JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyurati operator stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta agar membeli solar dari PT Pertamina (Persero). Hal ini sejalan dengan langkah pemerintah yang menutup keran impor solar mulai tahun ini,
"Nanti secara B2B. Tapi kami di bulan Desember kemarin sudah mengirimkan surat ke seluruh Badan Usaha untuk melakukan proses negosiasi dengan Pertamina," ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Laode Sulaeman kepada awak media, dikutip Kamis, 15 Januari.
Laode menjelaskan, dengan demikian mulai Maret 2026, Pertamina akan mempersiapkan pasokan solar dari Refinery Development Master Plan (RDMP) di Kilang Balikpapan yang baru diresmikan presiden Prabowo 12 Januari yang lalu.
"Artinya nanti pada Maret, Pertamina sudah siapin stok, sudah siapkan pelabuhan, jangan swastanya tidak siap," imbuh Laode.
Menurutnya, persiapan perlu dilakukan sejak januari mengingat di bulan Maret nanti, perusahaan tidak bisa melakukan perpanjangan untuk menambah kuota solar.
"Jadi sekarang harus segera ini mumpung masih Januari karena Maret nanti kita sudah tidak bisa memperpanjang untuk tambahan kuota untuk solar. Dari produksi RDMP itu semua nanti diserap untuk menggantikan konsumsi dalam negeri,” sambung dia.
BACA JUGA:
Sebelumnya Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mengatakan bertambahnya kapasitas kilang Balikpapan membuka peluang Indonesia menghentikan impor solar karena kebutuhan nasional bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri.
"Insyaa Allah begitu RDMP Kilang Balikpapan diresmikan pengoperasiannya mulai tahun ini, impor solar dihentikan. Hal ini dilakukan dalam rangka mendorong kedaulatan energi dengan tidak lagi mengandalkan pemenuhan kebutuhan BBM dalam negeri melalui impor," kata Bahlil saat ditemui pada peresmian RDMP Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin 12 Januari.
Bahlil menjelaskan keseimbangan antara kebutuhan dan pasokan solar nasional. Kebutuhan solar Indonesia tercatat sebesar 39,8 juta kiloliter per tahun. Dari jumlah tersebut, program B40 menyumbang pasokan Fatty Acid Methyl Este (FAME) sebesar 15,9 juta kiloliter (kl) per tahun, sehingga kebutuhan solar murni (B0) tersisa 23,9 juta kl per tahun. Dengan produksi nasional yang saat ini mencapai 26,5 juta kl per tahun, pemerintah menargetkan penghentian impor solar mulai pertengahan 2026 untuk produk CN 48 maupun CN 51, mulai pertengahan 2026.