JAKARTA – Ekspor magnet tanah jarang dari China ke Amerika Serikat mengalami penurunan signifikan pada November lalu.
Berdasarkan data bea cukai China, dilansir dari Bloomberg, Sabtu, 20 Desember, pengiriman magnet tersebut hanya mencapai sekitar 582 ton, turun 11 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang sebanyak 656 ton.
Penurunan ini menjadi sorotan di tengah hubungan perdagangan kedua negara raksasa ekonomi dunia yang masih tegang.
Penurunan ekspor ini terjadi meskipun ada gencatan senjata perdagangan sementara antara China dan AS.
Para analis menilai, tidak ada tanda-tanda pemulihan cepat dalam pengiriman barang strategis ini. Magnet tanah jarang merupakan komponen kunci dalam berbagai industri teknologi tinggi, seperti kendaraan listrik, turbin angin, dan peralatan militer, sehingga fluktuasi ekspornya selalu mendapat perhatian global.
BACA JUGA:
Data terpisah menunjukkan bahwa penjualan keseluruhan produk tanah jarang China justru mengalami pertumbuhan dari bulan ke bulan. Namun, kategori magnet yang mendominasi tetap menunjukkan tren penurunan khusus ke pasar AS. Hal ini mencerminkan dinamika perdagangan yang kompleks, di mana China sebagai produsen dominan dunia terus memegang kendali atas pasokan bahan langka tersebut.
Situasi ini berpotensi memengaruhi rantai pasok global dan mendorong negara-negara seperti AS untuk mempercepat diversifikasi sumber tanah jarang. Pengamat ekonomi memprediksi, ketegangan perdagangan lanjutan bisa membuat harga magnet tanah jarang semakin fluktuatif di pasar internasional pada tahun mendatang.