Bagikan:

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa nilai ekspor Indonesia pada November 2025 mencapai 22,52 miliar. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 6,60 persen secara tahunan (YoY) dibandingkan dengan November 2024 sebesar 24,11 miliar dolar AS.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa di Badan Pusat Statistik BPS Pudji Ismartini menjelaskan bahwa penurunan tersebut terjadi pada ekspor minyak dan gas (migas) maupun nonmigas.

Ekspor migas tercatat senilai 0,88 miliar dolar AS atau turun 32,88 persen (yoy) jika dibandingkan dengan November 2024 sebesar 1,31 miliar dolar AS.

Sementara itu, ekspor nonmigas mencapai 21,64 miliar dolar AS, turun 5,09 persen (YoY) dengan periode yang sama pada tahun 2024 sebesar 22,80 miliar dolar AS.

“Penurunan nilai ekspor pada November 2025 secara tahunan terutama didorong oleh penurunan nilai ekspor non migas pada komoditas bahan bakar mineral atau HS 27 yang turun 18,89 persen dengan andil -2,77 persen, lemak dan minyak hewani atau nabati atau HS 15 turun 18,81 persen dengan andil -2,12 persen, serta besi dan baja atau HS 72 turun 17,14 persen dengan andil -1,71 persen,” tuturnya dalam konferensi pers, Senin, 5 Januari.

Selanjutnya, total ekspor Indonesia selama periode Januari hingga November 2025 mencapai 256,56 miliar dolar AS, atau tumbuh 5,61 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 242,93 miliar dolar AS.

Ia menyampaikan bahwa ekspor minyak dan gas (migas) selama periode tersebut tercatat sebesar 11,81 miliar dolar AS, atau mengalami penurunan sebesar 17,64 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 14,34 miliar dolar AS.

Sementara itu, ekspor nonmigas meningkat 7,07 persen dengan nilai mencapai 244,75 miliar dolar AS, jika jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 228,59 miliar dolar AS.

"Jika dilihat menurut sektor, peningkatan nilai ekspor nonmigas secara kumulatif terjadi di sektor industri pengolahan dan sektor pertanian," ujarnya.

Pudji menambahkan bahwa sektor industri pengolahan memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekspor nonmigas pada periode Januari hingga November 2025 dengan andil sebesar 14 persen.

Ia menyampaikan beberapa komoditas dari sektor ini yang mencatatkan pertumbuhan ekspor signifikan antara lain adalah minyak kelapa sawit, barang perhiasan dan barang berharga, kimia dasar organik yang bersumber hasil pertanian, logam dasar bukan besi, serta semikonduktor dan komponen elektronik lainnya.

"Jika dilihat menurut negara dan kawasan tujuan utama negara ekspor, nilai ekspor non migas ke Tiongkok tercatat 58,24 miliar dolar as atau naik 6,42 persen dibandingkan periode Januari-Agustus 2024," jelasnya.

Ia menyampaikan secara kumulatif, ekspor nonmigas ke Amerika Serikat, negara-negara ASEAN, dan Uni Eropa juga mencatatkan peningkatan, sementara ekspor ke India justru mengalami penurunan.