Bagikan:

JAKARTA - Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BKPM Rosan Roeslani menegaskan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak otomatis menekan minat investasi di Indonesia.

Rosan bilang meski nilai tukar rupiah mendekati Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS), namun pemerintah melihat pergerakan tersebut masih dalam batas wajar.

“Dolar Amerika Serikat itu kan bukan satu kenaikan yang meningkat terus, kan masih naik turun. Dan ini masih dalam range yang sangat acceptable oleh investor,” ujar Rosan di Jakarta, Kamis, 15 Februari.

Menurut Rosan, para investor khususnya investor asing telah memasukkan variabel fluktuasi mata uang ke dalam perhitungan bisnis mereka jauh sebelum menanamkan modal. Karena itu, pergerakan nilai tukar bukan menjadi pertimbangan utama yang dapat menghambat realisasi investasi.

CEO Danantara Indonesia juga mengatakan keyakinan pemerintah didasarkan pada fundamental ekonomi domestik yang dinilai solid, mulai dari stabilitas pertumbuhan, keberlanjutan hilirisasi, hingga daya tarik pasar nasional.

Dengan prospek pertumbuhan masih positif, Rosan percaya minat investor terhadap Indonesia akan tetap terjaga meski rupiah mengalami tekanan eksternal.

“Mereka sudah memperkirakan kok pergerakan dari mata uang kita pada saat mereka berinvestasi ke Indonesia, pergerakan itu masih dalam range yang acceptable,” tegas Rosan.

Selain itu, Rosan menampik pertumbuhan investasi asing melambat sepanjang 2025. Berdasarkan data, realisasi investasi di tahun lalu mencapai Rp900,9 triliun. Angka tersebut tumbuh sekitar 0,1 persen secara tahunan.

Rosan menjelaskan porsi investasi asing turun menjadi 46,6 persen bukan karena minat investor yang melambat. Tetapi pertumbuhan investasi dalam negeri yang menguat pesat menjadi 53,4 persen.

“Sebetulnya bukan PMA-nya yang melambat kalau saya melihatnya, dalam negerinya yang lebih cepat,” ujarnya.

Kata Rosan, kehadiran Danantara Indonesia juga menjadi faktor yang penggerak realisasi PMDN sepanjang 2025.

Dia juga meyakini akan membuat porsi investasi asing pada 2026 semakin tergerus.

“Saya yakin sekali bahwa memang akan kenaikan di dalam negerinya, terutama karena faktor danantara itu akan cukup signifikan, sehingga kenaikan secara persentase itu dalam negerinya akan meningkat lebih banyak daripada luar negerinya,” ucap Rosan.