YOGYAKARTA - Meningkatkan kualitas hidup bangsa adalah fokus utama. Untuk mencapai level negara maju, suatu negara perlu memahami apa saja faktor penting untuk menaikkan IPM Indonesia secara menyeluruh dan terpadu.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah cerminan kemajuan suatu negara. Mari kita telaah lebih dalam lima pilar strategis yang dapat mengakselerasi peningkatan IPM Indonesia menuju status bangsa yang berdaya saing global.
Memahami Indeks Pembangunan Manusia
Meningkatkan kualitas hidup bangsa adalah fokus utama. Untuk mencapai level negara maju, kita perlu memahami apa saja faktor penting untuk menaikkan IPM Indonesia secara menyeluruh dan terpadu.
Dilansir VOI dari Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 19 No. 04 Tahun 2019, IPM sendiri merupakan tolak ukur kemajuan suatu negara, atau yang dikenal juga sebagai Human Development Index (HDI).
IPM merupakan indikator komposit tunggal yang dikeluarkan oleh UNDP untuk mengukur keberhasilan pembangunan manusia. Konsep ini menggabungkan tiga pilar utama: indeks harapan hidup, indeks pendidikan, dan indeks daya beli.
Menurut Todaro, tujuan pembangunan manusia bahkan meluas pada aspek kecukupan (kebutuhan dasar), jati diri (self-esteem), dan kebebasan dari sikap menghamba.
BACA JUGA:
5 Faktor Penting untuk Menaikkan IPM Indonesia
Faktanya, nilai IPM yang tinggi selalu menandakan keberhasilan pembangunan ekonomi suatu negara. Berikut adalah lima faktor krusial yang harus segera diatasi:
-
Pilar Kesehatan
Faktor pertama diukur melalui Angka Harapan Hidup pada Waktu Lahir. Untuk menaikkan IPM, Indonesia wajib fokus pada kesehatan preventif. Ini meliputi penanggulangan masalah stunting sejak dini, menjamin ketersediaan air bersih dan sanitasi layak, serta pemerataan akses terhadap layanan kesehatan primer, terutama di daerah terpencil. Kesehatan yang prima adalah fondasi agar penduduk dapat produktif lebih lama.
-
Pilar Pendidikan
Indikator pendidikan tidak hanya dilihat dari kuantitas (Rata-rata Lama Sekolah), tetapi juga kualitas yang diukur melalui Angka Melek Huruf.
Faktor penting untuk menaikkan IPM Indonesia pada pilar ini adalah peningkatan kompetensi guru dan penyesuaian kurikulum.
Selain itu, pendidikan juga harus menghasilkan lulusan yang tidak hanya berijazah, tetapi juga memiliki keterampilan yang relevan dengan tuntutan industri 4.0.
Baca juga artikel yang membahas Jangan Salah Pilih! Ini Urutan Akreditasi Universitas Terbaru yang Sering Dikira Sama
-
Pilar Standar Hidup
Standar hidup diukur melalui Kemampuan Daya Beli (purchasing power parity). Kunci peningkatannya adalah mendongkrak Pendapatan Nasional Bruto (PNB) per kapita yang merata.
Upaya penciptaan lapangan kerja yang berkualitas, penguatan sektor UMKM, dan pemberian perlindungan sosial adalah langkah strategis untuk memastikan setiap warga negara memiliki daya beli yang memadai.
-
Infrastruktur dan Pertumbuhan Ekonomi sebagai Katalis
Nilai IPM sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur karena kedua hal ini menentukan ketersediaan kesempatan kerja.
Selain itu, pembangunan infrastruktur fisik yang menghubungkan pusat dan daerah harus diimbangi dengan pemerataan infrastruktur digital. Konektivitas digital yang merata akan mempercepat akses ke pendidikan, layanan kesehatan, dan membuka peluang ekonomi baru.
-
Keberhasilan Tata Kelola Pemerintahan dan Kebijakan Publik
Pada akhirnya, tiga dimensi IPM dan dua faktor pendukung di atas sangat bergantung pada kebijakan pemerintah. IPM akan meningkat apabila terdapat efisiensi dalam tata kelola pemerintahan.
Kemudian kebijakan publik yang transparan dan anti-korupsi memastikan bahwa anggaran pembangunan benar-benar tepat sasaran untuk meningkatkan harapan hidup, kualitas pendidikan, dan daya beli masyarakat.
Dengan demikian, peningkatan IPM (kesehatan, pendidikan, daya beli) dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti pertumbuhan ekonomi, infrastruktur, dan kebijakan pemerintah yang semua indikatornya saling memengaruhi.
Lima faktor penting untuk menaikkan IPM Indonesia ini membutuhkan sinergi kuat dari seluruh elemen bangsa agar Indonesia dapat benar-benar keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.