional sekaligus motor penggerak pemerataan ekonomi di berbagai wilayah.

“Kalau kita bicara hilirisasi, ada value added nilai tambah yang kita mau capture di Indonesia. Dampak secara ekonomisnya itu berkali-kali lipat,” pungkasnya.