Bagikan:

JAKARTA - Pemerintah terus memperkuat kebijakan ekonomi nasional untuk memastikan stabilitas dan mendorong peningkatan kualitas pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Beragam tantangan eksternal, seperti fragmentasi perdagangan internasional dan perlambatan ekonomi dunia, menuntut kebijakan yang responsif, konsisten, serta berpandangan jangka menengah dan panjang agar laju pertumbuhan ekonomi nasional tetap berkelanjutan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa meskipun tekanan global meningkat akibat perlambatan ekonomi dan ketegangan geopolitik, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan daya tahan yang kuat dengan risiko resesi yang relatif rendah.

“Saya rasa di tengah ketidakpastian global yang berasal dari perlambatan ekonomi dan peningkatan tensi geopolitik, ekonomi Indonesia tetap resilien dengan tingkat risiko resesi relatif rendah, berdasarkan Bloomberg, dibandingkan dengan AS, China, dan Jepang,” ujarnya dalam keterangannya, Kamis, 15 Januari.

Airlangga menjelaskan bahwa selama tujuh tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia secara konsisten berada di kisaran 5 persen, yang mencerminkan akumulasi pertumbuhan sekitar 35 persen dan stabilitas makroekonomi juga tetap terjaga, tercermin dari inflasi Desember 2025 yang berada pada level 2,92 persen.

Ia menambahkan kinerja pasar keuangan menunjukkan perkembangan positif, ditandai dengan indeks saham yang terus mencatatkan rekor, stabilitas nilai tukar rupiah, serta aktivitas sektor riil yang tetap ekspansif, hal ini terlihat dari PMI manufaktur yang berada di level 51,2 dan meningkatnya indeks kepercayaan konsumen hingga 123,5.

Sementara dari sisi eksternal, posisi Indonesia tetap kuat dengan surplus neraca perdagangan dan cadangan devisa sebesar 156,1 miliar dolar AS.

Airlangga menambahkan dari aspek pembiayaan dan investasi, pertumbuhan kredit perbankan terjaga mendekati 8 persen, sementara arus investasi asing langsung (FDI) terus meningkat.

Menurtnya kondisi ini mencerminkan tingginya kepercayaan global terhadap stabilitas ekonomi nasional serta prospek pertumbuhan jangka panjang Indonesia.

Airlangga juga menegaskan bahwa APBN tetap berperan sebagai instrumen kebijakan fiskal yang kredibel dan dikelola secara hati-hati dimana defisit APBN 2025 dijaga tetap di bawah 3 persen dengan rasio utang yang terkendali.

"Pemerintah juga telah menyiapkan paket stimulus ekonomi sepanjang 2025 dengan nilai total Rp110,7 triliun untuk menjaga daya beli masyarakat dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional," jelasnya.

Dia menyampaikan, memasuki 2026, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,4 persen yang didorong oleh penguatan sektor riil, implementasi paket kebijakan ekonomi, serta pelaksanaan delapan program prioritas nasional.

Airlangga menekankan bahwa fokus diarahkan pada penguatan ketahanan pangan dan energi, serta pemberdayaan UMKM yang diharapkan mampu menciptakan jutaan lapangan kerja baru setiap tahun.

Selain itu, Airlangga menyampaikan bahwa APBN juga difokuskan untuk pengembangan sumber daya manusia melalui sektor pendidikan, perlindungan sosial, dan peningkatan keterampilan tenaga kerja.

Dia menambahkan, dengan berbagai program peningkatan produktivitas disiapkan, antara lain program magang bagi lulusan baru, pelatihan tenaga kerja, serta fasilitasi penempatan tenaga kerja ke luar negeri di sektor-sektor strategis.

Menurutnya, seiring percepatan transformasi digital, Indonesia turut mendorong penguatan ekonomi digital di kawasan melalui inisiatif ASEAN Digital Economy Framework Agreement.

"Pemerintah memperluas sistem pembayaran digital QRIS secara regional dan internasional sebagai bagian dari upaya memperkuat inklusi keuangan dan literasi digital masyarakat," jelasnya.

Di sisi lain, Airlangga menyampaikan, upaya perbaikan iklim investasi terus dilakukan melalui penyederhanaan regulasi dan percepatan pelaksanaan program strategis nasional.

Menurut dia, sektor-sektor padat karya seperti tekstil, elektronik, dan manufaktur berorientasi ekspor menjadi perhatian utama untuk menjaga daya saing serta melindungi jutaan tenaga kerja di tengah dinamika perdagangan global.

Selain itu, Airlangga mengajak para pelaku usaha dan pemangku kepentingan untuk tetap optimistis terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Dengan fundamental ekonomi yang solid, kebijakan fiskal yang prudent serta agenda reformasi struktural yang berkelanjutan, kata Airlangga, Indonesia diyakini mampu menjaga stabilitas sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi ke depan.

“Jadi, menghadapi periode mendatang, saya pikir kita harus optimis, akan ada banyak berita baik. Dan saya yakin, tren global, termasuk IMF, juga optimis pada ekonomi Indonesia,” pungkasnya.