Bagikan:

JAKARTA – Perubahan iklim dinilai memperparah banjir besar yang menewaskan lebih dari 1.600 orang di sejumlah wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara. Kesimpulan tersebut disampaikan dalam riset terbaru yang meneliti rangkaian badai tropis dan curah hujan ekstrem yang melanda kawasan tersebut pada November 2025.

Dikutip dari Japan Times, Sabtu 13 Desember, dalam periode tersebut sedikitnya tiga siklon tropis menghantam wilayah luas mulai dari Sri Lanka hingga Indonesia. Bencana itu menyebabkan kerugian ekonomi yang diperkirakan mencapai sedikitnya 20 miliar dolar AS atau sekitar Rp330,7 triliun. Hujan deras berkepanjangan dan banjir bandang menghancurkan permukiman warga, tempat usaha, kawasan wisata, serta infrastruktur vital.

Banjir juga merusak jaringan jalan dan rel kereta api, menghancurkan lahan pertanian, serta melumpuhkan aktivitas industri. Sejumlah daerah dilaporkan lumpuh total akibat genangan air tinggi dan arus deras yang sulit dikendalikan.

Para ilmuwan mencatat suhu permukaan Samudra Hindia yang lebih hangat sekitar 0,2 derajat Celsius di atas rata-rata musiman jangka panjang menjadi salah satu faktor utama yang memperkuat badai. Kondisi ini diduga memberi tambahan panas dan uap air yang memperbesar kekuatan Siklon Ditwah dan Siklon Senyar, dua badai paling dahsyat dalam rangkaian tersebut.

Dalam analisis cepat World Weather Attribution yang dirilis Kamis 11 Desember 2025, para peneliti menjelaskan bahwa tanpa pemanasan global akibat aktivitas manusia, suhu laut kemungkinan sekitar 1 derajat Celsius lebih rendah. Mereka juga menemukan bahwa perubahan iklim meningkatkan intensitas periode hujan ekstrem selama rangkaian badai itu berlangsung.

Dampak tersebut diperparah oleh faktor lain, seperti siklus cuaca musiman dan waktu kedatangan badai yang bertepatan dengan musim monsun. Urbanisasi cepat dan deforestasi luas di sejumlah wilayah turut memperburuk situasi karena mengurangi kemampuan tanah menyerap air hujan.

“Selama musim monsun, banjir memang sudah biasa terjadi, tetapi biasanya hanya setinggi sekitar satu hingga dua kaki,” kata Lalith Rajapakse dari University of Moratuwa, Sri Lanka. “Di beberapa wilayah, ketinggian air bahkan mencapai 14 hingga 15 kaki,” ujarnya.

Meski demikian, tim peneliti belum dapat memastikan secara pasti seberapa besar kontribusi perubahan iklim terhadap peningkatan curah hujan dari dua siklon tersebut. Model iklim utama menunjukkan hasil yang belum konsisten, diduga karena kesulitan menangkap dinamika regional dan pengaruh pola global seperti La Nina, menurut salah satu penulis riset, Mariam Zachariah dari Imperial College London.

Matt Sechovsky, Kepala Riset ESG Negara di BMI, unit Fitch Solutions, menilai cuaca ekstrem Asia pada November lalu sebagai peristiwa yang luar biasa. Ia menyebut tidak mengherankan jika model iklim saat ini belum sepenuhnya mampu menjelaskannya, mengingat banyak model cenderung meremehkan laju perubahan iklim sejak sekitar 2022.

Ketidakpastian ini juga berdampak pada sektor ekonomi dan keuangan. Frederic Neumann, Kepala Ekonom Asia di HSBC Holdings, mengatakan banyak perusahaan asuransi dan lembaga keuangan menggunakan model iklim sebagai dasar penilaian risiko, sehingga ketidakakuratan model dapat memperbesar tantangan ekonomi di kawasan yang semakin sering dilanda cuaca ekstrem.

“Meski sulit mengukur secara pasti dampaknya terhadap pertumbuhan dan mata pencaharian, jelas kondisi ini menjadi beban bagi aktivitas ekonomi dan masyarakat,” ujarnya.

Penelitian lain turut menemukan indikasi pengaruh perubahan iklim dalam banjir yang melanda Indonesia pada November lalu. Kelompok atribusi iklim ClimaMeter dari Institut Pierre-Simon Laplace, Prancis, memperkirakan kondisi meteorologi saat itu meningkatkan curah hujan harian hingga 7 milimeter atau sekitar 15 persen lebih tinggi dibandingkan kondisi masa lalu.

Namun, ClimaMeter mengingatkan tingkat kepercayaan temuan tersebut masih rendah karena kejadian serupa jarang terjadi dan tidak selalu tercatat dalam data historis. Mereka menyimpulkan bahwa variabilitas iklim alami, termasuk La Nina yang cenderung membawa kondisi lebih basah, kemungkinan hanya berperan kecil.

Sejumlah riset sebelumnya juga menunjukkan peningkatan intensitas hujan ekstrem di Asia Tenggara dalam beberapa dekade terakhir. Para ilmuwan menilai temuan ini menjadi sinyal kuat bahwa dampak perubahan iklim di kawasan tersebut semakin nyata dan tidak lagi dapat diabaikan.